Selasa, 06 Januari 2026

Kata dan Bentuk Kata

 Kata dan Bentuk Kata

3.3 Kelas Kata dan Ciri Morfologisnya

Pendahuluan

Kelas Kata dan Ciri Morfologisnya


Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi dan sintaksis, konsep kelas kata (word classes atau parts of speech) merupakan salah satu pilar utama untuk memahami struktur dan fungsi bahasa. Kelas kata berfungsi sebagai alat klasifikasi yang membantu linguistis dan pembelajar bahasa mengidentifikasi perilaku kata dalam sistem gramatikal. Melalui kelas kata, kita dapat menjelaskan mengapa kata tertentu dapat menerima imbuhan tertentu, mengapa kata lain tidak, serta bagaimana kata berinteraksi dalam satuan sintaksis yang lebih besar.

Dalam bahasa Indonesia, pembahasan kelas kata sering kali diajarkan secara normatif, misalnya dengan pembagian nomina, verba, adjektiva, dan adverbia. Namun, dalam linguistik modern, kelas kata tidak hanya ditentukan oleh makna semantis, tetapi juga—dan terutama—oleh ciri morfologis dan sintaktis. Oleh karena itu, pembahasan kelas kata tidak dapat dilepaskan dari ciri-ciri morfologis yang melekat pada setiap kategori kata.

Bagian ini membahas secara komprehensif konsep kelas kata, prinsip penentuan kelas kata, serta ciri-ciri morfologis utama dari kelas kata dalam bahasa Indonesia, dengan merujuk pada kerangka linguistik modern dan tata bahasa baku.

 

3.3.1 Pengertian Kelas Kata

Kelas kata adalah pengelompokan kata berdasarkan kesamaan perilaku gramatikalnya. Crystal (2008) mendefinisikan kelas kata sebagai kategori leksikal yang dibedakan berdasarkan distribusi sintaktis dan kemungkinan proses morfologis yang dapat dikenakan padanya. Dengan kata lain, kelas kata tidak hanya berkaitan dengan “arti kata”, tetapi juga dengan bagaimana kata tersebut berfungsi dan berubah dalam struktur bahasa.

Dalam linguistik struktural dan generatif, kelas kata sering dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu:

1.      Kelas kata terbuka (open classes), seperti nomina dan verba, yang relatif mudah menerima anggota baru.

2.      Kelas kata tertutup (closed classes), seperti pronomina dan preposisi, yang jumlah anggotanya terbatas dan relatif stabil.

Pembagian ini penting karena berkaitan dengan produktivitas morfologis dan dinamika perkembangan kosakata suatu bahasa (Aronoff & Fudeman, 2011).

 

3.3.2 Prinsip Penentuan Kelas Kata

Penentuan kelas kata dalam linguistik modern umumnya didasarkan pada tiga kriteria utama:

1.      Kriteria Semantis
Berkaitan dengan makna leksikal kata, misalnya nomina sering dikaitkan dengan konsep benda atau entitas.

2.      Kriteria Sintaktis
Berkaitan dengan posisi dan fungsi kata dalam kalimat, seperti kemampuan menjadi subjek atau predikat.

3.      Kriteria Morfologis
Berkaitan dengan kemungkinan kata tersebut menerima proses morfologis tertentu, seperti afiksasi atau reduplikasi.

Di antara ketiga kriteria tersebut, ciri morfologis memiliki peran penting karena bersifat lebih formal dan teramati secara langsung. Sebuah kata dapat diidentifikasi sebagai verba, misalnya, karena dapat menerima prefiks me- atau di- dalam bahasa Indonesia.

 

3.3.3 Nomina dan Ciri Morfologisnya

Nomina (kata benda) adalah kelas kata yang secara prototipikal merujuk pada entitas, baik konkret maupun abstrak. Dalam bahasa Indonesia, nomina memiliki sejumlah ciri morfologis khas.

Ciri Morfologis Nomina

1.      Dapat menerima afiks pembentuk nomina, seperti pe-, ke- -an, dan -an.

o    ajarpengajar

o    adilkeadilan

2.      Dapat mengalami reduplikasi untuk menyatakan jamak.

o    bukubuku-buku

3.      Umumnya tidak dapat menerima afiks verbal seperti me- atau di-.

Menurut Alwi et al. (2014), ciri morfologis ini menjadi indikator utama untuk membedakan nomina dari kelas kata lain dalam bahasa Indonesia.

 

3.3.4 Verba dan Ciri Morfologisnya

Verba (kata kerja) merupakan kelas kata yang menyatakan perbuatan, proses, atau keadaan. Verba memiliki produktivitas morfologis yang tinggi, terutama dalam bahasa Indonesia.

Ciri Morfologis Verba

1.      Dapat menerima prefiks verbal seperti me-, di-, ber-, dan ter-.

o    tulismenulis

o    bacadibaca

2.      Dapat mengalami reduplikasi dengan makna iteratif atau intensif.

o    larilari-lari

3.      Dapat membentuk nomina atau adjektiva melalui proses derivasi.

o    ajarpengajaran

Verba menjadi pusat predikasi dalam kalimat, sehingga ciri morfologisnya sering berkaitan langsung dengan struktur sintaksis (Katamba, 1993).

 

3.3.5 Adjektiva dan Ciri Morfologisnya

Adjektiva (kata sifat) adalah kelas kata yang menyatakan kualitas atau keadaan suatu entitas. Dalam bahasa Indonesia, adjektiva memiliki ciri morfologis yang cukup khas.

Ciri Morfologis Adjektiva

1.      Dapat menerima prefiks ter- untuk menyatakan superlatif.

o    besarterbesar

2.      Dapat mengalami reduplikasi untuk menyatakan intensitas.

o    baikbaik-baik

3.      Dapat membentuk nomina abstrak melalui konfiks ke- -an.

o    indahkeindahan

Haspelmath dan Sims (2010) menekankan bahwa adjektiva sering berada di antara nomina dan verba secara tipologis, sehingga ciri morfologisnya pun bersifat peralihan.

 

3.3.6 Adverbia dan Ciri Morfologisnya

Adverbia (kata keterangan) berfungsi untuk menerangkan verba, adjektiva, atau seluruh klausa. Secara morfologis, adverbia dalam bahasa Indonesia relatif kurang produktif dibandingkan kelas kata lain.

Ciri Morfologis Adverbia

1.      Sebagian adverbia dibentuk melalui afiksasi.

o    cepatdengan cepat

2.      Umumnya tidak menerima afiks verbal atau nominal.

3.      Beberapa adverbia berasal dari adjektiva yang mengalami perubahan fungsi tanpa perubahan bentuk.

Keterbatasan proses morfologis ini menunjukkan bahwa adverbia lebih ditentukan oleh distribusi sintaktis dibandingkan oleh ciri morfologisnya.

 

3.3.7 Kelas Kata Tertutup dan Ciri Morfologisnya

Selain kelas kata utama, terdapat kelas kata tertutup seperti pronomina, preposisi, konjungsi, dan partikel. Kelas kata ini memiliki ciri morfologis yang sangat terbatas.

Ciri umum kelas kata tertutup antara lain:

·         Tidak produktif secara morfologis

·         Jarang atau tidak pernah menerima afiks

·         Jumlah anggotanya relatif tetap

Menurut Bauer (2003), keterbatasan morfologis ini menjadi alasan utama mengapa kelas kata tertutup jarang mengalami penambahan anggota baru.

 

3.3.8 Peran Ciri Morfologis dalam Klasifikasi Kelas Kata

Ciri morfologis memainkan peran penting dalam:

1.      Mengidentifikasi kelas kata secara objektif

2.      Menganalisis struktur internal kata

3.      Menjelaskan hubungan antara bentuk dan fungsi

4.      Mendukung pengajaran tata bahasa berbasis linguistik

Dalam penelitian linguistik dan pembelajaran bahasa, analisis kelas kata berbasis ciri morfologis terbukti lebih konsisten dibandingkan pendekatan semata-mata semantis.

 

Penutup

Kelas kata dan ciri morfologisnya merupakan aspek fundamental dalam kajian morfologi. Melalui ciri morfologis, kata dapat diklasifikasikan secara sistematis dan objektif, sehingga hubungan antara bentuk, makna, dan fungsi gramatikal dapat dipahami secara lebih mendalam. Dalam bahasa Indonesia, afiksasi dan reduplikasi menjadi penanda utama kelas kata, terutama bagi kelas kata terbuka seperti nomina, verba, dan adjektiva.

Pemahaman yang baik mengenai kelas kata dan ciri morfologisnya tidak hanya penting bagi linguistis, tetapi juga bagi pendidik dan pembelajar bahasa dalam mengembangkan kesadaran gramatikal dan kompetensi berbahasa secara menyeluruh.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Crystal, D. (2008). A dictionary of linguistics and phonetics (6th ed.). Blackwell Publishing.

Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.


 

 

 

 

Senin, 05 Januari 2026

Kata dan Bentuk Kata

 Kata dan Bentuk Kata

3.2 Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan

Pendahuluan

Kata dan Bentuk Kata


Dalam kajian morfologi, pembahasan mengenai bentuk dasar dan bentuk turunan menempati posisi yang sangat sentral. Kedua konsep ini menjadi kunci untuk memahami bagaimana kata dibentuk, dikembangkan, dan dimanfaatkan dalam sistem bahasa. Tanpa pemahaman yang jelas tentang bentuk dasar dan bentuk turunan, analisis terhadap proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan akan menjadi kabur dan tidak sistematis.

Dalam praktik berbahasa sehari-hari, penutur sering kali menggunakan bentuk turunan tanpa menyadari bentuk dasar yang melandasinya. Misalnya, kata menuliskan, penulisan, dan tertulis semuanya berakar pada bentuk dasar tulis. Fenomena ini menunjukkan bahwa bentuk dasar berfungsi sebagai fondasi morfologis yang memungkinkan terbentuknya berbagai variasi kata dengan makna dan fungsi gramatikal yang berbeda.

Bagian ini membahas secara komprehensif konsep bentuk dasar dan bentuk turunan dalam morfologi, mencakup definisi, karakteristik, jenis-jenis bentuk dasar, proses pembentukan bentuk turunan, serta implikasinya dalam analisis linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

3.2.1 Pengertian Bentuk Dasar

Bentuk dasar adalah bentuk kata yang menjadi landasan bagi pembentukan kata lain melalui proses morfologis. Dalam banyak literatur linguistik, bentuk dasar sering dikaitkan dengan istilah base, stem, atau root, meskipun ketiganya tidak selalu identik secara konseptual.

Menurut Bauer (2003), bentuk dasar (base) adalah satuan morfologis yang dapat menerima proses morfologis lebih lanjut. Artinya, bentuk dasar tidak harus selalu berupa morfem tunggal, tetapi dapat berupa kata yang sudah mengalami proses morfologis sebelumnya, selama masih memungkinkan terjadinya proses lanjutan.

Dalam konteks bahasa Indonesia, bentuk dasar sering dipahami sebagai kata yang belum mengalami afiksasi, seperti:

·         baca

·         tulis

·         adil

·         rumah

Namun, secara teoretis, bentuk dasar tidak selalu identik dengan “kata tanpa imbuhan”. Kata berjalan, misalnya, dapat menjadi bentuk dasar untuk membentuk kata berjalanlah atau berjalanan dalam konteks tertentu.

Dengan demikian, bentuk dasar dapat didefinisikan sebagai bentuk linguistik yang menjadi titik awal atau pijakan dalam proses pembentukan kata.

 

3.2.2 Bentuk Dasar, Akar, dan Pangkal Kata

Dalam morfologi, penting untuk membedakan beberapa istilah yang sering digunakan secara bergantian, tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbeda, yaitu akar (root), pangkal (stem), dan bentuk dasar (base).

1.      Akar (Root)
Akar adalah morfem paling inti yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut secara morfologis. Misalnya, tulis dalam menuliskan merupakan akar kata.

2.      Pangkal (Stem)
Pangkal adalah bentuk yang menjadi dasar bagi proses infleksi. Dalam kata berlarian, bentuk berlari dapat dianggap sebagai pangkal bagi sufiks -an.

3.      Bentuk Dasar (Base)
Bentuk dasar adalah istilah paling luas, mencakup semua bentuk yang dapat menjadi dasar bagi proses morfologis, baik berupa akar maupun bentuk yang sudah berafiks.

Katamba (1993) menegaskan bahwa istilah base bersifat fungsional, bukan struktural. Suatu bentuk disebut bentuk dasar bukan karena strukturnya, melainkan karena perannya dalam suatu proses morfologis.

 

3.2.3 Pengertian Bentuk Turunan

Bentuk turunan adalah bentuk kata yang dihasilkan melalui proses morfologis dari bentuk dasar. Proses ini dapat berupa afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, atau kombinasi dari beberapa proses sekaligus.

Menurut Aronoff dan Fudeman (2011), bentuk turunan (derived forms) merupakan hasil dari proses derivasi yang mengubah makna leksikal dan/atau kategori gramatikal suatu kata. Misalnya:

·         bacapembaca

·         adilkeadilan

·         ajarpengajaran

Bentuk turunan tidak hanya memperluas kosakata, tetapi juga mencerminkan produktivitas sistem morfologi suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia, sistem afiksasi yang kaya memungkinkan pembentukan bentuk turunan dalam jumlah besar dari satu bentuk dasar.

 

3.2.4 Proses Pembentukan Bentuk Turunan

1. Afiksasi

Afiksasi adalah proses penambahan afiks pada bentuk dasar. Afiks dapat berupa prefiks, sufiks, infiks, atau konfiks.

Contoh:

·         tulismenulis

·         tulispenulisan

·         adilketidakadilan

Afiksasi merupakan proses paling produktif dalam pembentukan bentuk turunan bahasa Indonesia (Alwi et al., 2014).

2. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses pengulangan bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian.

Contoh:

·         bukubuku-buku

·         larilari-lari

Reduplikasi dapat menghasilkan makna jamak, intensitas, atau variasi makna lain tergantung konteks.

3. Pemajemukan

Pemajemukan adalah penggabungan dua atau lebih bentuk dasar untuk membentuk satu kata baru.

Contoh:

·         rumah sakit

·         kepala sekolah

Dalam banyak kasus, bentuk turunan hasil pemajemukan memiliki makna yang tidak selalu dapat diturunkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya.

 

3.2.5 Hubungan Makna antara Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan

Hubungan antara bentuk dasar dan bentuk turunan bersifat sistematis, tetapi tidak selalu transparan. Dalam beberapa kasus, makna bentuk turunan dapat diprediksi dari bentuk dasarnya, seperti:

·         ajarpengajar

Namun, dalam kasus lain, terjadi pergeseran makna:

·         tangantangan kanan (makna metaforis)

·         kepalakepala sekolah

Haspelmath dan Sims (2010) menyebut fenomena ini sebagai semantic extension, yaitu perluasan makna yang terjadi akibat proses morfologis dan leksikalisasi.

 

3.2.6 Bentuk Dasar dan Bentuk Turunan dalam Analisis Morfologi

Dalam analisis morfologi, identifikasi bentuk dasar dan bentuk turunan memiliki beberapa fungsi penting:

1.      Menentukan struktur internal kata

2.      Mengidentifikasi proses morfologis yang terlibat

3.      Menjelaskan hubungan bentuk dan makna

4.      Membedakan derivasi dan infleksi

Kesalahan dalam menentukan bentuk dasar dapat menyebabkan analisis morfologis yang keliru, terutama dalam penelitian linguistik dan pengajaran bahasa.

 

3.2.7 Implikasi dalam Pembelajaran Bahasa

Dalam pembelajaran bahasa, pemahaman tentang bentuk dasar dan bentuk turunan membantu peserta didik:

·         Mengembangkan kosakata secara sistematis

·         Memahami makna kata baru

·         Meningkatkan kesadaran morfologis

Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis berkontribusi signifikan terhadap kemampuan membaca dan menulis, terutama dalam pembelajaran bahasa kedua (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Bentuk dasar dan bentuk turunan merupakan konsep fundamental dalam morfologi yang menjelaskan bagaimana kata dibangun dan dikembangkan dalam bahasa. Bentuk dasar berfungsi sebagai fondasi, sedangkan bentuk turunan merupakan hasil kreativitas sistem morfologis bahasa. Melalui pemahaman yang baik terhadap kedua konsep ini, analisis linguistik menjadi lebih akurat, dan pembelajaran bahasa dapat dilakukan secara lebih efektif dan bermakna.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...