Minggu, 06 September 2026

Menganalisis Percakapan Rekaman Suara untuk Kepentingan Hukum

 

Praktik Analisis Linguistik Forensik


Keyword: analisis rekaman suara

Pendahuluan

Rekaman suara semakin sering menjadi bagian dari bukti dalam berbagai perkara hukum. Percakapan yang direkam melalui telepon, alat perekam digital, kamera pengawas, aplikasi pesan, atau perangkat elektronik lainnya dapat memuat informasi penting mengenai siapa yang berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana sesuatu dikatakan, dan dalam konteks apa tuturan tersebut berlangsung.

Dalam linguistik forensik, rekaman suara dapat dianalisis dari berbagai sudut. Salah satunya adalah forensik fonetik, yaitu penerapan ilmu fonetik untuk persoalan hukum, terutama ketika identitas penutur atau isi ujaran dipersoalkan. Jessen (2008) menjelaskan bahwa tugas utama forensik fonetik antara lain identifikasi atau perbandingan penutur, termasuk ketika tersedia rekaman suara dari seseorang yang diduga sebagai penutur.

Namun, analisis rekaman suara untuk kepentingan hukum tidak sesederhana “mendengarkan rekaman lalu menuliskan apa yang terdengar”. Proses tersebut memerlukan kehati-hatian karena rekaman dapat mengandung suara bising, tumpang tindih pembicaraan, kualitas audio rendah, aksen, dialek, atau bagian ujaran yang tidak terdengar jelas. Fraser (2017) bahkan menegaskan bahwa rekaman forensik yang tidak jelas dapat menimbulkan persoalan serius ketika transkrip digunakan sebagai bukti.

Karena itu, analisis rekaman suara harus dilakukan secara sistematis, transparan, dan tidak melampaui apa yang benar-benar dapat didukung oleh bukti linguistik.

 

A. Apa yang Dimaksud dengan Analisis Rekaman Suara?

Analisis rekaman suara adalah proses pemeriksaan terhadap data audio untuk memperoleh informasi linguistik dan fonetik yang relevan dengan suatu persoalan hukum.

Dalam praktik linguistik forensik, analisis dapat diarahkan pada beberapa pertanyaan, misalnya:

1.     Apa sebenarnya yang diucapkan dalam rekaman?

2.     Siapa saja yang berbicara?

3.     Bagaimana urutan percakapannya?

4.     Apakah terdapat bagian yang tidak terdengar jelas?

5.     Bagaimana pola jeda dan pergantian giliran bicara?

6.     Apakah terdapat karakteristik pengucapan tertentu?

7.     Apakah rekaman menunjukkan adanya perubahan atau penyamaran suara?

8.     Bagaimana sebuah ujaran harus dipahami berdasarkan konteks percakapan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa analisis rekaman suara dapat melibatkan fonetik, fonologi, pragmatik, analisis wacana, dan analisis percakapan.

Coulthard, Johnson, dan Wright (2017) menempatkan forensik fonetik, bahasa dalam proses hukum, wawancara polisi, dan peran linguist sebagai saksi ahli sebagai bagian penting dari kajian linguistik forensik.

 

B. Tahap Pertama: Memeriksa dan Menjaga Rekaman Asli

Sebelum melakukan analisis bahasa, langkah pertama adalah memastikan bahwa data audio yang digunakan merupakan rekaman yang relevan dan tersedia dalam bentuk yang dapat diperiksa.

Analis perlu memperhatikan:

  • sumber rekaman;
  • format file;
  • durasi;
  • kualitas suara;
  • jumlah penutur;
  • kondisi perekaman;
  • adanya suara latar;
  • bagian yang terpotong;
  • kemungkinan adanya manipulasi atau penyuntingan.

Tahap ini penting karena kualitas rekaman dapat memengaruhi hasil analisis.

Misalnya, rekaman percakapan berikut:

Penutur A: “Saya sudah bilang... [suara kendaraan] ...jangan lakukan itu.”

Jika bagian di antara “bilang” dan “jangan” tertutup suara kendaraan, analis tidak boleh begitu saja mengisi bagian yang tidak terdengar berdasarkan dugaan.

Prinsip dasarnya adalah:

Apa yang tidak dapat didengar atau diverifikasi tidak boleh diperlakukan sebagai fakta linguistik.

 

C. Tahap Kedua: Transkripsi Rekaman

Tahap paling penting dalam analisis rekaman suara adalah transkripsi.

Transkripsi merupakan proses mengubah ujaran lisan menjadi representasi tertulis. Namun, transkripsi forensik tidak selalu identik dengan transkripsi biasa.

Dalam percakapan sehari-hari, seseorang mungkin hanya menulis:

A: Saya tidak tahu.
B: Kamu tahu.

Namun, untuk kepentingan forensik, informasi seperti jeda, tumpang tindih, pengulangan, keraguan, dan bagian yang tidak terdengar dapat menjadi penting.

Misalnya:

A: Saya... saya tidak tahu.
B: Tapi kamu bilang—
A: [bersamaan] Saya tidak tahu!

Representasi tersebut memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai bagaimana percakapan berlangsung.

Richardson, Haworth, dan Deamer (2022) menunjukkan bahwa proses transkripsi dalam konteks hukum perlu dipertanyakan secara kritis karena rekaman lisan yang diubah menjadi transkrip tertulis dapat mengalami perubahan representasi.

Dengan kata lain, transkrip bukanlah rekaman itu sendiri. Transkrip merupakan representasi dari rekaman.

 

D. Ilustrasi: Mengapa Transkripsi Harus Hati-Hati?

Bayangkan terdapat rekaman:

“Saya tidak bilang dia mencuri.”

Kalimat tersebut dapat memiliki makna berbeda jika tekanan atau jedanya berbeda.

Versi 1

“Saya tidak bilang dia mencuri.”

Penutur mungkin menolak bahwa dirinya pernah mengatakan bahwa seseorang mencuri.

Versi 2

“Saya tidak bilang dia mencuri.”

Penutur mungkin mengisyaratkan bahwa memang ada sesuatu yang dikatakan, tetapi bukan bahwa orang tersebut mencuri.

Versi 3

“Saya tidak bilang... dia mencuri.”

Jeda dapat menunjukkan adanya proses berpikir atau perubahan cara menyampaikan informasi.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa makna tuturan tidak selalu dapat ditentukan hanya dari rangkaian kata.

Karena itu, analis perlu mempertimbangkan unsur prosodik seperti jeda, tekanan, ritme, dan intonasi.

 

E. Analisis Jeda dalam Percakapan

Jeda merupakan salah satu unsur penting dalam analisis percakapan.

Jeda dapat muncul karena berbagai alasan, misalnya:

  • penutur sedang berpikir;
  • mencari kata;
  • ragu;
  • memperbaiki ucapan;
  • memberikan kesempatan kepada lawan bicara;
  • menunjukkan ketidaksetujuan;
  • merespons pertanyaan;
  • atau sekadar karena karakteristik alami percakapan.

Contohnya:

Penyidik: “Apakah Anda berada di lokasi tersebut?”
Saksi: “Saya... sekitar jam delapan... mungkin.”

Jeda tersebut tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai bukti bahwa saksi berbohong.

Ini merupakan prinsip penting dalam linguistik forensik:

Jeda adalah data linguistik; alasan psikologis di balik jeda membutuhkan bukti tambahan.

Artinya, analis boleh mendeskripsikan bahwa terdapat jeda tertentu, tetapi harus berhati-hati jika ingin menyimpulkan bahwa jeda tersebut menunjukkan kebohongan, ketakutan, atau rasa bersalah.

 

F. Analisis Intonasi dan Prosodi

Selain kata-kata, analis dapat memperhatikan intonasi.

Intonasi berkaitan dengan perubahan nada suara sepanjang ujaran. Dalam percakapan, intonasi dapat membantu membedakan:

  • pertanyaan;
  • pernyataan;
  • penegasan;
  • keraguan;
  • kejutan;
  • atau respons tertentu.

Misalnya:

“Kamu datang.”

dan

“Kamu datang?”

Secara tulisan hanya terdapat perbedaan tanda baca. Dalam komunikasi lisan, perbedaan tersebut dapat direalisasikan melalui pola intonasi.

Dalam analisis fonetik forensik, karakteristik suara dapat diperiksa secara lebih teknis, termasuk aspek akustik tertentu. Kajian forensik fonetik membahas analisis berdasarkan sinyal akustik, karakteristik fonetik, serta perbandingan suara secara ilmiah dan probabilistik (Jessen, 2008).

Namun, sekali lagi, intonasi tidak boleh ditafsirkan secara berlebihan.

Misalnya, suara yang meninggi tidak otomatis berarti seseorang sedang marah. Bisa saja penutur sedang bertanya, terkejut, atau menggunakan kebiasaan prosodik tertentu.

 

G. Analisis Pergantian Giliran Bicara

Percakapan terdiri atas giliran bicara atau turn-taking.

Contoh:

A: Saya ingin menjelaskan—
B: Tapi tadi Anda mengatakan—
A: Tunggu, saya belum selesai.

Dalam contoh tersebut terdapat:

1.     interupsi;

2.     tumpang tindih;

3.     perebutan giliran;

4.     upaya mempertahankan giliran.

Hal ini dapat menjadi penting dalam pemeriksaan rekaman wawancara polisi, percakapan antara tersangka dan korban, atau komunikasi antara pihak-pihak yang bersengketa.

Kajian linguistik forensik memang mencakup bahasa lisan dalam proses hukum, termasuk wawancara polisi dan interaksi dalam sistem peradilan.

Dengan demikian, analis tidak hanya melihat apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana peserta percakapan mengorganisasikan interaksi mereka.

 

H. Analisis Bagian yang Tidak Jelas

Salah satu persoalan terbesar dalam analisis rekaman suara adalah ucapan yang tidak jelas.

Misalnya:

“Saya bertemu dengan Pak [tidak terdengar] kemarin.”

Analis tidak boleh secara otomatis menulis:

“Saya bertemu dengan Pak Ahmad kemarin.”

hanya karena konteks kasus mengarah kepada seseorang bernama Ahmad.

Fraser (2017) memperingatkan bahwa rekaman tersembunyi atau rekaman dengan kualitas buruk dapat menimbulkan masalah serius dalam transkripsi karena pendengar dapat dipengaruhi oleh pengetahuan atau ekspektasi mereka mengenai isi rekaman.

Karena itu, bagian yang tidak terdengar dapat diberi penanda, misalnya:

“[tidak terdengar]”

atau

“[ujaran tidak jelas]”

Prinsip ini sangat penting untuk menjaga objektivitas dan integritas bukti.

 

I. Proses Analisis Rekaman Suara secara Sistematis

Secara praktis, proses analisis rekaman suara untuk kepentingan hukum dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Memperoleh rekaman

2. Memeriksa kualitas dan konteks rekaman

3. Menjaga rekaman asli

4. Melakukan transkripsi awal

5. Menandai jeda, tumpang tindih, pengulangan, dan bagian tidak jelas

6. Menganalisis intonasi dan karakteristik prosodik

7. Menganalisis struktur percakapan

8. Jika diperlukan, melakukan analisis fonetik/akustik

9. Membandingkan dengan rekaman pembanding

10. Menyusun temuan dan batasan analisis

11. Menyampaikan kesimpulan secara hati-hati

Proses tersebut menunjukkan bahwa analisis linguistik forensik merupakan pekerjaan yang membutuhkan metodologi, bukan sekadar intuisi pendengar.

 

J. Analisis Suara untuk Membandingkan Penutur

Dalam kasus tertentu, persoalan hukumnya bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi siapa yang mengatakannya.

Misalnya, penyidik mempunyai:

  • Rekaman A: suara pelaku dalam panggilan telepon.
  • Rekaman B: suara tersangka yang diperoleh secara legal untuk keperluan pembandingan.

Analis kemudian dapat melakukan forensic voice comparison.

Yang dibandingkan dapat mencakup karakteristik fonetik dan akustik tertentu. Jessen (2008) menjelaskan bahwa ketika rekaman suara pelaku dan sampel suara tersangka tersedia, analisis dapat diarahkan pada perbandingan suara oleh ahli forensik.

Namun, kesimpulan ilmiah tidak semestinya dinyatakan secara sederhana:

“100% suara tersebut adalah suara tersangka.”

Analisis forensik modern lebih berhati-hati dan dapat menggunakan pendekatan probabilistik untuk menjelaskan seberapa kuat bukti mendukung suatu hipotesis dibandingkan hipotesis alternatif. Kajian forensik fonetik juga menekankan pentingnya kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan probabilistik.

 

K. Ilustrasi Kasus Sederhana

Misalkan terdapat rekaman percakapan:

A: “Kamu yang kirim uang itu?”
B: “Saya... tidak tahu.”
A: “Kamu yakin?”
B: “Saya bilang saya tidak tahu.”

Seorang analis linguistik dapat menemukan beberapa hal:

1. Jeda

B terdapat jeda setelah “Saya...”.

2. Pengulangan

B mengulang:

“Saya tidak tahu.”

3. Perubahan respons

Respons kedua lebih tegas daripada respons pertama.

4. Tekanan interaksional

A mengajukan pertanyaan lanjutan:

“Kamu yakin?”

Pertanyaan tersebut memberikan tekanan interaksional kepada B.

Tetapi apakah B berbohong?

Belum tentu.

Analis linguistik tidak boleh mengubah pengamatan bahasa menjadi diagnosis psikologis tanpa dasar. Jeda dapat menunjukkan keraguan, tetapi juga dapat terjadi karena seseorang sedang mencari jawaban atau mengingat informasi.

Inilah yang dimaksud dengan kehati-hatian interpretasi.

 

L. Mengapa Interpretasi Harus Hati-Hati?

Dalam konteks hukum, setiap kesimpulan memiliki konsekuensi serius. Oleh karena itu, linguist forensik harus membedakan tiga hal:

1. Data

“Terdapat jeda sekitar dua detik sebelum jawaban.”

2. Interpretasi linguistik

“Jeda tersebut terjadi sebelum respons diberikan.”

3. Kesimpulan psikologis

“Penutur berbohong.”

Ketiganya tidak sama.

Pernyataan pertama dapat didasarkan langsung pada rekaman. Pernyataan kedua dapat dianalisis melalui teori percakapan. Sementara pernyataan ketiga membutuhkan bukti yang jauh lebih luas dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan jeda.

Hal ini sejalan dengan prinsip umum linguistik forensik bahwa linguist memberikan analisis terhadap bukti bahasa, bukan mengambil alih fungsi hakim dalam menentukan kesalahan seseorang (Coulthard, 2005).

 

M. Transkripsi Bukan Sekadar Menulis Apa yang Didengar

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa proses transkripsi sendiri dapat memengaruhi bagaimana bukti dipahami.

Richardson et al. (2022) menunjukkan bahwa perubahan dari rekaman asli menjadi transkrip tertulis dan kemudian digunakan kembali dalam proses hukum dapat memengaruhi integritas representasi interaksi.

Karena itu, praktik yang baik adalah mempertahankan akses terhadap rekaman asli dan tidak hanya mengandalkan transkrip.

Jika terdapat perbedaan antara transkrip dan rekaman, pemeriksaan harus kembali kepada sumber audio.

Secara sederhana:

Rekaman → sumber utama
Transkrip → representasi tertulis
Analisis → interpretasi berbasis data

Bukan:

Transkrip → dianggap sebagai rekaman yang sempurna.

 

N. Prinsip-Prinsip Etis dalam Analisis Rekaman Suara

Beberapa prinsip penting yang harus diperhatikan adalah:

1. Objektivitas

Analis tidak boleh memaksakan hasil agar sesuai dengan dugaan penyidik atau salah satu pihak.

2. Transparansi

Metode analisis harus dapat dijelaskan.

3. Reproducibility

Jika memungkinkan, analis lain dapat memeriksa kembali proses analisis.

4. Mempertahankan ketidakpastian

Bagian yang tidak jelas harus tetap ditandai sebagai tidak jelas.

5. Tidak melakukan overinterpretation

Jeda, intonasi, atau perubahan suara tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi “bohong”, “marah”, “takut”, atau “bersalah”.

6. Memisahkan fakta dan interpretasi

Analis harus membedakan antara apa yang terdengar, apa yang dianalisis, dan apa yang disimpulkan.

 

O. Kesimpulan

Analisis rekaman suara merupakan salah satu praktik penting dalam linguistik forensik karena komunikasi lisan dapat menjadi sumber bukti dalam proses hukum. Analisis dapat mencakup transkripsi, jeda, intonasi, pergantian giliran bicara, tumpang tindih ujaran, karakteristik fonetik, hingga perbandingan suara.

Prosesnya harus dimulai dengan pemeriksaan dan dokumentasi rekaman, dilanjutkan dengan transkripsi yang hati-hati, identifikasi bagian yang tidak jelas, analisis linguistik dan fonetik, serta interpretasi berdasarkan konteks. Transkripsi harus diperlakukan sebagai representasi dari rekaman, bukan sebagai pengganti rekaman itu sendiri. Penelitian mengenai transkripsi dalam konteks hukum menunjukkan bahwa proses mengubah percakapan lisan menjadi teks dapat menimbulkan persoalan representasi yang perlu diperhatikan secara serius.

Hal yang paling penting adalah kehati-hatian dalam interpretasi. Jeda tidak otomatis berarti kebohongan. Intonasi tinggi tidak otomatis berarti kemarahan. Suara gemetar tidak otomatis menunjukkan ketakutan. Demikian pula, kemiripan suara tidak semestinya diterjemahkan sebagai kepastian identitas.

Dengan demikian, praktik linguistik forensik yang baik bukanlah praktik yang menghasilkan kesimpulan paling dramatis, melainkan praktik yang mampu menjelaskan apa yang benar-benar didukung oleh bukti bahasa, bagaimana kesimpulan tersebut diperoleh, dan di mana batas-batas kesimpulannya.

 

Daftar Pustaka

Coulthard, M. (2005). The linguist as expert witness. Linguistics and the Human Sciences, 1(1), 39–58. https://doi.org/10.1558/lhs.2005.1.1.39

Coulthard, M. (2010). Forensic linguistics: The application of language description in legal contexts. Langage et société, 132(2), 15–33. https://doi.org/10.3917/ls.132.0015

Coulthard, M., Johnson, A., & Wright, D. (2017). An introduction to forensic linguistics: Language in evidence (2nd ed.). Routledge.

Fraser, H. (2017). Transcription of indistinct forensic recordings: Problems and solutions from the perspective of phonetic science. Language and Law / Linguagem e Direito, 1(2).

Fraser, H. (2021). Forensic transcription: Legal and scientific perspectives. Studi AISV, 8. https://doi.org/10.17469/O2108AISV000001

Haworth, K. (2010). Police interviews in the judicial process: Police interviews as evidence. In M. Coulthard & A. Johnson (Eds.), The Routledge handbook of forensic linguistics (pp. 169–194). Routledge.

Jessen, M. (2008). Forensic phonetics. Language and Linguistics Compass, 2(4), 671–711. https://doi.org/10.1111/j.1749-818X.2008.00066.x

Richardson, E., Haworth, K., & Deamer, F. (2022). For the record: Questioning transcription processes in legal contexts. Applied Linguistics, 43(4), 677–697. https://doi.org/10.1093/applin/amac005

Sabtu, 05 September 2026

Praktik Analisis Linguistik Forensik


Analisis Linguistik pada Kasus Penipuan Online

Keyword: bahasa penipuan online

Pendahuluan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Pesan singkat, WhatsApp, email, media sosial, dan berbagai platform digital memungkinkan seseorang berinteraksi dengan cepat tanpa harus bertemu secara langsung. Kondisi ini memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus membuka ruang bagi munculnya berbagai bentuk kejahatan berbasis komunikasi, salah satunya penipuan online.

Dalam banyak kasus, penipuan online tidak semata-mata bergantung pada teknologi. Bahasa justru menjadi salah satu instrumen utama untuk membangun kepercayaan, menciptakan kepanikan, memengaruhi keputusan, dan mendorong korban melakukan tindakan tertentu. Pelaku dapat menyamar sebagai pegawai bank, petugas ekspedisi, administrator platform digital, teman, anggota keluarga, bahkan pejabat atau lembaga resmi. Bahasa kemudian digunakan untuk membuat identitas palsu tersebut terlihat meyakinkan.

Di sinilah linguistik forensik memiliki peranan penting. Linguistik forensik merupakan penerapan ilmu bahasa pada persoalan yang berkaitan dengan hukum, penyidikan, dan proses peradilan. Dalam konteks penipuan online, ahli atau analis linguistik forensik dapat memeriksa pilihan kata, struktur kalimat, gaya bahasa, tindak tutur, strategi persuasi, pola interaksi, hingga karakteristik kebahasaan yang mungkin membantu mengidentifikasi pola komunikasi pelaku (Coulthard & Johnson, 2007; Gibbons, 2003).

Penelitian mengenai pesan scam menunjukkan adanya pola berulang seperti penyamaran otoritas, ungkapan urgensi, strategi kesantunan, dan perintah untuk melakukan tindakan tertentu. Pola tersebut digunakan untuk menciptakan kepercayaan atau ketakutan sehingga korban terdorong mengambil keputusan dengan cepat.

 

A. Apa yang Dimaksud dengan Bahasa Penipuan Online?

Bahasa penipuan online adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi digital untuk menyesatkan, memanipulasi, atau membujuk seseorang agar melakukan tindakan yang menguntungkan pelaku.

Misalnya, seseorang menerima pesan:

“Selamat! Nomor Anda terpilih sebagai penerima hadiah Rp10.000.000. Untuk menghindari pembatalan otomatis, segera konfirmasi data melalui link berikut dalam waktu 30 menit.”

Jika diperhatikan secara sederhana, pesan tersebut terlihat seperti informasi biasa. Namun, dari perspektif linguistik forensik, terdapat beberapa unsur menarik:

  1. “Selamat!” → membangun suasana positif.
  2. “terpilih” → menciptakan kesan bahwa penerima mendapatkan sesuatu secara khusus.
  3. “Rp10.000.000” → memberikan daya tarik ekonomi.
  4. “menghindari pembatalan” → menciptakan ancaman kehilangan.
  5. “segera” → membangun urgensi.
  6. “30 menit” → membatasi waktu berpikir.
  7. “konfirmasi data” → memberikan instruksi.
  8. “link berikut” → mengarahkan korban pada tindakan konkret.

Dengan demikian, satu pesan pendek sebenarnya dapat memiliki struktur komunikasi yang kompleks.

 

B. Praktik Analisis Linguistik Forensik pada Penipuan Online

Analisis linguistik forensik tidak cukup dilakukan dengan mengatakan bahwa sebuah pesan “terlihat seperti penipuan”. Analisis harus dilakukan secara sistematis berdasarkan bukti bahasa.

Secara praktis, proses analisis dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut.

1. Mengumpulkan dan Mendokumentasikan Data

Tahap pertama adalah memperoleh data komunikasi yang relevan, misalnya:

  • pesan WhatsApp;
  • SMS;
  • email;
  • percakapan media sosial;
  • komentar;
  • pesan marketplace;
  • transkrip percakapan telepon;
  • pesan suara yang telah ditranskripsikan.

Data harus dipertahankan dalam bentuk yang sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Waktu pengiriman, urutan pesan, nama akun, penggunaan emoji, tanda baca, typo, dan perubahan pesan dapat menjadi bagian dari konteks analisis.

Dalam penelitian tentang phishing, tahapan penelitian juga mencakup dokumentasi, klasifikasi, analisis, interpretasi bentuk dan makna, kemudian penarikan kesimpulan.

Ilustrasi:

Misalnya penyidik memperoleh percakapan:

Pelaku: “Selamat sore Bapak, kami dari bagian keamanan bank.”
Korban: “Ada apa ya?”
Pelaku: “Terdeteksi transaksi mencurigakan pada rekening Bapak.”
Korban: “Transaksi apa?”
Pelaku: “Untuk mencegah rekening diblokir, mohon verifikasi data sekarang.”

Data tersebut tidak boleh langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa seseorang adalah pelaku. Percakapan tersebut terlebih dahulu harus dianalisis secara linguistik dan dikaitkan dengan bukti lainnya.

 

2. Mengidentifikasi Pola Persuasi

Salah satu karakteristik utama bahasa penipuan online adalah penggunaan persuasi.

Pelaku biasanya tidak langsung mengatakan:

“Berikan uang Anda kepada saya.”

Bahasa yang digunakan jauh lebih halus. Pelaku membangun situasi tertentu sehingga korban merasa bahwa tindakan yang diminta adalah pilihan yang masuk akal.

Misalnya:

“Bapak tidak perlu khawatir. Kami hanya perlu melakukan verifikasi agar rekening tetap aman.”

Kalimat tersebut secara linguistik mengandung strategi reassurance atau pemberian rasa aman. Menariknya, kata “aman” digunakan ketika sebenarnya pelaku sedang mengarahkan korban pada tindakan yang berpotensi membahayakan.

Penelitian terbaru terhadap ratusan ribu pesan scam menunjukkan bahwa komunikasi penipuan dapat berlangsung secara bertahap, mulai dari membangun kepercayaan, menciptakan risiko, melakukan persuasi, mendorong kepatuhan, hingga eksploitasi berulang (Li et al., 2026).

Dengan demikian, analis tidak hanya bertanya:

“Apa yang dikatakan pelaku?”

tetapi juga:

“Apa yang ingin dilakukan pelaku melalui bahasa tersebut?”

Pertanyaan kedua membawa analisis ke wilayah pragmatik dan tindak tutur.

 

C. Analisis Urgensi Palsu

Salah satu ciri yang sangat penting dalam bahasa penipuan online adalah urgensi palsu.

Urgensi palsu merupakan strategi bahasa yang membuat korban merasa harus mengambil keputusan segera.

Contohnya:

“Segera lakukan verifikasi.”
“Batas waktu hanya 10 menit.”
“Jika tidak dikonfirmasi hari ini, akun akan diblokir.”
“Kesempatan terakhir.”
“Mohon segera dibalas.”
“Transaksi akan dibatalkan otomatis.”

Secara linguistik, kata-kata seperti segera, sekarang, terakhir, hari ini, 10 menit, diblokir, dibatalkan, dan gagal berfungsi sebagai penanda tekanan waktu atau konsekuensi.

Penelitian mengenai komunikasi scam menunjukkan bahwa urgensi bukan sekadar ekspresi emosi, tetapi dapat berfungsi sebagai strategi persuasi untuk mengurangi waktu deliberasi korban dan meningkatkan kemungkinan korban mematuhi instruksi.

Ilustrasi sederhana

Bandingkan dua pesan berikut.

Pesan A:

“Silakan melakukan verifikasi rekening melalui aplikasi resmi apabila diperlukan.”

Pesan B:

“SEGERA verifikasi rekening Anda dalam 15 menit. Jika tidak, rekening akan DIBLOKIR!”

Pesan B memiliki tekanan psikologis yang jauh lebih tinggi. Penggunaan huruf kapital, batas waktu, dan ancaman konsekuensi menciptakan situasi seolah-olah korban tidak memiliki kesempatan untuk berpikir.

Dalam analisis forensik, unsur tersebut dapat dikategorikan sebagai strategi linguistik untuk mendorong compliance atau kepatuhan.

 

D. Analisis Kesalahan Bahasa Khas Scam

Kesalahan bahasa juga dapat menjadi objek penelitian linguistik forensik.

Pesan penipuan terkadang menunjukkan:

  • salah ejaan;
  • struktur kalimat yang tidak alami;
  • penggunaan tanda baca yang tidak konsisten;
  • campuran bahasa;
  • terjemahan mesin;
  • penggunaan istilah yang tidak lazim dalam institusi tertentu;
  • pemilihan kata yang tidak sesuai dengan konteks;
  • sapaan yang terlalu umum;
  • repetisi tertentu.

Contoh:

“Pelanggan yang terhormat, rekening anda telah di blokir sementara dikarenakan aktifitas mencurigakan. Harap segera klik link untuk aktifkan kembali.”

Beberapa aspek dapat diperiksa:

Unsur

Temuan

“di blokir”

bentuk penulisan tidak baku; seharusnya “diblokir”

“aktifitas”

bentuk baku adalah “aktivitas”

“aktifkan kembali”

dapat dianalisis dari konteks instruksi

struktur kalimat

cenderung menyerupai terjemahan langsung

“klik link”

konstruksi campuran yang lazim dalam komunikasi digital

Namun, kesalahan bahasa tidak boleh otomatis dianggap sebagai bukti bahwa sebuah pesan adalah scam. Penutur asli juga dapat melakukan kesalahan ejaan. Oleh karena itu, kesalahan bahasa harus dilihat sebagai salah satu indikator dan dibandingkan dengan karakteristik lainnya.

Anafo dan Ngula (2020), misalnya, menunjukkan bahwa struktur gramatikal dalam email scam dapat dianalisis secara sistematis, termasuk bagaimana struktur klausa digunakan untuk merepresentasikan tindakan dan hubungan antara pelaku dengan korban.

 

E. Analisis Tindak Tutur

Analisis tindak tutur merupakan salah satu metode yang sangat relevan dalam kasus penipuan online.

Menurut teori tindak tutur, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan tindakan tertentu (Austin, 1962; Searle, 1969).

Dalam pesan scam, kita dapat menemukan beberapa jenis tindak tutur.

1. Tindak tutur direktif

Bertujuan membuat korban melakukan sesuatu.

Contoh:

“Klik link berikut.”
“Kirim kode OTP Anda.”
“Isi formulir ini.”
“Transfer ke rekening tersebut.”

2. Tindak tutur asertif

Pelaku menyampaikan informasi yang dikonstruksi seolah-olah benar.

Contoh:

“Rekening Anda terdeteksi melakukan transaksi mencurigakan.”

3. Tindak tutur komisif

Pelaku memberikan janji.

Contoh:

“Dana akan masuk dalam waktu 10 menit setelah biaya administrasi dibayar.”

4. Tindak tutur ekspresif

Pelaku dapat menggunakan bahasa yang menunjukkan simpati atau perhatian.

Contoh:

“Kami memahami kekhawatiran Bapak.”

Padahal, fungsi sebenarnya bisa saja untuk meningkatkan kepercayaan.

Dengan demikian, analisis tindak tutur membantu peneliti memahami fungsi komunikatif sebuah kalimat, bukan hanya bentuk gramatikalnya.

 

F. Analisis Struktur Wacana Penipuan

Selain kata dan kalimat, linguistik forensik dapat melihat struktur wacana.

Pesan scam sering mempunyai pola tertentu. Berdasarkan penelitian mengenai karakteristik pesan scam, pola yang sering ditemukan antara lain sapaan → klaim → tekanan waktu → ajakan bertindak.

Pola tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Sapaan

Membangun identitas/otoritas

Menyampaikan masalah atau keuntungan

Menciptakan rasa takut/harapan

Menciptakan urgensi

Memberikan instruksi

Mendorong korban melakukan tindakan

Contoh

“Selamat siang, kami dari layanan keamanan [nama lembaga].”

“Kami mendeteksi aktivitas tidak biasa pada akun Anda.”

“Untuk keamanan, akun Anda akan dibatasi.”

“Mohon segera melakukan verifikasi dalam waktu 15 menit.”

“Klik link berikut dan masukkan data Anda.”

Dari perspektif wacana, pesan tersebut bukan kumpulan kalimat yang berdiri sendiri. Setiap bagian mempunyai fungsi untuk mengarahkan korban menuju tindakan tertentu.

 

G. Analisis Pilihan Kata dan Identitas Palsu

Pelaku penipuan juga dapat menggunakan leksikon institusional untuk menciptakan kesan profesional.

Contohnya:

  • “verifikasi”;
  • “keamanan”;
  • “sistem”;
  • “aktivitas mencurigakan”;
  • “validasi”;
  • “administrasi”;
  • “konfirmasi”;
  • “pemblokiran”;
  • “prosedur”.

Kata-kata tersebut sebenarnya merupakan kata yang normal. Persoalannya bukan terletak pada kata itu sendiri, melainkan bagaimana kata tersebut digunakan dalam konstruksi penipuan.

Misalnya:

“Sesuai prosedur keamanan, mohon kirimkan kode OTP Anda.”

Secara linguistik, frasa “sesuai prosedur keamanan” memberikan legitimasi terhadap instruksi berikutnya. Padahal, instruksi meminta informasi yang semestinya tidak diberikan.

Penelitian Kasiya et al. (2025) menunjukkan pentingnya konsep believability dalam bahasa penipuan: pesan fraud dibangun sedemikian rupa agar dapat dipercaya oleh penerima.

 

H. Analisis Pola Interaksi

Dalam penipuan online berbasis percakapan, analisis tidak berhenti pada satu pesan. Peneliti dapat mengamati bagaimana pelaku merespons korban.

Misalnya:

Korban:

“Saya takut ini penipuan.”

Pelaku:

“Bapak benar, harus hati-hati. Karena itu kami melakukan verifikasi keamanan.”

Menariknya, pelaku justru mengakui kekhawatiran korban. Secara pragmatik, respons tersebut dapat berfungsi sebagai strategi untuk mengurangi kecurigaan.

Penelitian tentang komunikasi fraud menunjukkan bahwa pelaku dapat menggunakan bahasa yang tampaknya memberi korban waktu, tetapi sebenarnya mengalihkan perhatian korban dari proses pengambilan keputusan menuju pelaksanaan instruksi.

Oleh karena itu, dalam analisis percakapan, peneliti dapat melihat:

  1. siapa yang memulai percakapan;
  2. bagaimana identitas diperkenalkan;
  3. bagaimana pelaku membangun kepercayaan;
  4. bagaimana korban menunjukkan keraguan;
  5. bagaimana pelaku merespons keraguan;
  6. kapan tekanan mulai meningkat;
  7. kapan instruksi diberikan;
  8. bagaimana pelaku merespons penolakan.

 

I. Prosedur Praktis Analisis Linguistik Forensik

Untuk penelitian atau penyidikan, praktik analisis dapat dirumuskan menjadi delapan langkah utama:

Langkah 1 — Dokumentasi

Mengumpulkan seluruh pesan dan mempertahankan konteks aslinya.

Langkah 2 — Transkripsi

Jika data berupa suara atau video, komunikasi ditranskripsikan secara sistematis.

Langkah 3 — Segmentasi

Data dibagi berdasarkan pesan, kalimat, klausa, atau giliran bicara.

Langkah 4 — Klasifikasi Linguistik

Peneliti mengidentifikasi:

  • kata;
  • frasa;
  • struktur kalimat;
  • kesalahan bahasa;
  • tindak tutur;
  • sapaan;
  • metafora;
  • modalitas;
  • penanda urgensi;
  • strategi kesantunan.

Langkah 5 — Analisis Pragmatik

Ditentukan maksud dan fungsi setiap ujaran dalam konteks interaksi.

Langkah 6 — Analisis Wacana

Peneliti mengidentifikasi pola keseluruhan komunikasi, misalnya:

trust-building → fear/reward → urgency → instruction → compliance.

Langkah 7 — Perbandingan

Jika tersedia beberapa pesan atau tersangka komunikasi, karakteristik bahasa dapat dibandingkan secara sistematis.

Langkah 8 — Interpretasi Forensik

Hasil linguistik kemudian dihubungkan dengan bukti lain. Kesimpulan harus disampaikan secara hati-hati karena ciri bahasa tidak selalu identik dengan identitas pelaku.

 

J. Contoh Analisis Kasus

Misalkan terdapat pesan:

“Pelanggan Yth, sistem mendeteksi aktivitas mencurigakan pada rekening Anda. Untuk menghindari pemblokiran permanen, segera lakukan verifikasi melalui link berikut dalam 10 menit. Abaikan pesan ini jika Anda sudah melakukan verifikasi.”

Analisis sederhana dapat dibuat sebagai berikut:

Aspek

Temuan

Fungsi

Sapaan

“Pelanggan Yth”

menciptakan kesan formal

Otoritas

“sistem mendeteksi”

menciptakan legitimasi

Ancaman

“pemblokiran permanen”

menimbulkan rasa takut

Urgensi

“10 menit”

membatasi waktu berpikir

Direktif

“segera lakukan verifikasi”

mendorong kepatuhan

CTA

“link berikut”

mengarahkan tindakan

Strategi perlindungan

“Abaikan pesan ini...”

memberi kesan prosedural

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa bahasa penipuan online bekerja secara berlapis. Pelaku tidak hanya menyampaikan informasi palsu, tetapi merancang komunikasi agar korban merasa percaya, takut, terburu-buru, kemudian bertindak.

 

K. Kesimpulan

Praktik analisis linguistik forensik pada kasus penipuan online menunjukkan bahwa bahasa merupakan bagian penting dari mekanisme kejahatan digital. Penipuan tidak selalu dilakukan melalui teknologi yang rumit; sering kali keberhasilannya bergantung pada kemampuan pelaku menggunakan bahasa untuk memengaruhi perilaku korban.

Pola persuasi, urgensi palsu, klaim otoritas, pilihan kata yang menciptakan ketakutan, perintah langsung, janji keuntungan, serta kesalahan bahasa tertentu dapat menjadi objek analisis linguistik. Penelitian kontemporer bahkan menunjukkan bahwa komunikasi scam dapat berkembang melalui beberapa tahap, mulai dari membangun kepercayaan hingga mendorong korban melakukan tindakan dan kemudian mengeksploitasinya kembali (Li et al., 2026).

Namun, penting ditegaskan bahwa satu ciri bahasa tidak cukup untuk membuktikan seseorang sebagai pelaku penipuan. Kesalahan ejaan, penggunaan bahasa informal, atau struktur kalimat tertentu dapat ditemukan pula dalam komunikasi normal. Karena itu, analisis linguistik forensik harus dilakukan secara sistematis, kontekstual, dan sedapat mungkin dikombinasikan dengan bukti digital serta bukti hukum lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, linguistik forensik tidak sekadar menjawab pertanyaan “apa yang dikatakan pelaku?”, tetapi juga membantu menjawab pertanyaan yang lebih penting: bagaimana bahasa digunakan untuk membangun kepercayaan, menciptakan ketakutan, menghasilkan urgensi, dan mendorong korban melakukan tindakan tertentu? Inilah yang menjadikan analisis bahasa penipuan online sebagai salah satu praktik penting dalam perkembangan linguistik forensik di era digital.

 

Daftar Pustaka

Anafo, C., & Ngula, R. S. (2020). On the grammar of scam: Transitivity, manipulation and deception in scam emails. WORD, 66(1), 16–39. https://doi.org/10.1080/00437956.2019.1708557

Austin, J. L. (1962). How to do things with words. Oxford University Press.

Chiluwa, I., & Ajiboye, E. (2016). A speech act analysis of fraudulent emails. GEMA Online Journal of Language Studies, 16(3), 31–46.

Coulthard, M., & Johnson, A. (2007). An introduction to forensic linguistics: Language in evidence. Routledge.

Gibbons, J. (2003). Forensic linguistics: An introduction to language in the justice system. Blackwell.

Kasiya, C., Kondowe, W., & Ndalama-Mtawali, D. (2025). The principle of believability in the language of fraud text messages in Malawi: A forensic linguistic analysis. Journal of Investigative Psychology and Offender Profiling, 22(2), e70001. https://doi.org/10.1002/jip.70001

Li, D., Zheng, R., Liu, X. F., Ma, B., Sun, H., & Jiang, L. C. (2026). Linguistic dynamics of online scam conversations: A multi-stage analysis based on the COLD framework. Humanities and Social Sciences Communications, 13, 698. https://doi.org/10.1057/s41599-026-07052-y

Pradesi, D. W., & Marlianingsih, N. (2025). Linguistic features of online scam messages: A forensic analysis of deceptive communication language. JEdu: Journal of English Education, 5(2), 65–74. https://doi.org/10.30998/jedu.v5i2.14352

Searle, J. R. (1969). Speech acts: An essay in the philosophy of language. Cambridge University Press.

Toma, C. L., & Hancock, J. T. (2012). What lies beneath: The linguistic traces of deception in online dating profiles. Journal of Communication, 62(1), 78–97.

Vrij, A. (2008). Detecting lies and deceit: Pitfalls and opportunities (2nd ed.). John Wiley & Sons.

Menganalisis Percakapan Rekaman Suara untuk Kepentingan Hukum

  Praktik Analisis Linguistik Forensik Keyword: analisis rekaman suara Pendahuluan Rekaman suara semakin sering menjadi bagian dari ...