Selasa, 20 Januari 2026

Menelusuri Batas yang Samar: Perbedaan Antara Pemajemukan dan Frasa

Blog: Pusat Referensi Linguistik

 Perbedaan Antara Pemajemukan dan Frasa

Pengantar: Menepis Kabut Kekaburan
Dalam studi morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia, salah satu wilayah paling kompleks dan menarik adalah perbatasan antara kata majemuk dan frasa. Bab 6.4: Pemajemukan vs Frasa ini hadir untuk menjernihkan kerumitan tersebut. Bagi banyak penutur, perbedaan antara rumah sakit dan rumah besar mungkin terasa intuitif, namun ketika dihadapkan pada konstruksi seperti jalan cepat (sebagai olahraga) atau anak emas, batas itu mulai kabur. Artikel ini akan mengupas perbedaan mendasar antara kedua konstruksi ini, menjelaskan mengapa garis pemisahnya sering berupa kontinum, dan menyajikan seperangkat alat uji praktis untuk membantu identifikasi. Pemahaman ini krusial tidak hanya untuk analisis linguistik yang akurat, tetapi juga untuk pengajaran bahasa, leksikografi, dan penerjemahan.

1. Landasan Teoritis: Dua Konstruksi yang Berbeda Hakikatnya

Secara teoretis, kata majemuk (compound) dan frasa (phrase) berada pada level linguistik yang berbeda. Kata majemuk adalah fenomena morfologis-leksikal. Ia adalah proses pembentukan kata baru yang menghasilkan satu leksem atau unit leksikal baru dalam kamus mental penutur (Booij, 2007). Sementara itu, frasa adalah fenomena sintaksis. Ia adalah penggabungan kata-kata yang sudah ada berdasarkan aturan tata bahasa untuk membentuk konstituen yang lebih besar, tanpa menciptakan leksem baru (Sneddon, 2010).

Dengan kata lain:

·         Kata Majemuk: obat nyamuk adalah SATU KATA (leksem) dengan makna khusus.

·         Frasa: obat pahit adalah DUA KATA yang digabungkan secara sintaksis untuk membuat makna sementara.

2. Tiga Pilar Perbedaan: Semantis, Gramatikal, dan Fonologis

Perbedaan mendasar dapat diuraikan melalui tiga pilar utama, yang telah disinggung sebelumnya namun perlu diperdalam di sini.

2.1 Perbedaan Semantis: Idiomasitas vs. Komposisionalitas

Ini adalah uji utama dan paling menentukan.

·         Kata Majemuk: Memiliki makna idiomatis, terspesialisasi, dan tidak sepenuhnya dapat diprediksi dari makna unsurnya. Maknanya telah terleksikalisasi.

o    Contoh: Kambing hitam bukan hewan, melainkan sosok yang dipersalahkan. Buah tangan bukan anggota tubuh, melainkan oleh-oleh. Tangan kanan bukan hanya tangan di sisi kanan, melainkan orang kepercayaan utama.

o    Seperti ditegaskan Kridalaksana (2007), "Ciri terpenting kata majemuk ialah bahwa keseluruhan konstruksi itu mempunyai makna khusus yang tidak sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya" (hlm. 102).

·         Frasa: Memiliki makna komposisional, yaitu maknanya dapat dipahami secara langsung dari makna masing-masing unsurnya dan hubungan gramatikal di antara mereka.

o    Contoh: Kambing putih (jika ada) berarti kambing berwarna putih. Buah mangga berarti buah dari pohon mangga. Tangan kiri berarti tangan yang terletak di sisi kiri tubuh.

2.2 Perbedaan Gramatikal: Ketakterpisahan vs. Fleksibilitas

Perilaku sintaksis keduanya sangat bertolak belakang.

·         Kata Majemuk: Menyatu dan Tidak Fleksibel.

o    Uji Penyisipan (Inseparability): Unsur-unsurnya tidak dapat disisipi kata lain (seperti yang, dan, sangat) tanpa menghancurkan makna idiomatisnya.

§  Rumah sakit tidak bisa diubah menjadi rumah yang sakit dengan makna "institusi kesehatan".

§  Orang tua (parent) tidak sama dengan orang yang tua (elderly person).

o    Uji Pembalikan (Fixed Order): Urutannya tetap. Bumi putra tidak bisa dibalik menjadi putra bumi. Hak asasi tidak bisa menjadi asasi hak.

o    Afiksasi Global: Afiks melekat pada keseluruhan konstruksi. Contoh: me- + tanda tanganimenandatangani, bukan menanda tangan.

·         Frasa: Fleksibel dan Dapat Dimodifikasi.

o    Dapat Disisipi: Unsur-unsurnya dapat dipisahkan dengan modifikasi.

§  Rumah besar dapat menjadi rumah yang sangat besar, rumah itu besar.

§  Mobil biru dapat menjadi mobil berwarna biru tua.

o    Urutan Dapat Berubah (dengan batasan): Untuk beberapa frasa, urutan bisa berubah dengan mengubah struktur. Buku saya dapat diungkapkan sebagai milik saya buku itu, meski tidak gramatikal secara langsung.

o    Afiksasi Parsial: Afiks biasanya melekat pada kata kepala (head) frasa. Contoh: me- + baca bukumembaca buku (bukan membacabuku).

2.3 Perbedaan Fonologis dan Grafis: Tanda-tanda Sekunder

Meski tidak selalu konsisten, terdapat kecenderungan.

·         Pelafalan: Kata majemuk sering memiliki satu puncak tekanan utama, seperti kata tunggal (KÁPALterbang). Frasa cenderung memiliki dua tekanan yang relatif independen (KÁPAL BÉSAR). Namun, ini sangat halus dan bergantung pada dialek dan kecepatan bicara.

·         Penulisan: Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) mencerminkan perbedaan ini, meski tidak sempurna. Kata majemuk bisa ditulis terpisah (simpan pinjam), dengan tanda hubung (dua-puluhan), atau dirangkai (olahraga). Frasa selalu ditulis terpisah. Ketidakkonsistenan (misal: kerja sama vs. kerjasama) justru menunjukkan proses leksikalisasi yang sedang berlangsung.

3. Wilayah Abu-abu: Kontinum Leksikalisasi

Di sinilah letak kompleksitasnya. Bahasa adalah entitas yang dinamis, dan banyak kata majemuk lahir dari frasa yang melalui proses leksikalisasi—proses di mana gabungan kata yang sering digunakan bersama lambat laun menyatu maknanya dan dianggap sebagai satu unit leksikal.

Bayangkan sebuah garis kontinum:
Frasa Bebas --- Frasa Terpaku/Setengah Majemuk --- Kata Majemuk Longgar --- Kata Majemuk Padu

·         Contoh Kontinum:

o    Frasa Bebas: anak sungai (masih literal: cabang sungai kecil). Dapat dimodifikasi: anak sungai yang dangkal.

o    Frasa Terpaku: anak emas. Mulai idiomatis (orang yang sangat disayangi), tetapi mungkin masih bisa dikatakan anak yang menjadi emas. Rentan terhadap modifikasi.

o    Kata Majemuk Longgar: anak buah. Makna khusus (bawahan/subordinat). Uji penyisipan mulai gagal (anak yang buah?). Ditulis terpisah.

o    Kata Majemuk Padu: anakronisme. Sudah menjadi satu kata utuh yang ditulis rangkap. Asal-usulnya (ana = tidak, chronos = waktu) tidak lagi disadari penutur biasa.

Konstruksi seperti olahraga, jas hujan, atau daring (dalam jaringan) berada di titik berbeda pada kontinum ini. Perdebatan ahli sering terjadi untuk konstruksi di tengah-tengah, seperti jalan cepat (olahraga) atau pukul rata.

4. Implikasi Praktis dan Signifikansi

Membedakan keduanya bukan sekadar latihan akademis. Ia memiliki implikasi nyata:

1.      Pengajaran Bahasa (BIPA & Sekolah): Guru harus mengajarkan kata majemuk sebagai "kosakata baru", bukan sebagai frasa yang dapat dianalisis. Kesalahan memahami rendah hati sebagai "hati yang rendah" akan berakibat pada kesalahan komunikasi.

2.      Leksikografi (Penyusunan Kamus): Penyusun kamus harus memutuskan apakah suatu konstruksi pantas menjadi lema tersendiri. Kambing hitam pasti menjadi lema, sedangkan kambing putih mungkin tidak.

3.      Penerjemahan: Penerjemah harus mengenali kata majemuk untuk menghindari terjemahan harfiah yang menyesatkan (black goat untuk kambing hitam). Ia harus mencari padanan budaya atau makna.

4.      Pemrosesan Bahasa Alami (NLP): Untuk mesin pencari, penerjemah mesin, atau asisten virtual, program komputer harus dapat mengenali kata majemuk sebagai satu unit agar tidak salah menganalisis. Rumah sakit jiwa adalah satu konsep, bukan rumah yang sakit dan jiwa.

Kesimpulan: Seperangkat Alat, Bukan Pembatas Kaku

Perbedaan antara pemajemukan dan frasa pada akhirnya adalah perbedaan antara leksikon (kamus) dan tata bahasa. Kata majemuk sudah masuk leksikon sebagai item tetap, sementara frasa dibangun secara dinamis menggunakan aturan tata bahasa.

Daripada melihatnya sebagai dua kategori yang terpisah secara mutlak, lebih bermanfaat untuk memandangnya sebagai kontinum dengan dua kutub yang jelas. Seperangkat uji—terutama uji semantis (idiomasitas) dan uji gramatikal (penyisipan)—memberikan alat yang kuat untuk menentukan sejauh mana suatu konstruksi mendekati kutub "kata majemuk".

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya menjadi pengamat bahasa yang lebih cermat, tetapi juga turut menghargai dinamika dan kreativitas bahasa Indonesia yang terus-menerus memperkaya leksikonya dengan mempromosikan frasa-frasa yang berguna naik pangkat menjadi kata majemuk yang mandiri.

 

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.

Booij, G. (2007). The grammar of words: An introduction to linguistic morphology (2nd ed.). Oxford University Press.

Kridalaksana, H. (2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Sneddon, J. N. (2010). Indonesian reference grammar (2nd ed.). Allen & Unwin.

 

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

 

 

Senin, 19 Januari 2026

Mengurai Konstruksi: Jenis-Jenis Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia

Blog: Pusat Referensi Linguistik

Pengantar: Menjelajahi Ragam Bentuk Penggabungan

Jenis-Jenis Kata Majemuk dalam Bahasa Indonesia


Setelah membahas hakikat dan ciri-ciri kata majemuk, kita kini tiba pada eksplorasi yang lebih sistematis: bagaimana kata majemuk diklasifikasikan? Bab 6.3: Jenis Kata Majemuk ini akan memetakan berbagai pola penggabungan yang menghasilkan unit leksikal baru tersebut. Pengelompokan ini penting karena tidak semua kata majemuk dibentuk dengan cara yang sama. Dengan memahami jenis-jenisnya, kita dapat melihat pola produktivitas, hubungan gramatikal antar unsur, dan logika di balik pembentukan kosakata seperti obat nyamuk, tahan banting, dan mendayung udara. Artikel ini akan mengelompokkan kata majemuk berdasarkan tiga perspektif utama: kategori gramatikal hasil, hubungan semantis antar konstituen, dan keterikatannya dengan afiksasi.

1. Klasifikasi Berdasarkan Kategori Kata Hasil

Klasifikasi paling langsung adalah melihat kelas kata (part of speech) apa yang dihasilkan dari proses pemajemukan. Ini menentukan fungsi kata majemuk tersebut dalam kalimat.

1.1 Nomina Majemuk (Kata Benda Majemuk)

Jenis ini paling produktif dan banyak dijumpai. Fungsinya untuk menamai benda, konsep, atau entitas baru.

·         Contoh:

o    Benda konkret: rumah sakit, meja tulis, kapal terbang, orang utan.

o    Konsep abstrak: kebiasaan hidup, buah pikiran, bumi putra, hak asasi.

o    Pekerjaan/peran: tukang cukur, ibu kota, anak buah.

·         Pola Umum: Sering kali pola [N + N] (kapal terbang), [N + A] (orang tua), atau [V + N] (alat hitung).

1.2 Verba Majemuk (Kata Kerja Majemuk)

Menyatakan suatu tindakan atau proses yang telah terspesialisasi maknanya.

·         Contoh:

o    tandatangan (melakukan aktivitas memberi tanda tangan)

o    campur tangan (ikut serta/intervensi)

o    angkat kaki (pergi/meninggalkan)

o    cuci mata (jalan-jalan untuk melihat-lihat)

·         Pola Umum: Pola [V + N] (angkat kaki), [V + V] (lihat lihat), atau [A + V] (rendah diri).

1.3 Adjektiva Majemuk (Kata Sifat Majemuk)

Berfungsi untuk memerikan sifat atau kualitas yang kompleks.

·         Contoh:

o    buta huruf (tidak dapat membaca)

o    ringan tangan (suka menolong)

o    keras kepala (tidak mau mendengar nasihat)

o    merah padam (merah sekali)

·         Pola Umum: Pola [A + N] (keras kepala), [A + A] (merah muda), atau [Num + A] (setengah hati).

1.4 Numeralia Majemuk (Kata Bilangan Majemuk)

Terutama untuk menyatakan bilangan yang kompleks.

·         Contoh: tiga puluh, dua ratus, seribu sembilan ratus, seperdua.

·         Catatan: Jenis ini sangat teratur dan komposisional, namun tetap dianggap majemuk karena membentuk satu konsep bilangan utuh (Alwi et al., 2003).

2. Klasifikasi Berdasarkan Hubungan Semantis Antar Unsur (Struktur Internal)

Ini adalah klasifikasi yang paling analitis dan menarik secara linguistik. Ia melihat relasi makna dan gramatikal apa yang menghubungkan unsur pertama (modifier) dan unsur kedua (head) dalam kata majemuk. Sering kali, unsur kedua menjadi inti (head) yang ditentukan oleh unsur pertama.

2.1 Modifikasi (Endosentris)

Unsur kedua adalah inti (head), dan unsur pertama memodifikasi atau membatasinya. Sebagian besar kata majemuk bahasa Indonesia masuk tipe ini.

·         Sub-jenis:

o    Hubungan Pemilikan/Kepunyaan: baju besi (baju yang terbuat dari besi), kantor pos (kantor untuk urusan pos).

o    Hubungan Tempat: kolam renang (kolam untuk berenang), tali sepatu (tali untuk sepatu).

o    Hubungan Fungsi: obat nyamuk (obat untuk mengusir nyamuk), alat hitung.

o    Hubungan Perbandingan/Sifat: kuda laut (hewan laut yang seperti kuda), lidah buaya (tumbuhan dengan daun seperti lidah buaya).

2.2 Koordinatif (Eksosentris)

Unsur-unsurnya setara dan memiliki status yang sama. Gabungan keduanya menciptakan makna baru yang mencakup kedua unsur tersebut atau menciptakan makna tersendiri.

·         Contoh:

o    Menunjukkan Pasangan: suami istri, ibu bapak, dara dadi (gadis dan jejaka).

o    Menunjukkan Aktivitas Bolak-balik: mondar mandir, hilir mudik, tarik ulur.

o    Menunjukkan Kelengkapan: sayur mayur (berbagai sayuran), lauk pauk (berbagai lauk).

2.3 Apositif

Unsur kedua mendeskripsikan atau mengaposisikan unsur pertama. Keduanya merujuk pada entitas yang sama.

·         Contoh: kota Jakarta, Presiden Jokowi, tanaman singkong. Meski mirip frasa, beberapa konstruksi ini telah mengalami leksikalisasi dan dianggap majemuk, terutama jika membentuk nama diri atau istilah khusus.

2.4 Reduplikatif (Majemuk Semu)

Bentuk ini mirip reduplikasi, namun dengan perubahan bunyi pada salah satu unsurnya. Ia sudah sangat padu dan idiomatis.

·         Contoh: lalu lalang, gerak gerik, serba serbi, huru hara. Menurut Sneddon (2010), konstruksi ini sering kali tidak dapat dianalisis secara komposisional lagi.

3. Klasifikasi Berdasarkan Kehadiran Afiks

Kata majemuk juga dapat dilihat dari ada tidaknya afiks yang melekat.

3.1 Kata Majemuk Murni (Tanpa Afiks)

Gabungan dua kata dasar tanpa imbuhan. Contoh: jalan raya, tahan banting, mata keranjang.

3.2 Kata Majemuk Berafiks

Afiksasi terjadi pada salah satu unsur atau pada keseluruhan konstruksi. Afiksasi ini bisa terjadi sebelum atau setelah proses pemajemukan.

·         Afiks pada Salah Satu Unsur: per-tanda-an + alampertanda alam.

·         Afiks pada Seluruh Konstruksi (Paling Khas): ber- + tangan ringanbertangan ringan (suka mencuri). Di sini, prefiks ber- melekat pada keseluruhan kata majemuk tangan ringan, membuktikan penyatuannya. Contoh lain: me- + tanda tanganimenandatangani, ke- + rendah hatiankerendahhatian (Kridalaksana, 2007).

4. Jenis Khusus: Kata Majemuk yang Mengalami Perubahan Kelas Kata

Beberapa kata majemuk menarik karena hasilnya memiliki kategori kata yang berbeda dari konstituen penyusunnya.

·         Verba dari Gabungan Nomina: tandatangan (V dari N+N), campur tangan (V dari V+N).

·         Adjektiva dari Gabungan Nomina: keras kepala (A dari A+N).

·         Fenomena ini menunjukkan bahwa pemajemukan, seperti afiksasi, adalah proses derivasional yang dapat mengubah kategori kata.

5. Tantangan dan Batas-batas yang Cair

Pengelompokan ini tidak selalu mutlak. Satu kata majemuk bisa dilihat dari berbagai sudut.

·         Matahari: Dari segi hasil = Nomina Majemuk. Dari segi hubungan = Modifikasi (mata dari hari), tetapi telah sangat leksikalisasi.

·         Tahan banting: Dari segi hasil = bisa Adjektiva (kuat) atau Verba (dapat menahan bantingan). Dari segi hubungan = bisa dilihat sebagai Modifikasi atau koordinatif.

Selain itu, terdapat kontinum antara frasa dan kata majemuk. Sebuah konstruksi seperti jalan cepat mungkin masih berupa frasa dalam konteks olahraga (lomba jalan cepat), tetapi mulai mendekati kata majemuk ketika digunakan secara lebih idiomatis. Produktivitas setiap jenis juga berbeda. Pola modifikasi [N+N] dan [N+A] sangat produktif, sementara jenis reduplikatif sudah tidak produktif lagi (tidak menghasilkan bentuk baru).

Kesimpulan: Peta yang Memandu Pemahaman

Memahami jenis-jenis kata majemuk ibarat memiliki peta untuk menjelajahi lanskap kosakata bahasa Indonesia yang luas. Peta ini mengungkap bahwa di balik keanekaragaman bentuk, terdapat pola-pola yang sistematis—baik dalam hal kategori, hubungan semantis, maupun interaksinya dengan afiks.

Pengetahuan ini tidak hanya bernilai teoritis, tetapi juga sangat aplikatif:

1.      Bagi Peneliti Bahasa: Memberikan kerangka untuk menganalisis produktivitas dan perubahan morfologis.

2.      Bagi Pengajar dan Pelajar Bahasa: Membantu dalam pengajaran kosakata dengan menjelaskan logika di balik pembentukan kata-kata kompleks.

3.      Bagi Penerjemah dan Penulis: Membantu memilih padanan yang tepat dengan memahami struktur dan nuansa makna yang dibawa oleh setiap jenis.

Dengan demikian, pengelompokan kata majemuk bukanlah sekadar kategorisasi yang kaku, melainkan sebuah lensa analitis yang memungkinkan kita untuk mengapresiasi kecanggihan dan kreativitas sistem morfologi bahasa Indonesia dalam menciptakan makna-makna baru dari bahan-bahan leksikal yang sudah ada.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2003). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ketiga). Balai Pustaka.

Kridalaksana, H. (2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia (Edisi kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Sneddon, J. N. (2010). Indonesian reference grammar (2nd ed.). Allen & Unwin.

 

 

 

 

E_Buku Morfologi


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...