Pendahuluan
Linguistik forensik, sebagai cabang ilmu yang menjembatani
bahasa dan hukum, memiliki perjalanan sejarah yang panjang namun baru diakui
sebagai disiplin ilmiah dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun akar penerapan
linguistik dalam ranah hukum dapat ditelusuri hingga ribuan tahun lalu, tonggak
kelahiran resmi bidang ini dimulai pada tahun 1968 dengan kasus Timothy John
Evans di Inggris. Artikel ini akan mengulas perjalanan sejarah linguistik
forensik dunia, mulai dari kasus Evans sebagai momentum awal, perkembangan
institusional, hingga transformasi besar di era digital yang mengubah wajah
disiplin ini secara fundamental.
Lahirnya Sebuah Disiplin: Kasus Evans (1968)
Istilah forensic linguistics pertama kali
digunakan oleh Jan Svartvik, seorang profesor linguistik asal Swedia, dalam
publikasinya yang berjudul The Evans Statements: A Case for Forensic
Linguistics pada tahun 1968 . Kasus ini bermula pada tahun 1949
ketika Timothy John Evans, seorang sopir truk asal London, dituduh membunuh
istrinya, Beryl Susan Evans, dan bayi perempuan mereka yang berusia 14 bulan.
Evans dinyatakan bersalah dan dihukum gantung pada tahun 1950 .
Svartvik ditugaskan untuk menganalisis empat dokumen
pernyataan tertulis yang diberikan Evans kepada polisi, yang diyakini berisi
pengakuan bersalah . Melalui analisis gramatikal yang cermat, Svartvik
menemukan fakta mengejutkan: bagian-bagian pernyataan yang berisi pengakuan
inkriminatif memiliki gaya gramatikal yang secara terukur berbeda dari bagian-bagian
lain yang tidak dipersengketakan . Analisis menunjukkan bahwa
pernyataan-pernyataan tersebut tidak sepenuhnya berasal dari Evans sendiri,
melainkan telah mengalami intervensi atau perubahan .
Temuan ini diajukan untuk penyelidikan publik, dan pada
tahun 1966, Evans secara anumerta diberikan pengampunan penuh (free pardon)
karena dinyatakan tidak bersalah . Kasus ini menjadi tonggak bersejarah
yang menunjukkan bagaimana analisis linguistik dapat mengungkap kebenaran di
balik kesaksian yang tampaknya meyakinkan sekalipun . Seperti yang
diungkapkan Coulthard (2010), Svartvik membuktikan bahwa bagian-bagian pernyataan
yang memberatkan memiliki frekuensi klausa dengan relator bergerak dan tautan
subjek elips yang jauh lebih tinggi daripada bagian lain .
Akar Historis Pra-1968
Meskipun istilah "linguistik forensik" baru muncul
pada 1968, penerapan analisis bahasa dalam konteks hukum sebenarnya telah
berlangsung jauh lebih awal . Coulthard et al. (2010) mencatat bahwa
Undang-Undang Pleading English Act pada tahun 1362, yang mewajibkan penggunaan
bahasa Inggris menggantikan bahasa Prancis sebagai bahasa resmi proses hukum di
Inggris, merupakan salah satu contoh intervensi linguistik dalam ranah
hukum .
Kontroversi kepengarangan naskah-naskah Shakespeare yang
berasal dari abad ke-18, ketika Pendeta James Wilmot mencurigai Francis Bacon
sebagai penulis sebenarnya, juga menjadi cikal bakal analisis kepengarangan
yang kini menjadi pilar linguistik forensik . Bahkan, para filsuf Yunani
Kuno disebut-sebut telah saling menuduh plagiarisme, menunjukkan bahwa isu
kepengarangan bukanlah fenomena modern .
Era Perintis: Svartvik dan Shuy
Setelah publikasi Svartvik, pertumbuhan awal bidang ini
relatif lambat . Pada periode 1970-an hingga 1980-an, hanya terdapat
artikel-artikel terisolasi dari para ahli bahasa terkemuka yang menganalisis
pengakuan yang dipersengketakan atau mengomentari keaslian rekaman
interaksi . Barulah pada periode 1980-an hingga 1990-an, linguistik mulai
merambah ke ranah hukum secara lebih sistematis .
Selain Svartvik, Roger W. Shuy dianggap sebagai pelopor lain
yang sangat berpengaruh . Selama kariernya sebagai profesor di Georgetown
University, Shuy bekerja sama dengan pengacara dan jaksa penuntut dengan
memberikan layanan konsultasi dan pengumpulan bukti linguistik, terutama dalam
analisis percakapan yang direkam (mencakup aspek persuasi, paksaan, pemerasan,
ancaman, penyalahgunaan, interogasi polisi, pengakuan, dan lainnya) serta
dokumen tertulis (laporan, kontrak, hak cipta) . Shuy juga berjasa dalam
meneliti penerimaan data linguistik dalam penggunaan hukum, yang meningkatkan
keandalan dan validitas bukti linguistik di pengadilan .
Institutionalization: Berdirinya Asosiasi dan Jurnal (1990-an)
Tahun 1990-an menjadi dekade penting bagi pengakuan dan
institusionalisasi linguistik forensik. Pada tahun 1991, International
Association for Forensic Phonetics and Acoustics (IAFPA) didirikan di
York, Inggris, sebagai asosiasi profesional utama untuk ilmuwan forensik yang
menganalisis suara, ucapan, dan rekaman audio .
Setahun kemudian, pada tahun 1992, International
Association of Forensic Linguists (IAFL) didirikan oleh Profesor
Malcolm Coulthard dalam sebuah konferensi di Inggris . IAFL resmi
diumumkan pada konferensi pertama di Bonn, Jerman, pada Juli 1993 .
Coulthard menjabat sebagai presiden pendiri hingga 1995 . Pada tahun 2021,
asosiasi ini berganti nama menjadi International Association for
Forensic and Legal Linguistics (IAFLL) untuk mencerminkan perbedaan
antara linguistik forensik dan linguistik hukum .
Pada tahun 1994, IAFL menerbitkan jurnal resminya, The
International Journal of Speech, Language and the Law (sebelumnya
bernama Forensic Linguistics) . Keberadaan asosiasi,
konferensi internasional, dan jurnal ilmiah menjadi tiga pilar utama yang
menandai pengakuan linguistik forensik sebagai disiplin ilmu yang mapan .
Perkembangan di Dunia Anglo-Saxon dan Amerika
Dunia Anglo-Saxon, khususnya Inggris dan Amerika Serikat,
menjadi pusat perkembangan linguistik forensik. Di Inggris, kebutuhan untuk
meregulasi bidang ini lebih besar, dan Universitas Aston serta Universitas
Cardiff menawarkan program magister spesialisasi . Aston Institute
for Forensic Linguistics menjadi salah satu pusat penelitian terkemuka
di dunia . Sementara itu, di Amerika Serikat, sistem hukum yang memberikan
peran arbitral kepada hakim dalam menilai bukti mendorong perkembangan analisis
bahasa peradilan dan pembuktian .
Daubert standard (1993), yang dikeluarkan oleh
Mahkamah Agung AS, menetapkan kriteria penerimaan kesaksian ahli, termasuk
pengujian teori, peer review, tingkat kesalahan, dan penerimaan
komunitas ilmiah . Standar ini menjadi tolok ukur penting bagi penerimaan
bukti linguistik di pengadilan Amerika . Meskipun fonetik forensik
mendapat pengakuan lebih besar dalam identifikasi pembicara, analisis
kepengarangan masih menghadapi tantangan dalam hal reliabilitas di mata
pengadilan .
Di Jerman, minat terhadap linguistik forensik muncul pada
akhir 1980-an, ketika kepolisian federal Jerman (Bundeskriminalamt) dan
kemudian Universitas Mannheim menyelenggarakan konferensi tentang disiplin
ini . Namun, seiring waktu, fokus di Jerman lebih banyak pada aspek
fonetik forensik dan penelitian akademis daripada penerapan praktis di
pengadilan .
Evolusi Metodologi: Dari Analisis Manual ke Pembelajaran Mesin
Perjalanan metodologi linguistik forensik mencerminkan
evolusi dari pendekatan manual yang subjektif menuju pendekatan komputasional
yang lebih objektif dan skalabel . Pada masa awal, analisis manual
mengandalkan keahlian dan pengalaman linguis dalam mengkaji sintaksis,
semantik, dan pragmatik secara mendetail. Namun, pendekatan ini memiliki
keterbatasan: subjektivitas tinggi, ketergantungan pada keahlian analis, dan
ketidakmampuan memproses data dalam volume besar .
Memasuki akhir abad ke-20, metode komputasional mulai diperkenalkan,
seperti analisis korpus dan computational stylometry yang
memungkinkan analisis data dalam skala besar . Perkembangan pembelajaran
mesin (machine learning) dan Natural Language Processing (NLP)
kemudian merevolusi bidang ini secara fundamental . Penelitian menunjukkan
bahwa algoritma pembelajaran mesin mampu meningkatkan akurasi atribusi
kepengarangan hingga 34% dibandingkan metode manual, sekaligus memproses
dataset besar dengan kecepatan yang tidak mungkin dicapai manusia .
Studi bibliometrik terhadap 492 dokumen terindeks Scopus
(1985–2025) menunjukkan bahwa topik penelitian berevolusi dari metode
tradisional menuju analisis digital, dengan NLP dan atribusi kepengarangan
menjadi pendorong utama yang membedakan metodologi manual dan berbasis
komputer . Secara geografis, penelitian masih terkonsentrasi di negara
maju seperti Inggris, Spanyol, dan AS .
Era Digital: Peluang dan Tantangan
Linguistik forensik saat ini berada pada persimpangan kritis
di era digital . Kebangkitan Kecerdasan Buatan (AI) dan Linguistik
Komputasional menghadirkan peluang transformatif sekaligus tantangan etis yang
kompleks . AI-driven tools seperti deep learning memperluas cakupan
linguistik forensik melampaui aplikasi tradisional seperti atribusi
kepengarangan dan deteksi penipuan, mencakup analisis emosi dalam konten
multimedia dan konstruksi identitas di ruang digital .
Namun, tantangan besar juga muncul: algorithmic bias atau
bias algoritma, kurangnya transparansi dalam pengambilan keputusan otomatis,
dan dominasi bahasa Inggris dalam penelitian komputasional forensik yang
mengabaikan bahasa-bahasa dengan sumber daya rendah (low-resource languages) .
Para ahli menekankan perlunya kerangka etis yang kuat, pengawasan manusia, dan
inklusivitas linguistik agar kemajuan teknologi tidak mengorbankan keadilan dan
akuntabilitas .
Studi Sirulhaq et al. (2026) mengungkap bahwa meskipun tren
penelitian linguistik forensik secara kuantitatif positif, terdapat kesenjangan
penelitian yang signifikan, terutama di negara berkembang, yang memerlukan
perhatian serius dari para ahli .
Kesimpulan
Perjalanan sejarah linguistik forensik dunia dimulai dari
analisis brilian Jan Svartvik atas pernyataan Timothy Evans pada tahun 1968,
yang membuktikan bahwa bahasa dapat menjadi alat pembongkar kebenaran di
pengadilan. Melalui kerja para perintis seperti Roger Shuy dan Malcolm
Coulthard, serta institusionalisasi melalui IAFL/IAFLL dan jurnal ilmiah,
disiplin ini berkembang dari sekadar analisis kasus individual menjadi cabang
ilmu yang diakui secara internasional.
Perkembangan teknologi dari analisis manual menuju metode
komputasional dan AI telah mengubah secara fundamental cara linguistik forensik
bekerja, memungkinkan analisis data berskala besar dengan presisi tinggi.
Namun, di era digital ini, bidang ini menghadapi tantangan baru: bias
algoritma, etika penggunaan AI, dan kesenjangan representasi bahasa. Sejarah
telah menunjukkan bahwa linguistik forensik mampu beradaptasi dan berkembang;
tantangan saat ini adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap sejalan
dengan prinsip keadilan dan akuntabilitas yang menjadi fondasi disiplin ini.
Daftar Pustaka
Coulthard, M., Johnson, A., & Wright, D. (2017). An
Introduction to Forensic Linguistics: Language in Evidence (2nd ed.).
Routledge.
Elyamany, N. (2025). Introduction to the special issue
Forensic Linguistics in the Digital Era: Where Do We Go from Here? Language
& Semiotic Studies, 11(4), 493.
Mani, R. T., Palimar, V., Pai, M. S., Shwetha, T. S., &
Krishnan, M. N. (2025). An evolution of forensic linguistics: From manual
analysis to machine learning – A narrative review. Forensic Science
International: Reports, 13, 100467.
Sirulhaq, A., Burhanuddin, Ufran, Muniroh, R. D. D., &
Sukma, B. P. (2026). Where do four decades of forensic linguistics go? A
systematic literature review and bibliometric analysis. ScienceDirect.
Svartvik, J. (1968). The Evans Statements: A Case
for Forensic Linguistics. Göteborg.
Vojinović-Kostić, J. (2020). Forensic linguistics and police
work. Eskup.kpu.edu.rs.