Sabtu, 10 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.3 Sufiks

Pendahuluan

Sufiks

Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, sufiks atau akhiran merupakan salah satu jenis afiks yang memiliki peran penting dalam pembentukan kata. Jika prefiks dilekatkan di awal bentuk dasar, sufiks justru dibubuhkan di bagian akhir. Meskipun secara jumlah tidak sebanyak prefiks, sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat strategis, terutama dalam pembentukan nomina, verba, dan adjektiva, serta dalam pengembangan makna dan fungsi gramatikal kata.

Kata-kata seperti tulisan, bacaan, harapkan, besarnya, dan manusiawi menunjukkan bagaimana sufiks bekerja secara sistematis untuk mengubah kelas kata, memperluas makna, atau menandai relasi sintaktis tertentu. Dalam bahasa akademik dan pendidikan, penggunaan sufiks bahkan sangat dominan, terutama dalam pembentukan istilah abstrak dan nominalisasi.

Bagian ini membahas secara komprehensif konsep sufiks dalam bahasa Indonesia, mencakup pengertian sufiks, karakteristik morfologisnya, jenis-jenis sufiks utama, fungsi dan makna sufiks, serta implikasinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

4.3.1 Pengertian Sufiks

Sufiks adalah afiks yang dilekatkan pada bagian akhir bentuk dasar. Dalam linguistik, sufiks termasuk morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya memiliki makna atau fungsi apabila bergabung dengan bentuk dasar tertentu.

Menurut Katamba (1993), sufiks merupakan afiks yang secara struktural berada di posisi kanan bentuk dasar dan berfungsi membentuk kata baru atau menandai fungsi gramatikal tertentu. Dalam bahasa Indonesia, sufiks umumnya bersifat derivatif, meskipun dalam konteks tertentu juga memiliki fungsi inflektif.

Alwi et al. (2014) mendefinisikan sufiks sebagai imbuhan akhir yang dibubuhkan pada kata dasar untuk membentuk kata turunan dengan makna atau kelas kata tertentu. Dengan demikian, sufiks dapat dipahami sebagai:

afiks yang dibubuhkan di belakang bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau menandai hubungan gramatikal tertentu.

 

4.3.2 Karakteristik Sufiks dalam Bahasa Indonesia

Sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik utama, antara lain:

1.      Melekat pada akhir bentuk dasar
Posisi sufiks selalu berada di sisi kanan bentuk dasar.

2.      Produktif dalam pembentukan nomina
Banyak sufiks digunakan untuk membentuk nomina abstrak atau konkret.

3.      Sering berfungsi derivatif
Sufiks umumnya mengubah makna leksikal dan/atau kelas kata.

4.      Berperan dalam nominalisasi
Bahasa Indonesia sangat bergantung pada sufiks untuk membentuk istilah akademik dan ilmiah.

Menurut Bauer (2003), karakteristik ini menjadikan sufiks sebagai elemen penting dalam pengembangan kosakata dan wacana ilmiah.

 

4.3.3 Jenis-Jenis Sufiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sejumlah sufiks yang produktif dan sering digunakan. Berikut pembahasan sufiks-sufiks utama.

 

1. Sufiks -an

Sufiks -an merupakan salah satu sufiks paling produktif dalam bahasa Indonesia. Sufiks ini umumnya membentuk nomina dari verba atau adjektiva.

Contoh:

·         tulistulisan

·         bacabacaan

·         bangunbangunan

Secara semantis, sufiks -an dapat menyatakan:

·         Hasil perbuatan

·         Alat

·         Tempat

Sneddon et al. (2010) menyebut -an sebagai sufiks multifungsi karena variasi makna yang dihasilkannya.

 

2. Sufiks -kan

Sufiks -kan berfungsi membentuk verba transitif kausatif atau aplikatif.

Contoh:

·         besarbesarkan

·         ingatingatkan

Sufiks ini sering digunakan untuk menandai bahwa subjek menyebabkan terjadinya suatu peristiwa terhadap objek. Dalam analisis sintaksis, sufiks -kan berkaitan erat dengan peningkatan valensi verba.

 

3. Sufiks -i

Sufiks -i membentuk verba transitif yang menyatakan tindakan berulang, lokasi, atau sasaran tertentu.

Contoh:

·         isiisimengisimengisi-i

·         hiasi

·         lengkapi

Sufiks -i sering dibandingkan dengan -kan, dan perbedaan penggunaannya menjadi salah satu topik penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia (Alwi et al., 2014).

 

4. Sufiks -nya

Sufiks -nya memiliki fungsi yang lebih beragam dibandingkan sufiks lain. Sufiks ini dapat berfungsi sebagai:

·         Penanda posesif

·         Penanda penegasan

·         Pembentuk nomina tertentu

Contoh:

·         bukunya

·         indahnya pemandangan

Secara morfologis, -nya sering dianggap berada di batas antara morfologi dan sintaksis.

 

5. Sufiks -wan / -wati

Sufiks -wan dan -wati digunakan untuk membentuk nomina yang merujuk pada pelaku atau profesi.

Contoh:

·         seniseniman

·         olahragaolahragawan

Sufiks ini memiliki nuansa formal dan sering digunakan dalam bahasa tulis dan bahasa resmi.

 

6. Sufiks -isme / -isasi

Sufiks -isme dan -isasi banyak digunakan dalam pembentukan istilah ilmiah dan akademik.

Contoh:

·         nasionalisme

·         modernisasi

Menurut Halliday (2004), penggunaan sufiks ini mencerminkan kecenderungan nominalisasi dalam bahasa ilmiah.

 

4.3.4 Sufiks dan Perubahan Kelas Kata

Sufiks berperan besar dalam mengubah kelas kata, terutama:

·         Verba → Nomina

·         Adjektiva → Nomina

·         Nomina → Verba

Contoh:

·         ajarajaran

·         bersihkebersihan

Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut proses ini sebagai derivasi leksikal yang memperkaya sistem kosakata bahasa.

 

4.3.5 Sufiks dalam Bahasa Media dan Pendidikan

Dalam bahasa media, sufiks sering digunakan untuk menciptakan kata yang ringkas dan komunikatif, seperti tayangan, laporan, dan penayangan. Dalam bahasa pendidikan, sufiks mendominasi pembentukan istilah abstrak seperti pemahaman, penguasaan, dan penilaian.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sufiks berperan penting dalam membentuk gaya bahasa dan tingkat formalitas suatu teks.

 

4.3.6 Implikasi Pembelajaran Sufiks

Pemahaman sufiks membantu peserta didik:

1.      Memahami struktur kata kompleks

2.      Mengembangkan kosakata akademik

3.      Meningkatkan kemampuan menulis

Kesadaran morfologis terhadap sufiks terbukti berkontribusi terhadap kemampuan literasi, terutama dalam konteks pendidikan formal (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Sufiks merupakan komponen penting dalam sistem afiksasi bahasa Indonesia. Melalui sufiks, bahasa Indonesia mampu membentuk kata turunan yang kaya makna dan fungsi gramatikal, terutama dalam ranah akademik dan pendidikan. Pemahaman yang mendalam mengenai sufiks menjadi fondasi penting untuk kajian morfologi lanjutan serta pengajaran bahasa yang efektif dan berbasis linguistik.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.


 

 

Jumat, 09 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.2 Prefiks

Pendahuluan

Prefiks


Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, prefiks atau awalan merupakan jenis afiks yang paling sering digunakan dan paling mudah dikenali oleh penutur bahasa. Prefiks berperan penting dalam pembentukan kata, khususnya dalam membentuk verba, nomina, dan adjektiva, serta dalam menandai hubungan gramatikal seperti diatesis aktif–pasif, aspek, dan relasi makna tertentu.

Penggunaan prefiks tidak hanya terbatas pada bahasa baku, tetapi juga sangat produktif dalam bahasa media, bahasa pendidikan, dan bahasa sehari-hari. Kata-kata seperti menulis, dibaca, berjalan, terlihat, dan pengajar menunjukkan betapa sentralnya peran prefiks dalam sistem bahasa Indonesia. Oleh karena itu, pembahasan mengenai prefiks menjadi bagian penting dalam kajian afiksasi.

Bagian ini membahas secara komprehensif pengertian prefiks, karakteristik prefiks dalam bahasa Indonesia, jenis-jenis prefiks utama beserta fungsi dan maknanya, serta implikasinya dalam analisis linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

4.2.1 Pengertian Prefiks

Prefiks adalah afiks yang dilekatkan pada bagian awal bentuk dasar. Dalam terminologi linguistik, prefiks termasuk morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya bermakna apabila melekat pada bentuk dasar tertentu.

Menurut Katamba (1993), prefiks adalah jenis afiks yang secara struktural berada di posisi kiri bentuk dasar dan berfungsi untuk membentuk kata baru atau menandai fungsi gramatikal tertentu. Dalam bahasa Indonesia, prefiks merupakan sarana utama pembentukan verba dan nomina turunan.

Alwi et al. (2014) mendefinisikan prefiks sebagai imbuhan awal yang berfungsi membentuk kata berafiks dengan makna dan kelas kata tertentu. Dengan demikian, prefiks dapat dipahami sebagai:

afiks yang dibubuhkan di depan bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau mengubah fungsi gramatikal kata tersebut.

 

4.2.2 Prefiks sebagai Unsur Morfologis

Sebagai unsur morfologis, prefiks memiliki beberapa karakteristik utama:

1.      Tidak dapat berdiri sendiri
Prefiks seperti me-, di-, atau ber- tidak memiliki makna leksikal apabila berdiri sendiri.

2.      Melekat secara sistematis pada bentuk dasar
Pembubuhan prefiks mengikuti aturan fonologis dan morfologis tertentu, misalnya perubahan bentuk me- menjadi men-, mem-, atau meng-.

3.      Berfungsi derivatif dan/atau inflektif
Prefiks dapat membentuk kata baru (derivasi) atau menandai fungsi gramatikal tanpa membentuk entri leksikal baru (infleksi).

Menurut Bauer (2003), karakteristik ini menunjukkan bahwa prefiks bukan sekadar unsur tambahan, tetapi bagian integral dari sistem pembentukan kata.

 

4.2.3 Jenis-Jenis Prefiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sejumlah prefiks utama yang produktif dan sering digunakan. Berikut pembahasan prefiks-prefiks yang paling penting.

 

1. Prefiks me-

Prefiks me- merupakan prefiks verbal yang sangat produktif dan berfungsi membentuk verba aktif transitif.

Contoh:

·         tulismenulis

·         bacamembaca

·         ambilmengambil

Prefiks me- mengalami variasi bentuk (alomorf) seperti mem-, men-, meng-, dan meny- tergantung pada fonem awal bentuk dasar. Sneddon et al. (2010) menjelaskan bahwa variasi ini merupakan hasil penyesuaian fonologis untuk mempermudah pengucapan.

Secara semantis, prefiks me- menandai:

·         Tindakan aktif

·         Pelaku sebagai subjek

·         Hubungan transitif antara subjek dan objek

 

2. Prefiks di-

Prefiks di- merupakan pasangan gramatikal dari prefiks me- dan berfungsi membentuk verba pasif.

Contoh:

·         ditulis

·         dibaca

·         diambil

Dalam bahasa Indonesia baku, di- sebagai prefiks harus dibedakan dari di sebagai preposisi. Prefiks di- ditulis serangkai dengan kata dasarnya, sedangkan preposisi di ditulis terpisah (Alwi et al., 2014).

Secara morfologis, prefiks di- bersifat lebih inflektif karena tidak selalu membentuk makna leksikal baru, melainkan mengubah struktur sintaktis kalimat.

 

3. Prefiks ber-

Prefiks ber- membentuk verba intransitif yang menyatakan:

·         Keadaan

·         Kepemilikan

·         Aktivitas tanpa objek langsung

Contoh:

·         berjalan

·         berbicara

·         beristri

Menurut Katamba (1993), prefiks ber- menunjukkan bahwa subjek terlibat langsung dalam keadaan atau aktivitas yang dinyatakan oleh verba.

 

4. Prefiks ter-

Prefiks ter- memiliki beberapa fungsi semantis, antara lain:

1.      Menyatakan keadaan tidak disengaja

2.      Menyatakan kemampuan atau kemungkinan

3.      Menyatakan makna superlatif pada adjektiva

Contoh:

·         terjatuh

·         terbaca

·         terindah

Prefiks ter- sering menimbulkan ambiguitas makna, sehingga penafsiran konteks menjadi sangat penting.

 

5. Prefiks pe-

Prefiks pe- berfungsi membentuk nomina, terutama yang merujuk pada pelaku atau alat.

Contoh:

·         ajarpengajar

·         tulispenulis

Prefiks ini memiliki variasi bentuk seperti pem-, pen-, dan peng- yang mengikuti aturan fonologis yang sama dengan prefiks me-.

 

6. Prefiks ke-

Prefiks ke- dalam bahasa Indonesia umumnya membentuk nomina atau adjektiva tertentu, terutama dalam kombinasi dengan sufiks -an.

Contoh:

·         keadilan

·         kebaikan

Dalam beberapa konteks, prefiks ke- juga digunakan untuk membentuk adjektiva numeralia seperti kedua atau ketiga.

 

4.2.4 Prefiks dan Perubahan Kelas Kata

Salah satu fungsi utama prefiks adalah mengubah kelas kata. Misalnya:

·         Verba → Nomina (mengajarpengajar)

·         Adjektiva → Nomina (adilkeadilan)

Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut proses ini sebagai category-changing derivation, yaitu derivasi yang melibatkan perubahan kategori gramatikal.

 

4.2.5 Prefiks dalam Bahasa Media dan Pendidikan

Dalam bahasa media, prefiks sering digunakan secara kreatif untuk membentuk kata-kata baru seperti memviralkan atau berkonten. Sementara itu, dalam bahasa pendidikan, penggunaan prefiks cenderung lebih baku dan sistematis, misalnya pembelajaran, penilaian, dan pengembangan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa prefiks berfungsi tidak hanya sebagai alat gramatikal, tetapi juga sebagai sarana inovasi leksikal.

 

4.2.6 Implikasi Pembelajaran Prefiks

Pemahaman prefiks sangat penting dalam pembelajaran bahasa karena:

1.      Membantu penguasaan kosakata

2.      Meningkatkan kesadaran struktur kata

3.      Mempermudah pemahaman teks akademik

Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis, termasuk pemahaman prefiks, berkontribusi signifikan terhadap kemampuan membaca dan menulis (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Prefiks merupakan jenis afiks yang paling produktif dan paling berperan dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Melalui prefiks, bahasa Indonesia mampu membentuk berbagai jenis kata, menandai relasi gramatikal, serta mengembangkan kosakata secara dinamis. Pemahaman yang baik mengenai prefiks menjadi dasar penting untuk mengkaji afiksasi secara lebih mendalam, baik dalam kajian linguistik maupun dalam praktik pembelajaran bahasa.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., Djenar, D. N., & Ewing, M. C. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.

 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...