Sabtu, 14 Februari 2026

Nature vs Nurture: Debat antara Skinner (Perilaku) dan Chomsky (Biologis)

Nature vs Nurture: Debat antara Skinner (Perilaku) dan Chomsky (Biologis)

Pendahuluan

Nature vs Nurture:


Salah satu perdebatan paling berpengaruh dalam sejarah linguistik dan psikologi adalah perdebatan antara pendekatan nature (bawaan biologis) dan nurture (lingkungan/pembelajaran) dalam menjelaskan pemerolehan bahasa manusia. Apakah bahasa diperoleh semata-mata melalui proses belajar dari lingkungan, ataukah manusia memiliki perangkat biologis bawaan yang secara khusus dirancang untuk bahasa?

Perdebatan ini mencapai puncaknya pada pertengahan abad ke-20 melalui dua tokoh besar: B. F. Skinner, pelopor behaviorisme, dan Noam Chomsky, penggagas linguistik generatif. Skinner berargumen bahwa bahasa dipelajari melalui mekanisme stimulus–respon dan penguatan. Sebaliknya, Chomsky menegaskan bahwa bahasa bersifat bawaan secara biologis dan manusia dilengkapi dengan perangkat khusus untuk mempelajari bahasa.

Artikel ini membahas secara komprehensif akar teoretis kedua pendekatan, argumen utama masing-masing tokoh, kritik yang muncul, serta implikasi debat ini terhadap studi linguistik dan pendidikan bahasa.

 

Skinner dan Pendekatan Behaviorisme (Nurture)

Dasar Teoretis Behaviorisme

Behaviorisme berkembang dalam psikologi awal abad ke-20 sebagai reaksi terhadap pendekatan introspektif yang dianggap tidak ilmiah. Skinner, sebagai tokoh utama behaviorisme radikal, berpendapat bahwa perilaku manusia — termasuk bahasa — dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip pengkondisian operan (operant conditioning) (Skinner, 1957).

Dalam pandangan ini:

·         Perilaku dibentuk oleh stimulus dari lingkungan.

·         Respon yang diperkuat (diberi reward) akan cenderung diulang.

·         Bahasa bukan sistem mental internal, melainkan perilaku verbal yang dipelajari.

Bahasa sebagai Perilaku Verbal

Dalam bukunya Verbal Behavior (1957), Skinner menjelaskan bahwa bahasa berkembang melalui:

1.      Imitasi – Anak meniru ujaran orang dewasa.

2.      Penguatan (reinforcement) – Ketika ujaran anak benar atau mendekati benar, orang tua memberikan respons positif.

3.      Pengulangan dan pembiasaan – Pola bahasa diperkuat melalui latihan berulang.

Contoh sederhana:
Seorang anak mengatakan “ma-ma”. Orang tua tersenyum dan merespons secara positif. Respon ini memperkuat perilaku verbal tersebut sehingga anak mengulanginya.

Menurut Skinner, seluruh sistem bahasa — termasuk tata bahasa — dapat dijelaskan melalui rantai perilaku yang diperkuat secara bertahap.

Kekuatan Pendekatan Skinner

Pendekatan ini memiliki beberapa kelebihan:

·         Menekankan pentingnya lingkungan sosial.

·         Memberikan model yang dapat diuji secara empiris.

·         Berpengaruh besar dalam metode pembelajaran bahasa berbasis pengulangan dan latihan (drill).

Namun, pendekatan ini menghadapi kritik serius, terutama dari Chomsky.

 

Chomsky dan Pendekatan Nativisme (Nature)

Kritik terhadap Skinner

Pada tahun 1959, Chomsky menulis ulasan kritis terhadap buku Verbal Behavior karya Skinner. Dalam kritik tersebut, Chomsky menyatakan bahwa teori behaviorisme tidak mampu menjelaskan kreativitas bahasa manusia (Chomsky, 1959).

Beberapa kritik utama Chomsky:

1.      Bahasa bersifat kreatif dan produktif
Manusia mampu menghasilkan kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

2.      Kemiskinan rangsangan (poverty of the stimulus)
Input bahasa yang diterima anak terbatas dan sering tidak sempurna, tetapi anak tetap dapat membentuk tata bahasa kompleks.

3.      Kesalahan sistematis anak
Anak menghasilkan bentuk seperti “goed” alih-alih “went”. Ini menunjukkan bahwa mereka membangun aturan, bukan sekadar meniru.

Language Acquisition Device (LAD)

Chomsky mengajukan gagasan bahwa manusia memiliki perangkat bawaan yang disebut Language Acquisition Device (LAD), yaitu mekanisme mental yang memungkinkan anak mempelajari bahasa secara alami (Chomsky, 1965).

Menurut pendekatan ini:

·         Bahasa adalah bagian dari struktur biologis manusia.

·         Semua bahasa memiliki prinsip universal yang sama (Universal Grammar).

·         Otak manusia secara genetik diprogram untuk mengenali struktur bahasa.

Universal Grammar

Chomsky juga mengembangkan konsep Universal Grammar (UG), yakni seperangkat prinsip dasar yang berlaku pada semua bahasa manusia. Perbedaan antarbahasa hanya terletak pada parameter tertentu.

Pendekatan ini memandang bahasa sebagai sistem kognitif yang kompleks dan unik pada manusia.

 

Perbandingan Konseptual: Skinner vs Chomsky

Aspek

Skinner (Nurture)

Chomsky (Nature)

Dasar Teoretis

Behaviorisme

Nativisme

Peran Lingkungan

Dominan

Penting tetapi bukan utama

Peran Biologi

Minimal

Sentral

Mekanisme Belajar

Penguatan dan imitasi

Perangkat bawaan (LAD)

Kreativitas Bahasa

Hasil pembiasaan

Bukti struktur mental internal

Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan metode, tetapi perbedaan paradigma tentang hakikat manusia dan bahasa.

Dampak Debat terhadap Linguistik dan Psikologi

1. Revolusi Kognitif

Kritik Chomsky terhadap behaviorisme dianggap sebagai salah satu pemicu revolusi kognitif dalam psikologi. Fokus penelitian bergeser dari perilaku yang dapat diamati ke proses mental internal.

2. Perkembangan Linguistik Generatif

Teori Chomsky melahirkan tradisi linguistik generatif yang menekankan analisis struktur sintaksis dan representasi mental bahasa.

3. Implikasi dalam Pendidikan Bahasa

Pendekatan behavioris memengaruhi metode pembelajaran berbasis latihan dan pengulangan (misalnya metode audiolingual).

Sebaliknya, pendekatan nativis mendorong pemahaman bahwa anak secara alami siap untuk bahasa dan membutuhkan input bermakna, bukan sekadar pengulangan mekanis.

Kritik terhadap Kedua Pendekatan

Meskipun berpengaruh, kedua teori ini tidak lepas dari kritik.

Kritik terhadap Skinner

·         Tidak mampu menjelaskan kreativitas bahasa.

·         Mengabaikan struktur internal tata bahasa.

·         Tidak cukup menjelaskan pemerolehan cepat pada anak.

Kritik terhadap Chomsky

·         Konsep LAD sulit diuji secara langsung.

·         Universal Grammar dianggap terlalu abstrak.

·         Kurang memperhatikan variasi sosial dan budaya.

Pendekatan Interaksionis: Jalan Tengah?

Sebagai respons terhadap dikotomi nature vs nurture, muncul pendekatan interaksionis yang menekankan bahwa pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara faktor biologis dan lingkungan sosial (Bruner, 1983).

Pendekatan ini mengakui:

·         Ada kapasitas biologis bawaan.

·         Lingkungan sosial menyediakan konteks dan input.

·         Interaksi orang tua–anak berperan besar.

Dengan demikian, perdebatan nature vs nurture tidak lagi dipandang sebagai pilihan “salah satu”, melainkan sebagai spektrum yang saling melengkapi.

 

Perspektif Modern dalam Ilmu Bahasa

Penelitian neurolinguistik menunjukkan bahwa:

·         Otak memiliki area khusus untuk bahasa.

·         Paparan lingkungan memengaruhi perkembangan jaringan neural.

·         Pembelajaran bahasa melibatkan interaksi kompleks antara gen dan pengalaman.

Pendekatan kontemporer dalam linguistik dan psikologi perkembangan cenderung melihat bahasa sebagai hasil koordinasi antara predisposisi biologis dan pengalaman sosial.

 

Kesimpulan

Perdebatan antara Skinner dan Chomsky mengenai nature vs nurture dalam pemerolehan bahasa merupakan salah satu momen paling penting dalam sejarah linguistik modern.

Skinner menekankan bahwa bahasa adalah perilaku yang dipelajari melalui penguatan lingkungan. Chomsky, sebaliknya, berargumen bahwa bahasa adalah kapasitas bawaan biologis yang unik pada manusia.

Walaupun kedua pendekatan memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pemerolehan bahasa kemungkinan besar merupakan hasil interaksi antara faktor biologis dan lingkungan.

Dengan memahami debat ini, kita tidak hanya memahami teori bahasa, tetapi juga memperoleh wawasan lebih dalam tentang hakikat manusia sebagai makhluk berbahasa.

 

Referensi

Bruner, J. (1983). Child’s talk: Learning to use language. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1959). Review of B. F. Skinner’s Verbal behavior. Language, 35(1), 26–58.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Skinner, B. F. (1957). Verbal behavior. Appleton-Century-Crofts.

 


 

 

 

 

 

Jumat, 13 Februari 2026

Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak: Dari Babbling hingga Kalimat Sempurna

Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak: Dari Babbling hingga Kalimat Sempurna

Pendahuluan

Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak


Bahasa merupakan salah satu kemampuan paling menakjubkan dalam perkembangan manusia. Dalam rentang waktu hanya beberapa tahun, seorang anak berkembang dari sekadar mengeluarkan suara tangisan menjadi individu yang mampu menyusun kalimat kompleks, mengungkapkan pikiran abstrak, serta memahami struktur tata bahasa yang rumit. Proses ini disebut pemerolehan bahasa anak (child language acquisition).

Pertanyaannya adalah: bagaimana proses ini terjadi? Apakah anak belajar bahasa melalui peniruan semata? Apakah mereka diajarkan secara eksplisit? Ataukah terdapat mekanisme biologis bawaan yang memungkinkan perkembangan bahasa berlangsung secara sistematis?

Artikel ini membahas secara komprehensif tahapan pemerolehan bahasa anak — mulai dari fase pralinguistik seperti babbling, tahap satu kata (holophrastic stage), dua kata (two-word stage), hingga kemampuan membentuk kalimat kompleks. Pembahasan ini juga akan dikaitkan dengan teori-teori linguistik dan psikologi perkembangan yang relevan.

Hakikat Pemerolehan Bahasa Anak

Pemerolehan bahasa berbeda dengan pembelajaran bahasa formal. Pemerolehan bahasa pertama (L1 acquisition) terjadi secara alami, tanpa instruksi tata bahasa eksplisit, dan berlangsung dalam interaksi sosial sehari-hari (Clark, 2009).

Penelitian menunjukkan bahwa proses ini bersifat:

·         Universal (terjadi pada semua anak normal di berbagai budaya),

·         Sistematis (mengikuti pola perkembangan yang relatif konsisten),

·         Kreatif (anak mampu menghasilkan kalimat baru yang belum pernah mereka dengar).

Menurut teori nativis yang dipopulerkan oleh Noam Chomsky, manusia dilahirkan dengan perangkat bawaan untuk bahasa yang memungkinkan anak menyerap struktur linguistik dari input yang terbatas (Chomsky, 1965). Namun, teori interaksionis menekankan pentingnya lingkungan sosial dalam perkembangan tersebut (Bruner, 1983).

Dengan memahami kerangka ini, kita dapat menelusuri tahapan pemerolehan bahasa secara lebih terstruktur.

Tahapan Pemerolehan Bahasa Anak

1. Tahap Pralinguistik (0–12 Bulan)

Tahap ini disebut pralinguistik karena anak belum menghasilkan kata yang bermakna secara leksikal, tetapi telah menunjukkan perkembangan fonologis yang penting.

a. Tangisan dan Refleks Vokal (0–2 bulan)

Sejak lahir, bayi berkomunikasi melalui tangisan. Meskipun tampak sederhana, tangisan memiliki fungsi komunikatif yang jelas (lapar, tidak nyaman, sakit). Pada tahap ini, produksi suara masih bersifat refleks.

b. Cooing (2–4 bulan)

Bayi mulai menghasilkan suara vokal seperti “ooo” atau “aaa”. Fase ini menunjukkan bahwa bayi mulai bereksperimen dengan alat ucap mereka.

c. Babbling (6–10 bulan)

Tahap babbling merupakan fase penting dalam perkembangan fonologi. Bayi mulai menghasilkan suku kata berulang seperti “bababa” atau “mamama”. Menariknya, bayi di seluruh dunia menunjukkan pola babbling yang relatif sama pada awalnya.

Menjelang akhir tahun pertama, babbling mulai mencerminkan pola fonologi bahasa lingkungan. Misalnya, bayi yang terpapar bahasa Indonesia akan mulai menunjukkan ritme dan pola intonasi khas bahasa tersebut (Kuhl, 2004).

Tahap ini menunjukkan bahwa sistem fonologis anak berkembang sebelum kosakata muncul.

2. Tahap Satu Kata (Holophrastic Stage) (12–18 Bulan)

Sekitar usia satu tahun, anak mulai mengucapkan kata pertama yang bermakna. Tahap ini disebut tahap holophrastic karena satu kata dapat mewakili satu kalimat penuh.

Contoh:

·         “Mama” → Bisa berarti “Mama datang ke sini.”

·         “Susu” → Bisa berarti “Saya mau susu.”

Ciri-ciri tahap ini:

·         Kosakata masih terbatas (sekitar 10–50 kata),

·         Kata yang digunakan biasanya nomina (orang, benda, makanan),

·         Intonasi berperan penting dalam menyampaikan makna.

Fenomena menarik pada tahap ini adalah:

·         Overextension: Anak menggunakan satu kata untuk merujuk pada banyak objek (misalnya “kucing” untuk semua hewan berkaki empat).

·         Underextension: Anak menggunakan kata terlalu sempit (misalnya “botol” hanya untuk botol susu miliknya sendiri).

Menurut Clark (2009), kesalahan ini bukanlah tanda kebingungan, tetapi bukti bahwa anak sedang membangun sistem kategorisasi konseptual.

3. Tahap Dua Kata (Two-Word Stage) (18–24 Bulan)

Pada tahap ini, anak mulai menggabungkan dua kata menjadi struktur sederhana.

Contoh:

·         “Mama pergi”

·         “Mau susu”

·         “Kucing tidur”

Ciri utama tahap ini:

·         Tidak ada kata fungsi (seperti “yang”, “di”, “ke”),

·         Struktur menyerupai telegram, sehingga disebut telegraphic speech,

·         Urutan kata sudah menunjukkan aturan sintaksis dasar bahasa.

Menariknya, meskipun kalimat masih sederhana, urutan kata mengikuti pola tata bahasa bahasa ibu anak tersebut. Ini menunjukkan bahwa pemahaman sintaksis mulai terbentuk.

 

4. Tahap Kalimat Sederhana (2–3 Tahun)

Pada usia sekitar dua tahun, terjadi ledakan kosakata (vocabulary spurt). Anak dapat mempelajari beberapa kata baru setiap hari.

Ciri tahap ini:

·         Mulai menggunakan kata kerja dan kata sifat,

·         Menggunakan bentuk jamak dan imbuhan sederhana,

·         Muncul kesalahan gramatikal seperti overregularization.

Contoh overregularization:

·         “Pergi” menjadi “pergi-ed”

·         “Makan” menjadi “makankan”

Fenomena ini menunjukkan bahwa anak telah memahami pola aturan tata bahasa, tetapi belum sepenuhnya menguasai pengecualian (Berko, 1958).

Kesalahan semacam ini justru menjadi bukti bahwa anak tidak sekadar meniru, melainkan membangun sistem tata bahasa internal.

 

5. Tahap Kalimat Kompleks (3–5 Tahun)

Pada usia prasekolah, kemampuan bahasa anak berkembang pesat.

Ciri tahap ini:

·         Menggunakan kalimat majemuk,

·         Memahami konsep waktu (lampau, sekarang, akan datang),

·         Menggunakan kata hubung (karena, tetapi, jika),

·         Mampu bertanya dan menjawab pertanyaan kompleks.

Contoh:

·         “Aku tidak mau pergi karena hujan.”

·         “Kalau Mama datang, aku senang.”

Pada tahap ini, struktur sintaksis menjadi semakin mendekati struktur orang dewasa. Anak juga mulai memahami makna pragmatik — seperti kapan harus berbicara, bagaimana bergiliran dalam percakapan, dan bagaimana menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara.

Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa

1. Faktor Biologis

Penelitian menunjukkan bahwa perkembangan bahasa terkait erat dengan maturasi neurologis. Area otak seperti Broca dan Wernicke berperan penting dalam produksi dan pemahaman bahasa.

Hipotesis periode kritis menyatakan bahwa ada rentang usia optimal untuk pemerolehan bahasa (Lenneberg, 1967).

2. Faktor Lingkungan

Interaksi sosial sangat penting. Anak yang mendapatkan respons verbal aktif dari orang tua menunjukkan perkembangan kosakata yang lebih cepat (Bruner, 1983).

Kualitas input lebih penting daripada kuantitas semata. Percakapan dua arah lebih efektif dibandingkan paparan pasif seperti televisi.

3. Faktor Kognitif

Perkembangan bahasa berjalan seiring dengan perkembangan kognitif. Menurut teori Piaget, bahasa mencerminkan perkembangan konsep mental anak.

Apakah Semua Anak Mengikuti Tahapan yang Sama?

Secara umum, tahapan pemerolehan bahasa bersifat universal. Namun, kecepatan perkembangan dapat berbeda tergantung pada:

·         Paparan bahasa,

·         Status bilingual,

·         Kondisi neurologis,

·         Lingkungan sosial.

Anak bilingual mungkin menunjukkan distribusi kosakata yang berbeda, tetapi total kosakata gabungan biasanya setara dengan anak monolingual.

Kesimpulan

Pemerolehan bahasa anak merupakan proses kompleks yang melibatkan interaksi antara faktor biologis, kognitif, dan sosial. Dari tangisan pertama, fase babbling, tahap satu kata, dua kata, hingga kalimat kompleks, setiap tahap menunjukkan perkembangan sistem linguistik yang semakin matang.

Kesalahan-kesalahan yang muncul bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa anak sedang membangun sistem tata bahasa internal secara aktif dan kreatif.

Memahami tahapan ini penting bagi orang tua, pendidik, dan peneliti linguistik untuk mendukung perkembangan bahasa anak secara optimal. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi bagi perkembangan kognitif dan sosial manusia.

Referensi

Berko, J. (1958). The child’s learning of English morphology. Word, 14(2–3), 150–177.

Bruner, J. (1983). Child’s talk: Learning to use language. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Clark, E. V. (2009). First language acquisition (2nd ed.). Cambridge University Press.

Kuhl, P. K. (2004). Early language acquisition: Cracking the speech code. Nature Reviews Neuroscience, 5(11), 831–843.

Lenneberg, E. H. (1967). Biological foundations of language. Wiley.

 


 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...