Kamis, 08 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

4.1 Pengertian Afiksasi

Pendahuluan

Pengertian Afiksasi


Afiksasi merupakan salah satu proses morfologis paling penting dan paling produktif dalam bahasa Indonesia. Melalui afiksasi, penutur bahasa dapat membentuk kata baru, mengubah kelas kata, memperluas makna, serta menyesuaikan fungsi gramatikal kata sesuai dengan kebutuhan komunikasi. Hampir seluruh aktivitas berbahasa, baik dalam ranah lisan maupun tulis—termasuk bahasa media, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmiah—tidak dapat dilepaskan dari proses afiksasi.

Dalam kajian linguistik, afiksasi tidak hanya dipahami sebagai penambahan imbuhan pada kata dasar, tetapi juga sebagai mekanisme sistemik yang mencerminkan struktur internal bahasa. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian afiksasi menjadi landasan konseptual yang sangat penting sebelum membahas jenis-jenis afiks, fungsi afiks, dan pola afiksasi dalam bahasa Indonesia.

Bagian ini secara khusus membahas pengertian afiksasi dari perspektif morfologi, mencakup definisi afiksasi, posisi afiks dalam struktur kata, hubungan afiksasi dengan bentuk dasar, serta peran afiksasi dalam sistem gramatikal bahasa Indonesia.

 

4.1.1 Morfologi dan Proses Pembentukan Kata

Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Menurut Katamba (1993), morfologi berfokus pada bagaimana kata dibangun dari satuan yang lebih kecil, yaitu morfem, serta bagaimana perubahan bentuk tersebut memengaruhi makna dan fungsi gramatikal.

Dalam morfologi, terdapat beberapa proses pembentukan kata utama, antara lain:

1.      Afiksasi

2.      Reduplikasi

3.      Pemajemukan

4.      Pemendekan

Di antara proses-proses tersebut, afiksasi merupakan proses yang paling sistematis dan paling produktif dalam bahasa Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya afiks yang tersedia serta luasnya variasi kata turunan yang dapat dihasilkan dari satu bentuk dasar.

 

4.1.2 Pengertian Afiksasi

Secara umum, afiksasi dapat didefinisikan sebagai proses morfologis yang melibatkan penambahan afiks pada bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau bentuk kata baru. Aronoff dan Fudeman (2011) menyatakan bahwa afiksasi adalah salah satu mekanisme utama dalam derivasi dan infleksi, yaitu proses yang menghasilkan perubahan makna leksikal dan/atau fungsi gramatikal.

Dalam konteks bahasa Indonesia, Alwi et al. (2014) mendefinisikan afiksasi sebagai proses pembubuhan imbuhan pada bentuk dasar, baik di awal, di tengah, maupun di akhir kata. Imbuhan tersebut disebut afiks, sedangkan hasil dari proses afiksasi disebut kata berafiks.

Dengan demikian, afiksasi dapat dipahami sebagai:

proses pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar sehingga menghasilkan bentuk kata baru yang memiliki makna dan/atau fungsi gramatikal tertentu.

 

4.1.3 Afiks dan Bentuk Dasar

Dalam afiksasi, terdapat dua unsur utama yang selalu terlibat, yaitu afiks dan bentuk dasar. Afiks adalah morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri, sedangkan bentuk dasar adalah satuan morfologis yang menjadi landasan pembentukan kata.

Contoh:

·         tulismenulis

·         ajarpengajaran

·         adilketidakadilan

Dalam contoh tersebut, tulis, ajar, dan adil berfungsi sebagai bentuk dasar, sedangkan me-, pe- -an, dan ke- -an merupakan afiks.

Menurut Bauer (2003), bentuk dasar dalam afiksasi tidak selalu berupa morfem tunggal. Bentuk dasar dapat berupa kata yang sudah mengalami proses morfologis sebelumnya, selama bentuk tersebut masih dapat menerima afiks tambahan.

 

4.1.4 Afiksasi sebagai Proses Derivasi dan Infleksi

Dalam linguistik, afiksasi sering dikaitkan dengan dua jenis proses utama, yaitu derivasi dan infleksi.

1.      Afiksasi Derivatif
Afiksasi derivatif adalah afiksasi yang menghasilkan kata baru dengan makna leksikal baru dan sering kali mengubah kelas kata.

Contoh:

o    baca (verba) → pembaca (nomina)

o    indah (adjektiva) → keindahan (nomina)

2.      Afiksasi Inflektif
Afiksasi inflektif adalah afiksasi yang tidak menghasilkan kata baru, tetapi hanya menandai fungsi gramatikal tertentu, seperti aspek, diatesis, atau relasi sintaktis.

Dalam bahasa Indonesia, afiks inflektif tidak seproduktif bahasa-bahasa flektif, tetapi dapat ditemukan dalam prefiks seperti di- pada verba pasif.

Haspelmath dan Sims (2010) menegaskan bahwa perbedaan derivasi dan infleksi bersifat gradual, bukan mutlak, terutama dalam bahasa yang kaya afiksasi seperti bahasa Indonesia.

 

4.1.5 Karakteristik Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

Afiksasi dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik utama, antara lain:

1.      Produktivitas Tinggi
Satu bentuk dasar dapat menghasilkan banyak kata turunan melalui afiksasi.

Contoh:

o    ajarmengajar, pengajar, pelajaran, pengajaran

2.      Relatif Transparan Secara Morfologis
Hubungan antara bentuk dasar dan kata berafiks umumnya masih dapat dikenali.

3.      Berfungsi Sintaktis dan Semantis
Afiksasi tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga memengaruhi fungsi sintaktis dan makna leksikal.

Menurut Sneddon et al. (2010), karakteristik ini menjadikan afiksasi sebagai ciri khas utama morfologi bahasa Indonesia.

 

4.1.6 Afiksasi dan Kelas Kata

Afiksasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelas kata. Banyak afiks dalam bahasa Indonesia secara spesifik berfungsi membentuk kelas kata tertentu.

Contoh:

·         Afiks pembentuk verba: me-, di-, ber-

·         Afiks pembentuk nomina: pe-, ke- -an, -an

·         Afiks pembentuk adjektiva: ter-, ke- -an

Hubungan ini menunjukkan bahwa afiksasi merupakan mekanisme utama dalam klasifikasi kata dan pengembangan kosakata bahasa Indonesia.

 

4.1.7 Afiksasi dalam Penggunaan Bahasa Nyata

Dalam penggunaan bahasa nyata, afiksasi hadir di hampir semua ragam bahasa, mulai dari bahasa percakapan hingga bahasa akademik. Namun, tingkat kebakuan dan kompleksitas afiksasi dapat berbeda-beda.

·         Bahasa media cenderung menggunakan afiksasi yang ringkas dan komunikatif.

·         Bahasa pendidikan menggunakan afiksasi yang baku dan sistematis.

·         Bahasa ilmiah banyak memanfaatkan nominalisasi melalui afiksasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa afiksasi tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kontekstual dan fungsional.

 

4.1.8 Implikasi Afiksasi bagi Kajian Linguistik dan Pendidikan

Pemahaman yang baik tentang afiksasi memiliki implikasi luas, antara lain:

1.      Mempermudah analisis morfologis

2.      Meningkatkan kesadaran gramatikal pembelajar bahasa

3.      Membantu pengembangan kosakata secara sistematis

4.      Menjadi dasar pengajaran tata bahasa berbasis linguistik

Dalam konteks pendidikan bahasa, afiksasi merupakan materi inti yang membantu peserta didik memahami bagaimana kata dibentuk dan digunakan secara tepat.

 

Penutup

Afiksasi merupakan proses morfologis fundamental dalam bahasa Indonesia yang memungkinkan pembentukan kata secara produktif dan sistematis. Melalui afiksasi, bahasa Indonesia mampu mengekspresikan berbagai makna, fungsi gramatikal, dan hubungan sintaktis secara efisien.

Sebagai konsep dasar dalam morfologi, pengertian afiksasi menjadi fondasi penting untuk memahami jenis-jenis afiks, pola pembubuhan afiks, serta peran afiksasi dalam penggunaan bahasa nyata. Oleh karena itu, kajian afiksasi tidak hanya relevan bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memahami struktur bahasa Indonesia secara ilmiah.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., Djenar, D. N., & Ewing, M. C. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.

 


 

 

Rabu, 07 Januari 2026

Kata dan Bentuk Kata

 Kata dan Bentuk Kata

3.4 Studi Kasus Bahasa Media dan Pendidikan

Pendahuluan

Studi Kasus Bahasa Media dan Pendidikan


 
Perkembangan media massa dan dunia pendidikan telah membawa dampak signifikan terhadap penggunaan bahasa, khususnya pada tingkat kata dan bentuk kata. Bahasa yang digunakan dalam media—baik media cetak, media daring, maupun media sosial—sering kali menjadi rujukan utama masyarakat dalam berbahasa. Di sisi lain, bahasa pendidikan memiliki fungsi normatif dan pedagogis, yaitu sebagai model bahasa baku yang diharapkan dapat membentuk kompetensi linguistik peserta didik.

Dalam kajian morfologi, bahasa media dan bahasa pendidikan menyediakan lahan yang sangat kaya untuk studi kasus. Keduanya memperlihatkan dinamika pembentukan kata, variasi bentuk kata, inovasi morfologis, hingga penyimpangan dari kaidah baku. Perbedaan tujuan komunikatif antara media dan pendidikan menyebabkan perbedaan strategi morfologis yang digunakan, terutama dalam pemilihan kata, pembentukan kata turunan, serta penggunaan kelas kata tertentu.

Bagian ini membahas studi kasus penggunaan kata dan bentuk kata dalam bahasa media dan bahasa pendidikan, dengan fokus pada fenomena morfologis yang menonjol, implikasinya terhadap pemahaman bahasa, serta relevansinya bagi kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

3.4.1 Bahasa Media sebagai Laboratorium Morfologi

Bahasa media sering disebut sebagai “bahasa antara”, yaitu berada di antara bahasa baku dan bahasa nonbaku. Media massa dituntut untuk menyampaikan informasi secara cepat, ringkas, dan menarik, sehingga sering kali melakukan eksploitasi terhadap sistem morfologi bahasa.

Menurut Fairclough (1995), bahasa media tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampai informasi, tetapi juga sebagai sarana konstruksi realitas sosial. Dalam konteks ini, pembentukan kata menjadi strategi penting untuk membingkai makna dan menarik perhatian pembaca.

Inovasi Bentuk Kata dalam Media

Media sering memunculkan kata-kata baru melalui proses morfologis seperti:

·         Afiksasi kreatif: pemberlakuan, pengetatan, pelonggaran

·         Pemendekan dan akronim: PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), PPKM

·         Pemajemukan baru: banjir informasi, politik identitas

Kata-kata tersebut umumnya berangkat dari bentuk dasar yang sudah dikenal, tetapi dikembangkan menjadi bentuk turunan dengan makna yang kontekstual dan aktual. Dalam perspektif morfologi, fenomena ini menunjukkan produktivitas sistem afiksasi bahasa Indonesia (Bauer, 2003).

 

3.4.2 Pergeseran Makna dan Kelas Kata dalam Bahasa Media

Salah satu ciri khas bahasa media adalah terjadinya pergeseran makna dan kelas kata. Kata yang secara tradisional termasuk dalam satu kelas kata dapat mengalami perluasan fungsi akibat tuntutan gaya jurnalistik.

Contoh:

·         viral (adjektiva) → memviralkan (verba)

·         tren (nomina) → ngetren (verba informal)

·         konten (nomina) → mengontenkan (verba)

Proses ini menunjukkan bagaimana bentuk kata dalam media tidak hanya mengalami derivasi, tetapi juga reanalisis kelas kata. Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut fenomena ini sebagai category-changing derivation, yang mencerminkan fleksibilitas sistem morfologi dalam merespons kebutuhan komunikasi.

 

3.4.3 Bahasa Media dan Tantangan Kebakuan

Dari sudut pandang pendidikan bahasa, bahasa media sering dipandang problematis karena:

1.      Mengaburkan batas antara bahasa baku dan nonbaku

2.      Mempercepat penyebaran bentuk kata tidak baku

3.      Mempengaruhi kebiasaan berbahasa peserta didik

Namun, dari perspektif linguistik deskriptif, bahasa media justru merepresentasikan dinamika alami bahasa. Alwi et al. (2014) menegaskan bahwa kebakuan bahasa bukanlah sifat inheren bahasa, melainkan hasil kesepakatan sosial dan institusional.

Oleh karena itu, studi morfologi terhadap bahasa media perlu dilakukan secara kritis dan seimbang, tidak semata-mata normatif, tetapi juga analitis.

 

3.4.4 Bahasa Pendidikan dan Standarisasi Bentuk Kata

Berbeda dengan bahasa media, bahasa pendidikan berfungsi sebagai penjaga dan penyebar norma kebahasaan. Buku teks, modul pembelajaran, dan dokumen akademik umumnya menggunakan bahasa baku yang telah distandardisasi.

Dalam konteks morfologi, bahasa pendidikan dicirikan oleh:

·         Penggunaan bentuk kata baku

·         Konsistensi afiksasi sesuai kaidah

·         Penghindaran bentuk nonstandar dan slang

Contoh:

·         pembelajaran (bukan pembelajaan)

·         penilaian (bukan nilaiin)

·         ketidaksesuaian (bukan nggak sesuai)

Standarisasi ini penting untuk membangun kesadaran morfologis peserta didik, terutama dalam memahami hubungan antara bentuk dasar dan bentuk turunan.

 

3.4.5 Studi Kasus: Kata Turunan dalam Buku Teks Pendidikan

Buku teks pendidikan, khususnya pada jenjang sekolah dan perguruan tinggi, menunjukkan kecenderungan penggunaan kata turunan yang bersifat abstrak dan akademik.

Contoh kata yang sering muncul:

·         pemahaman

·         pengembangan

·         implementasi

·         evaluasi

Kata-kata tersebut umumnya dibentuk melalui afiksasi dan pemajemukan, dengan tingkat kompleksitas morfologis yang relatif tinggi. Menurut Halliday (2004), bahasa pendidikan cenderung menggunakan nominalisasi, yaitu proses mengubah verba atau adjektiva menjadi nomina abstrak untuk membangun wacana ilmiah.

Dari sudut pandang morfologi, nominalisasi ini memperkaya kosakata akademik, tetapi juga dapat menjadi hambatan pemahaman bagi peserta didik jika tidak disertai penjelasan yang memadai.

 

3.4.6 Dampak Bahasa Media terhadap Bahasa Pendidikan

Interaksi antara bahasa media dan bahasa pendidikan bersifat dua arah. Di satu sisi, bahasa pendidikan memengaruhi bahasa media melalui istilah-istilah teknis dan akademik. Di sisi lain, bahasa media memengaruhi bahasa pendidikan melalui popularisasi bentuk kata tertentu.

Contoh nyata:

·         Istilah literasi digital, hoaks, dan disrupsi awalnya banyak digunakan di media, kemudian masuk ke dalam wacana pendidikan dan kurikulum.

·         Bentuk kata seperti pembelajaran daring dan kelas virtual menjadi bagian dari bahasa pendidikan setelah masif digunakan di media.

Fenomena ini menunjukkan bahwa batas antara bahasa media dan bahasa pendidikan bersifat permeabel, terutama pada tingkat leksikal dan morfologis.

 

3.4.7 Implikasi bagi Kajian Morfologi

Studi kasus bahasa media dan pendidikan memberikan sejumlah implikasi penting bagi kajian morfologi:

1.      Menunjukkan produktivitas dan fleksibilitas sistem pembentukan kata

2.      Mengungkap hubungan antara bentuk kata dan konteks sosial

3.      Menegaskan peran institusi dalam standarisasi bahasa

4.      Menjadi dasar pengembangan bahan ajar linguistik yang kontekstual

Haspelmath dan Sims (2010) menekankan bahwa morfologi tidak dapat dilepaskan dari penggunaan bahasa nyata (language use). Oleh karena itu, analisis bentuk kata dalam media dan pendidikan sangat relevan untuk memperkaya kajian teoretis sekaligus aplikatif.

 

3.4.8 Implikasi Pedagogis

Dalam pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia dan bahasa asing, studi kasus ini dapat dimanfaatkan untuk:

·         Meningkatkan kesadaran morfologis siswa

·         Melatih kemampuan membedakan bentuk baku dan tidak baku

·         Mengembangkan literasi kritis terhadap bahasa media

Guru dan dosen dapat menggunakan teks media sebagai bahan ajar untuk menganalisis proses pembentukan kata, lalu membandingkannya dengan penggunaan kata dalam teks pendidikan. Pendekatan ini menjembatani teori linguistik dengan praktik berbahasa nyata.

 

Penutup

Studi kasus bahasa media dan pendidikan menunjukkan bahwa kata dan bentuk kata tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi dan konteks sosial. Bahasa media merepresentasikan inovasi dan dinamika morfologis, sementara bahasa pendidikan berperan sebagai penjaga norma dan kebakuan.

Melalui kajian morfologi, perbedaan dan interaksi antara kedua ragam bahasa ini dapat dipahami secara lebih objektif dan ilmiah. Pemahaman ini penting tidak hanya bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik, pembuat kebijakan bahasa, dan masyarakat luas dalam menghadapi tantangan kebahasaan di era digital.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Fairclough, N. (1995). Media discourse. Edward Arnold.

Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.

Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.

 


 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...