Rabu, 31 Desember 2025

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia / Relevansi Morfologi dalam Kurikulum Sekolah

 Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia

1.4 Relevansi Morfologi dalam Kurikulum Sekolah

Pendahuluan


Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia




Kurikulum sekolah merupakan perangkat strategis yang menentukan arah, tujuan, dan kualitas pembelajaran. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kurikulum tidak hanya mengatur kompetensi keterampilan berbahasa, tetapi juga memuat landasan kebahasaan yang menopang keterampilan tersebut. Salah satu landasan kebahasaan yang memiliki relevansi tinggi dalam kurikulum sekolah adalah morfologi.

Morfologi, sebagai cabang linguistik yang mengkaji struktur dan pembentukan kata, memiliki kontribusi besar dalam membentuk kompetensi berbahasa peserta didik. Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah tidak dapat dilepaskan dari perannya dalam membantu peserta didik memahami makna kata, memperluas kosakata, serta menggunakan bahasa secara tepat dan efektif. Oleh karena itu, morfologi tidak hanya berfungsi sebagai materi kebahasaan, tetapi juga sebagai instrumen untuk mencapai tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia secara komprehensif.

Artikel ini membahas relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah dengan menyoroti perannya dalam pengembangan kompetensi berbahasa, kesesuaiannya dengan pendekatan pembelajaran berbasis teks, serta kontribusinya terhadap literasi dan pembentukan sikap berbahasa yang baik dan benar.

Morfologi sebagai Fondasi Kompetensi Kebahasaan

Dalam kurikulum sekolah, kompetensi kebahasaan mencakup kemampuan memahami dan menggunakan bahasa secara tepat sesuai kaidah. Morfologi memiliki relevansi langsung dengan kompetensi ini karena berkaitan dengan pembentukan dan penggunaan kata sebagai satuan dasar bahasa.

Chaer (2015) menyatakan bahwa penguasaan morfologi memungkinkan penutur memahami hubungan antara bentuk kata dan maknanya, baik makna leksikal maupun gramatikal. Dalam konteks kurikulum sekolah, pemahaman ini penting agar peserta didik tidak hanya mampu menggunakan kata secara intuitif, tetapi juga secara sadar dan sistematis.

Sebagai contoh, pemahaman tentang afiksasi membantu peserta didik membedakan makna dan fungsi kata menulis, penulis, tulisan, dan penulisan. Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata tersebut berpotensi dipahami sebagai bentuk yang terpisah tanpa hubungan makna yang jelas. Oleh karena itu, morfologi berfungsi sebagai fondasi konseptual dalam pembelajaran bahasa.

Relevansi Morfologi dengan Tujuan Kurikulum Bahasa Indonesia

Tujuan utama pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum sekolah adalah mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tulis, menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa, serta membentuk sikap positif terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Morfologi memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan-tujuan tersebut.

Dalam komunikasi tulis, ketepatan morfologis menjadi indikator penting kualitas bahasa. Kesalahan penggunaan imbuhan, pemisahan kata depan di dan prefiks di-, serta pembentukan kata yang tidak sesuai kaidah sering kali muncul dalam tulisan peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan morfologi merupakan prasyarat bagi keterampilan menulis yang efektif.

Kridalaksana (2008) menegaskan bahwa kata sebagai satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri memiliki peran sentral dalam pembentukan makna. Oleh karena itu, kurikulum yang menargetkan kompetensi berbahasa tidak dapat mengabaikan aspek morfologis sebagai bagian dari pembelajaran kebahasaan.

Morfologi dalam Kurikulum Berbasis Teks

Kurikulum Bahasa Indonesia modern mengadopsi pendekatan berbasis teks, di mana bahasa dipelajari melalui penggunaan dalam berbagai jenis teks. Dalam pendekatan ini, morfologi memiliki relevansi yang sangat tinggi karena setiap jenis teks memiliki ciri kebahasaan yang khas, termasuk ciri morfologis.

Teks laporan, misalnya, banyak menggunakan nomina abstrak hasil proses afiksasi seperti pengamatan, pengelompokan, dan pengukuran. Teks prosedur sering menggunakan verba pasif dan imperatif, sedangkan teks eksposisi dan argumentasi banyak memanfaatkan nominalisasi untuk menyatakan konsep abstrak.

Dengan memahami morfologi, peserta didik dapat mengenali pola kebahasaan dalam teks dan menggunakannya secara tepat ketika memproduksi teks. Ramlan (2009) menyatakan bahwa pemahaman proses morfologis membantu pembelajar memahami hubungan antara bentuk bahasa dan fungsi komunikatifnya dalam wacana.

Morfologi dan Pengembangan Kosakata Peserta Didik

Salah satu tantangan utama dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah adalah keterbatasan kosakata peserta didik. Morfologi memiliki relevansi yang signifikan dalam mengatasi tantangan ini karena menyediakan strategi sistematis untuk memperluas kosakata.

Dengan memahami pola pembentukan kata, peserta didik dapat mengembangkan kosakata secara produktif, bukan sekadar menghafal. Dari satu kata dasar, peserta didik dapat membentuk dan memahami berbagai kata turunan yang memiliki hubungan makna.

Sebagai ilustrasi, dari kata dasar nilai, peserta didik dapat memahami kata menilai, penilaian, dan bernilai. Pemahaman ini membantu peserta didik memahami teks akademik yang cenderung menggunakan bentuk kata kompleks dan abstrak.

Verhaar (2016) menyebutkan bahwa penguasaan morfologi memungkinkan penutur memanfaatkan potensi bahasa secara maksimal. Dalam kurikulum sekolah, hal ini sejalan dengan tujuan pengembangan literasi dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Relevansi Morfologi dalam Pembelajaran Literasi

Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kemampuan memahami, menganalisis, dan memproduksi teks secara kritis. Morfologi memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran literasi karena membantu peserta didik memahami makna kata dalam konteks teks.

Dalam membaca, pemahaman morfologi memungkinkan peserta didik menafsirkan makna kata baru berdasarkan struktur katanya. Hal ini sangat penting dalam membaca teks ilmiah dan informatif yang banyak menggunakan istilah teknis dan abstrak.

Dalam menulis, pemahaman morfologi membantu peserta didik memilih bentuk kata yang tepat sesuai tujuan komunikasi. Kesalahan morfologis dapat mengaburkan makna dan menurunkan kualitas teks. Oleh karena itu, morfologi berkontribusi langsung terhadap peningkatan literasi peserta didik.

Morfologi dan Pembentukan Sikap Berbahasa

Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah juga berkaitan dengan pembentukan sikap berbahasa yang baik dan bertanggung jawab. Pemahaman morfologi membantu peserta didik menyadari bahwa bahasa memiliki kaidah dan sistem yang perlu dihormati dalam penggunaannya.

Dalam konteks ini, morfologi berperan dalam menumbuhkan kesadaran berbahasa (language awareness). Peserta didik tidak hanya menggunakan bahasa secara spontan, tetapi juga memahami alasan di balik penggunaan bentuk tertentu. Sikap ini penting untuk membentuk generasi yang mampu menggunakan Bahasa Indonesia secara santun, efektif, dan bermartabat.

Tantangan dan Strategi Integrasi Morfologi dalam Kurikulum

Meskipun relevansinya tinggi, integrasi morfologi dalam kurikulum sekolah menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan pembelajaran morfologi yang bersifat mekanis dan berorientasi hafalan. Peserta didik sering diminta menghafal jenis imbuhan tanpa memahami fungsi dan konteks penggunaannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, morfologi perlu diajarkan secara kontekstual dan integratif. Pembelajaran morfologi sebaiknya dikaitkan dengan teks, keterampilan berbahasa, dan situasi komunikasi nyata. Dengan pendekatan ini, morfologi tidak lagi dipandang sebagai materi yang sulit dan abstrak, tetapi sebagai alat yang membantu peserta didik berkomunikasi secara efektif.

Penutup

Relevansi morfologi dalam kurikulum sekolah sangatlah kuat dan tidak dapat diabaikan. Morfologi berperan sebagai fondasi kompetensi kebahasaan, pendukung pembelajaran berbasis teks, serta sarana pengembangan kosakata dan literasi peserta didik. Melalui pemahaman morfologi, peserta didik dapat menggunakan Bahasa Indonesia secara lebih tepat, efektif, dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, morfologi perlu ditempatkan secara strategis dalam kurikulum sekolah, tidak hanya sebagai materi kebahasaan, tetapi sebagai bagian integral dari pengembangan kompetensi berbahasa. Dengan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif, morfologi dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Indonesia.

Daftar Pustaka

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 





 

 

Selasa, 30 Desember 2025

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia / Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia


1.3 Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pendahuluan

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia


Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tentang struktur bahasa itu sendiri. Salah satu aspek struktural yang paling fundamental adalah morfologi. Morfologi berperan penting dalam membantu peserta didik memahami bagaimana kata dibentuk, bagaimana makna kata berubah, serta bagaimana kata digunakan secara tepat dalam konteks kalimat dan wacana. Oleh karena itu, morfologi memiliki kedudukan strategis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, baik sebagai materi kebahasaan maupun sebagai alat untuk meningkatkan keterampilan berbahasa.

Dalam praktik pembelajaran, morfologi sering kali dipandang sekadar sebagai materi teknis yang membahas imbuhan, pengulangan, atau kata majemuk. Padahal, secara substantif, morfologi merupakan pintu masuk untuk memahami logika bahasa, hubungan bentuk dan makna, serta sistem gramatikal Bahasa Indonesia. Tanpa pemahaman morfologi yang memadai, peserta didik cenderung mengalami kesulitan dalam membaca teks, menulis secara efektif, dan memahami makna kata secara kontekstual.

 


 

Hakikat Morfologi dalam Konteks Pembelajaran Bahasa

Morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai pengetahuan deklaratif, tetapi juga sebagai pengetahuan prosedural yang mendukung keterampilan berbahasa. Menurut Chaer (2015), penguasaan morfologi memungkinkan penutur memahami bagaimana sebuah kata dapat berubah bentuk tanpa kehilangan identitas maknanya, serta bagaimana perubahan tersebut memengaruhi fungsi kata dalam kalimat.

Dalam konteks pendidikan, morfologi berfungsi sebagai sarana untuk:

1.      memperluas kosakata peserta didik,

2.      meningkatkan pemahaman makna kata,

3.      mengembangkan kemampuan menulis yang efektif,

4.      meningkatkan ketepatan penggunaan bahasa dalam komunikasi lisan dan tulis.

Dengan demikian, morfologi bukanlah tujuan akhir pembelajaran, melainkan alat untuk mencapai kompetensi berbahasa yang lebih tinggi.

Morfologi sebagai Dasar Penguasaan Kosakata

Salah satu kontribusi utama morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah dalam penguasaan kosakata. Kosakata Bahasa Indonesia sebagian besar dibentuk melalui proses morfologis, terutama afiksasi. Dengan memahami pola pembentukan kata, peserta didik dapat mengenali dan menafsirkan makna kata baru secara mandiri.

Sebagai contoh, dari kata dasar ajar, peserta didik dapat memahami hubungan makna antara mengajar, pengajar, pelajaran, dan pembelajaran. Pemahaman ini tidak hanya bersifat hafalan, tetapi bersifat analitis, karena peserta didik memahami peran setiap afiks dalam membentuk makna.

Kridalaksana (2008) menegaskan bahwa morfologi memberikan kerangka sistematis bagi pengembangan kosakata, karena setiap proses morfologis mengikuti kaidah tertentu. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman kaidah ini membantu peserta didik untuk menebak makna kata yang belum pernah mereka temui sebelumnya, khususnya dalam teks bacaan akademik atau ilmiah.

Peran Morfologi dalam Keterampilan Membaca

Dalam keterampilan membaca, morfologi berperan penting dalam membantu pembaca memahami makna teks. Pemahaman morfologis memungkinkan pembaca mengenali struktur kata dan hubungan makna antarkata dalam sebuah teks. Hal ini sangat penting dalam membaca teks informatif dan ilmiah yang banyak menggunakan kata turunan dan istilah abstrak.

Sebagai ilustrasi, kata ketidakberdayaan dapat diuraikan menjadi ke-, tidak, berdaya, dan -an. Dengan memahami struktur ini, pembaca dapat memahami makna kata tersebut secara lebih cepat dan akurat. Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata kompleks semacam ini dapat menjadi hambatan dalam memahami isi bacaan.

Ramlan (2009) menyatakan bahwa penguasaan morfologi dapat meningkatkan kemampuan inferensi makna dalam membaca, karena pembaca mampu memanfaatkan petunjuk bentuk kata untuk menafsirkan makna leksikal dan gramatikal.

 

Morfologi dan Keterampilan Menulis

Dalam keterampilan menulis, morfologi berperan dalam menentukan ketepatan dan keefektifan penggunaan kata. Kesalahan morfologis sering kali menyebabkan tulisan menjadi tidak baku atau bahkan menimbulkan ambiguitas makna. Contoh kesalahan yang sering ditemukan adalah penggunaan afiks yang tidak tepat, seperti memperbaiki yang ditulis menjadi memperbaik atau di jelaskan yang seharusnya ditulis dijelaskan.

Dalam pembelajaran menulis, penguasaan morfologi membantu peserta didik:

1.      memilih bentuk kata yang sesuai dengan konteks,

2.      membedakan fungsi afiks gramatikal,

3.      menghasilkan kalimat yang efektif dan baku.

Chaer (2015) menekankan bahwa kemampuan menulis yang baik tidak hanya ditentukan oleh ide dan struktur kalimat, tetapi juga oleh ketepatan penggunaan bentuk kata. Oleh karena itu, morfologi menjadi salah satu fondasi penting dalam pembelajaran menulis Bahasa Indonesia.

Morfologi dalam Pembelajaran Tata Bahasa Kontekstual

Pendekatan pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini cenderung menekankan pembelajaran tata bahasa secara kontekstual, bukan secara terpisah. Dalam pendekatan ini, morfologi diajarkan melalui penggunaan bahasa dalam konteks nyata, seperti teks narasi, eksposisi, dan argumentasi.

Morfologi dalam pembelajaran kontekstual tidak diajarkan sebagai daftar imbuhan semata, tetapi sebagai bagian dari makna dan fungsi bahasa. Misalnya, penggunaan prefiks di- dalam teks prosedur dapat dikaitkan dengan kalimat pasif yang menekankan proses, bukan pelaku. Dengan cara ini, peserta didik tidak hanya memahami bentuk, tetapi juga memahami alasan penggunaan bentuk tersebut.

Menurut Verhaar (2016), pembelajaran morfologi yang kontekstual akan lebih bermakna karena peserta didik melihat langsung fungsi morfologi dalam komunikasi nyata. Hal ini sejalan dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia yang menekankan kompetensi komunikatif.

Morfologi dan Pembelajaran Berbasis Teks

Dalam kurikulum Bahasa Indonesia berbasis teks, morfologi memiliki peran strategis dalam membantu peserta didik memahami karakteristik kebahasaan setiap jenis teks. Setiap teks memiliki kecenderungan penggunaan bentuk morfologis tertentu. Misalnya, teks laporan banyak menggunakan nomina abstrak seperti pengamatan, pengukuran, dan pengelompokan, sedangkan teks prosedur banyak menggunakan verba imperatif dan pasif.

Dengan memahami ciri morfologis tersebut, peserta didik dapat:

1.      mengenali jenis teks melalui ciri kebahasaannya,

2.      memproduksi teks sesuai kaidah kebahasaan,

3.      meningkatkan kesadaran berbahasa secara kritis.

Dalam hal ini, morfologi berfungsi sebagai alat analisis teks sekaligus sebagai panduan produksi teks.

Tantangan Pembelajaran Morfologi Bahasa Indonesia

Meskipun memiliki peran penting, pembelajaran morfologi Bahasa Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan pembelajaran yang bersifat mekanis dan berorientasi hafalan. Peserta didik sering diminta menghafal jenis imbuhan tanpa memahami fungsi dan maknanya dalam konteks penggunaan.

Selain itu, perbedaan antara bahasa lisan dan bahasa tulis juga sering menimbulkan kesulitan morfologis. Dalam bahasa lisan, bentuk-bentuk tidak baku sering digunakan dan dianggap wajar, tetapi dalam bahasa tulis akademik, ketepatan morfologis menjadi tuntutan utama.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran morfologi yang integratif, kontekstual, dan aplikatif agar peserta didik dapat memahami morfologi sebagai bagian hidup dari penggunaan bahasa.

Penutup

Morfologi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran yang sangat fundamental dan strategis. Morfologi tidak hanya berfungsi sebagai materi kebahasaan, tetapi juga sebagai alat untuk mengembangkan keterampilan membaca, menulis, dan memahami teks secara kritis. Pemahaman morfologi membantu peserta didik menguasai kosakata, memahami makna kata secara kontekstual, serta menggunakan bahasa secara tepat dan efektif.

Dengan pendekatan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis teks, morfologi dapat diajarkan secara lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, morfologi perlu ditempatkan sebagai bagian integral dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, bukan sebagai materi pelengkap, melainkan sebagai fondasi penguasaan bahasa yang utuh.

Daftar Pustaka

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Morfologi



 

Senin, 29 Desember 2025

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia / Kedudukan Morfologi dalam Linguistik

 Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia


1.2 Kedudukan Morfologi dalam Linguistik

Pendahuluan

 Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia


Dalam kajian linguistik modern, bahasa dipahami sebagai sebuah sistem yang kompleks dan berlapis. Setiap lapisan bahasa saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan yang utuh. Morfologi, sebagai salah satu cabang utama linguistik, menempati posisi yang sangat penting karena berfungsi sebagai penghubung antara bunyi bahasa dan struktur kalimat. Kedudukan morfologi dalam linguistik tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga fungsional, sebab melalui morfologi, makna leksikal dan makna gramatikal direalisasikan dalam bentuk kata.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, morfologi memiliki kedudukan yang semakin strategis. Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang produktif secara morfologis, terutama melalui proses afiksasi dan reduplikasi. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kedudukan morfologi dalam linguistik menjadi penting untuk memahami bagaimana Bahasa Indonesia bekerja sebagai sistem bahasa, baik dari sisi teoretis maupun praktis, khususnya dalam pembelajaran dan pengajaran bahasa.

 


 

Morfologi sebagai Cabang Ilmu Linguistik

Linguistik sebagai ilmu bahasa memiliki beberapa cabang utama, antara lain fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Setiap cabang memiliki objek kajian yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Morfologi menempati posisi di antara fonologi dan sintaksis. Fonologi mengkaji bunyi bahasa, sedangkan sintaksis mengkaji hubungan antarkata dalam kalimat. Morfologi berfungsi menjembatani keduanya dengan mengkaji bagaimana bunyi-bunyi bahasa membentuk kata dan bagaimana kata tersebut siap digunakan dalam struktur sintaksis.

Menurut Verhaar (2016), morfologi merupakan bidang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan hubungannya dengan satuan linguistik lain. Pandangan ini menegaskan bahwa morfologi tidak dapat dipisahkan dari cabang linguistik lainnya. Tanpa morfologi, fonologi hanya akan menghasilkan deretan bunyi tanpa makna gramatikal, sementara sintaksis tidak memiliki satuan kata yang siap dirangkai menjadi kalimat.

Sebagai contoh, bunyi /makan/ secara fonologis hanyalah rangkaian fonem. Namun, melalui kajian morfologi, bunyi tersebut dipahami sebagai kata dasar yang dapat mengalami proses morfologis menjadi memakan, dimakan, makanan, dan pemakan. Setiap bentuk tersebut memiliki fungsi sintaktis dan makna gramatikal yang berbeda.

 

Kedudukan Morfologi dalam Struktur Linguistik

Dalam struktur linguistik, morfologi menempati posisi sentral karena berkaitan langsung dengan pembentukan kata. Kata merupakan satuan yang sangat penting dalam bahasa, sebab kata menjadi penghubung antara makna dan struktur. Tanpa kata, tidak mungkin terbentuk frasa, klausa, dan kalimat.

Kridalaksana (2008) menyatakan bahwa kata adalah satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri dalam tuturan. Definisi ini menempatkan morfologi sebagai dasar bagi kajian sintaksis. Artinya, sintaksis bergantung pada hasil proses morfologis. Oleh karena itu, morfologi sering disebut sebagai fondasi struktural dalam linguistik.

Dalam Bahasa Indonesia, kedudukan morfologi semakin menonjol karena peran afiks yang sangat menentukan fungsi kata dalam kalimat. Prefiks me- misalnya, menandai verba aktif, sedangkan prefiks di- menandai verba pasif. Perbedaan ini bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi juga memengaruhi struktur sintaksis kalimat secara keseluruhan.

Contoh:

1.      Guru menjelaskan materi kepada siswa.

2.      Materi dijelaskan oleh guru kepada siswa.

Kedua kalimat tersebut memiliki struktur sintaksis yang berbeda akibat perbedaan bentuk morfologis pada kata kerja.

 

Hubungan Morfologi dengan Fonologi

Kedudukan morfologi dalam linguistik juga dapat dilihat dari hubungannya dengan fonologi. Morfologi memanfaatkan satuan bunyi yang dikaji oleh fonologi untuk membentuk satuan bermakna. Dalam Bahasa Indonesia, hubungan ini tampak jelas pada proses morfofonemik, yaitu perubahan bunyi yang terjadi akibat proses morfologis.

Sebagai contoh, prefiks me- mengalami variasi bentuk menjadi mem-, men-, meng-, dan meny- tergantung pada fonem awal kata dasar. Proses ini menunjukkan bahwa morfologi tidak dapat dilepaskan dari fonologi, sebab pembentukan kata dipengaruhi oleh kaidah bunyi bahasa.

Ramlan (2009) menegaskan bahwa kajian morfologi Bahasa Indonesia harus selalu mempertimbangkan aspek fonologis agar dapat menjelaskan perubahan bentuk kata secara utuh. Dengan demikian, morfologi berperan sebagai penghubung antara sistem bunyi dan sistem makna.

Hubungan Morfologi dengan Sintaksis

Selain dengan fonologi, morfologi memiliki hubungan yang sangat erat dengan sintaksis. Morfologi menyediakan kata dengan kategori dan ciri gramatikal tertentu, sedangkan sintaksis mengatur hubungan antarkata tersebut dalam kalimat.

Dalam Bahasa Indonesia, perubahan kelas kata melalui proses morfologis sangat berpengaruh terhadap struktur sintaksis. Kata ajar sebagai verba dasar dapat berubah menjadi pengajar (nomina) atau pelajaran (nomina abstrak). Perubahan ini menentukan posisi dan fungsi kata dalam kalimat.

Contoh:

·         Guru mengajar di kelas.

·         Pengajar itu sangat berpengalaman.

Perbedaan bentuk morfologis menyebabkan perbedaan fungsi sintaktis, meskipun berasal dari kata dasar yang sama.

Chaer (2015) menyebutkan bahwa morfologi dan sintaksis merupakan dua cabang linguistik yang sulit dipisahkan, karena keduanya sama-sama mengkaji struktur gramatikal bahasa. Namun, perbedaannya terletak pada satuan kajian, morfologi pada kata, dan sintaksis pada kalimat.

Morfologi dalam Linguistik Teoretis dan Terapan

Kedudukan morfologi dalam linguistik tidak hanya penting dalam kajian teoretis, tetapi juga dalam linguistik terapan. Dalam linguistik teoretis, morfologi berperan dalam merumuskan kaidah pembentukan kata dan sistem morfem dalam suatu bahasa. Kajian ini penting untuk memahami tipologi bahasa, termasuk karakteristik Bahasa Indonesia sebagai bahasa aglutinatif.

Dalam linguistik terapan, morfologi memiliki peran praktis dalam pembelajaran bahasa, penyusunan kamus, penerjemahan, dan pengolahan bahasa alami (natural language processing). Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, pemahaman morfologi membantu peserta didik memahami makna kata, memperluas kosakata, serta menggunakan kata secara tepat dalam konteks kalimat.

Sebagai contoh, kesalahan penggunaan afiks sering terjadi pada pembelajar bahasa. Kata memperbaiki sering disalahgunakan menjadi memperbaik. Kesalahan ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap kaidah morfologi Bahasa Indonesia.

Morfologi sebagai Dasar Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dalam dunia pendidikan, kedudukan morfologi sangat strategis. Morfologi menjadi dasar dalam pembelajaran membaca, menulis, dan memahami teks. Dengan memahami struktur kata, peserta didik dapat menebak makna kata baru dan memahami hubungan makna antarkata dalam teks.

Dalam kurikulum Bahasa Indonesia, materi morfologi biasanya terintegrasi dalam pembelajaran kebahasaan. Guru tidak hanya mengajarkan bentuk kata, tetapi juga fungsi dan makna gramatikalnya. Oleh karena itu, morfologi berperan sebagai jembatan antara teori linguistik dan praktik pembelajaran bahasa.

Penutup

Kedudukan morfologi dalam linguistik sangatlah fundamental. Morfologi menempati posisi sentral sebagai penghubung antara fonologi dan sintaksis, serta sebagai dasar pembentukan makna gramatikal dalam bahasa. Dalam Bahasa Indonesia, peran morfologi semakin penting karena kekayaan proses pembentukan kata yang dimilikinya.

Pemahaman yang baik tentang kedudukan morfologi dalam linguistik akan membantu pembelajar bahasa, pendidik, dan peneliti untuk memahami bahasa secara lebih utuh dan sistematis. Dengan demikian, morfologi tidak hanya dipandang sebagai cabang linguistik yang bersifat teknis, tetapi juga sebagai kunci dalam memahami hakikat bahasa itu sendiri.

Daftar Pustaka

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

Verhaar, J. W. M. (2016). Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Morfologi



 

 

Minggu, 28 Desember 2025

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia / Pengertian dan Ruang Lingkup Morfologi

Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia

Pengertian dan Ruang Lingkup Morfologi

Pendahuluan


Hakikat Morfologi Bahasa Indonesia


 

Dalam kajian linguistik, bahasa dipahami sebagai suatu sistem yang tersusun secara teratur dan saling berkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Salah satu cabang utama linguistik yang berperan penting dalam memahami struktur internal bahasa adalah morfologi. Morfologi membahas bentuk-bentuk kata serta proses pembentukannya, mulai dari satuan terkecil bermakna hingga menjadi satuan yang dapat digunakan dalam komunikasi.

Dalam konteks Bahasa Indonesia, morfologi memiliki posisi yang sangat strategis. Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang kaya proses pembentukan kata, terutama melalui afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap morfologi Bahasa Indonesia menjadi fondasi penting, tidak hanya bagi linguistik teoretis, tetapi juga bagi pembelajaran bahasa, pengajaran di sekolah, penyusunan bahan ajar, hingga pengembangan literasi kebahasaan masyarakat.

Artikel ini akan membahas secara mendalam hakikat morfologi Bahasa Indonesia, meliputi pengertian morfologi dan ruang lingkup kajiannya, dengan tujuan memberikan pemahaman konseptual yang komprehensif bagi pembaca, khususnya mahasiswa, guru, dan pemerhati linguistik.

Pengertian Morfologi

Secara etimologis, istilah morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu morphe yang berarti ‘bentuk’ dan logos yang berarti ‘ilmu’ atau ‘kajian’. Dengan demikian, morfologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk bahasa, khususnya bentuk kata.

Dalam kajian linguistik, para ahli memberikan definisi morfologi dengan penekanan yang beragam, tetapi memiliki inti yang sama. Ramlan (2009) menyatakan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Definisi ini menegaskan bahwa morfologi tidak hanya berhenti pada bentuk, tetapi juga memperhatikan makna dan fungsi gramatikal.

Kridalaksana (2008) mendefinisikan morfologi sebagai bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya. Dalam definisi ini, fokus utama morfologi adalah morfem, yakni satuan bahasa terkecil yang memiliki makna.

Sementara itu, Chaer (2015) memandang morfologi sebagai kajian mengenai struktur internal kata dan proses pembentukannya. Pandangan ini menekankan bahwa kata bukanlah satuan yang statis, melainkan hasil dari berbagai proses morfologis yang sistematis.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mengkaji struktur kata, satuan pembentuk kata (morfem), serta proses-proses pembentukan kata beserta dampaknya terhadap makna dan fungsi gramatikal.

 

Morfem sebagai Objek Kajian Morfologi

Objek utama kajian morfologi adalah morfem. Morfem merupakan satuan bahasa terkecil yang bermakna dan tidak dapat dibagi lagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa kehilangan maknanya.

Sebagai ilustrasi, kata bermain terdiri atas dua morfem, yaitu ber- dan main. Morfem main memiliki makna leksikal, sedangkan morfem ber- memiliki makna gramatikal yang menunjukkan aktivitas atau perbuatan. Jika salah satu morfem tersebut dihilangkan, maka makna kata akan berubah atau bahkan tidak dapat berdiri sebagai kata yang utuh.

Dalam Bahasa Indonesia, morfem dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, antara lain:

  1. Morfem bebas, yaitu morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata, seperti rumah, buku, dan makan.
  2. Morfem terikat, yaitu morfem yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain, seperti me-, di-, -kan, dan -an.

Keberadaan morfem terikat inilah yang menjadikan Bahasa Indonesia kaya akan proses morfologis, khususnya afiksasi.

Ruang Lingkup Morfologi Bahasa Indonesia

Ruang lingkup morfologi Bahasa Indonesia mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan pembentukan dan perubahan bentuk kata. Secara umum, ruang lingkup tersebut meliputi satuan morfologis, proses morfologis, dan fungsi morfologis.

1. Satuan Morfologis

Satuan morfologis mencakup morfem, kata dasar, dan kata turunan. Kata dasar merupakan bentuk dasar yang menjadi landasan pembentukan kata lain. Contohnya, kata ajar dapat menjadi mengajar, pelajaran, pengajar, dan pembelajaran.

Kajian morfologi menelaah bagaimana satuan-satuan tersebut berinteraksi dan membentuk makna baru melalui proses tertentu.

2. Proses Morfologis

Proses morfologis merupakan inti dari kajian morfologi Bahasa Indonesia. Beberapa proses morfologis utama antara lain:

a. Afiksasi
Afiksasi adalah proses pembentukan kata dengan menambahkan afiks pada bentuk dasar. Afiks dalam Bahasa Indonesia meliputi prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks.
Contoh:

  • tulismenulis
  • bersihkebersihan
  • gigigerigi

Afiksasi tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga dapat mengubah kelas kata dan makna.

b. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses pengulangan bentuk dasar, baik secara keseluruhan maupun sebagian.
Contoh:

  • bukubuku-buku
  • larilari-lari
  • sayursayur-mayur

Reduplikasi dalam Bahasa Indonesia dapat menyatakan makna jamak, intensitas, atau keanekaragaman.

c. Pemajemukan
Pemajemukan adalah proses penggabungan dua atau lebih kata dasar menjadi satu kesatuan makna.
Contoh:

  • rumah sakit
  • meja hijau
  • kepala sekolah

Kajian morfologi menganalisis apakah makna kata majemuk bersifat transparan atau idiomatis.

3. Fungsi Morfologis

Selain bentuk dan proses, morfologi juga mengkaji fungsi kata hasil proses morfologis. Fungsi tersebut dapat berupa perubahan kelas kata, peran sintaktis, serta nuansa makna gramatikal.

Sebagai contoh, kata baik (adjektiva) dapat berubah menjadi kebaikan (nomina) melalui proses afiksasi. Perubahan ini berdampak langsung pada fungsi kata dalam kalimat.

Morfologi dalam Sistem Linguistik

Morfologi tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan cabang linguistik lain, seperti sintaksis dan semantik. Morfologi menyediakan bahan mentah berupa kata, yang kemudian disusun oleh sintaksis menjadi kalimat dan ditafsirkan maknanya oleh semantik.

Dalam Bahasa Indonesia, hubungan antara morfologi dan sintaksis terlihat jelas pada penggunaan afiks yang menentukan fungsi kata dalam kalimat. Misalnya, prefiks di- menandai bentuk pasif, yang berimplikasi pada struktur sintaksis kalimat.

Penutup

Hakikat morfologi Bahasa Indonesia terletak pada kajiannya terhadap bentuk kata, satuan pembentuknya, serta proses-proses yang melahirkan variasi makna dan fungsi gramatikal. Morfologi bukan sekadar membahas perubahan bentuk kata secara mekanis, melainkan juga memahami sistem dan kaidah yang mengatur pembentukan kata dalam bahasa.

Dengan memahami pengertian dan ruang lingkup morfologi, pembelajar bahasa dapat memiliki landasan yang kuat untuk mengkaji aspek kebahasaan lainnya. Bagi dunia pendidikan dan pengajaran Bahasa Indonesia, morfologi menjadi kunci dalam meningkatkan kompetensi berbahasa secara sadar, sistematis, dan ilmiah.

Daftar Pustaka

Chaer, A. (2015). Morfologi bahasa Indonesia: Pendekatan proses. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Kamus linguistik (Edisi ke-4). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ramlan, M. (2009). Morfologi: Suatu tinjauan deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.

 

Morfologi



 




Sabtu, 27 Desember 2025

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA


KESIMPULAN AKHIR

MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan aplikatif mengenai struktur internal kata dalam bahasa Indonesia, mulai dari konsep dasar hingga penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Morfologi sebagai cabang linguistik memiliki peran strategis dalam menjelaskan bagaimana kata dibentuk, bagaimana makna gramatikal dikonstruksi, serta bagaimana bahasa berkembang seiring perubahan sosial dan budaya.

Melalui pembahasan pada setiap bab, pembaca diajak memahami bahwa morfologi tidak sekadar mempelajari bentuk kata secara terpisah, melainkan mengkaji hubungan erat antara bentuk, makna, dan fungsi. Konsep-konsep dasar seperti morfem, morf, dan alomorf menjadi fondasi penting untuk memahami proses pembentukan kata yang lebih kompleks, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, morfofonemik, serta abreviasi dan akronimisasi.

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

Kajian tentang kelas kata menegaskan bahwa morfologi berperan besar dalam menentukan kategori gramatikal suatu kata dan relasinya dalam struktur kalimat. Proses morfologis, khususnya afiksasi dan reduplikasi, terbukti menjadi mekanisme paling produktif dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Sementara itu, pembahasan mengenai morfofonemik menunjukkan bahwa perubahan bunyi dalam pembentukan kata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem morfologi bahasa Indonesia.

Pemajemukan, abreviasi, dan akronimisasi memperlihatkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam membentuk istilah baru yang efisien dan komunikatif, terutama dalam konteks bahasa modern dan media. Di sisi lain, fenomena deviasi bahasa mengingatkan bahwa perkembangan bahasa juga dipengaruhi oleh kreativitas penutur dan dinamika sosial, sehingga pemahaman kaidah bahasa baku harus selalu disertai kesadaran konteks penggunaan bahasa.

Bab terakhir menekankan pentingnya analisis morfologi dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam teks media, interaksi antarbahasa, maupun dalam penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Analisis morfologi tidak hanya melatih kemampuan akademik mahasiswa, tetapi juga meningkatkan kepekaan berbahasa, sikap kritis, dan apresiasi terhadap kekayaan bahasa Indonesia.

Secara keseluruhan, buku ini diharapkan mampu:

1.      Membekali mahasiswa dengan pemahaman teoritis yang kuat tentang morfologi bahasa Indonesia.

2.      Mengembangkan keterampilan analitis dalam mengidentifikasi dan menjelaskan proses morfologis.

3.      Menumbuhkan sikap ilmiah dan kesadaran berbahasa yang baik dan benar sesuai konteks.

4.      Menjadi referensi dasar bagi pembelajaran, penelitian, dan pengembangan materi kebahasaan.

Akhir kata, morfologi bukanlah kajian yang statis, melainkan bidang ilmu yang terus berkembang mengikuti dinamika bahasa dan masyarakat penuturnya. Oleh karena itu, pembaca diharapkan dapat menjadikan buku ini sebagai titik awal untuk melakukan kajian lanjutan, penelitian, serta praktik kebahasaan yang lebih mendalam dan kontekstual demi penguatan dan pelestarian bahasa Indonesia.

 

Jumat, 26 Desember 2025

ANALISIS MORFOLOGI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 

ANALISIS MORFOLOGI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

(Sub-CPMK 9: Mampu Menganalisis Proses Morfologi dalam Penggunaan Bahasa Sehari-hari)

Pendahuluan

Kajian morfologi tidak hanya berhenti pada tataran teori tentang morfem, afiksasi, reduplikasi, atau komposisi. Dalam praktiknya, morfologi hadir dan bekerja secara aktif dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai bentuk penggunaan bahasa, baik dalam media massa, media sosial, percakapan lisan, maupun dalam interaksi antarbahasa, termasuk bahasa daerah dan bahasa Indonesia.

Kemampuan menganalisis morfologi dalam konteks nyata merupakan kompetensi penting bagi mahasiswa linguistik dan pendidikan bahasa. Analisis morfologi membantu penutur memahami bagaimana kata dibentuk, bagaimana makna dikonstruksi, serta bagaimana bahasa berkembang dan beradaptasi dengan perubahan sosial. Bab ini membahas penerapan analisis morfologi dalam kehidupan sehari-hari secara kontekstual dan aplikatif.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Morfologi dalam Teks Media

Media massa—baik cetak, daring, maupun audiovisual—merupakan sumber data yang kaya untuk analisis morfologi. Bahasa media cenderung dinamis, kreatif, dan responsif terhadap perkembangan sosial.

Dalam teks berita, misalnya, proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi sering digunakan untuk menyampaikan informasi secara efektif dan ringkas. Contoh dapat ditemukan pada kata-kata seperti pemerintah, pemberdayaan, nilai-nilai, dan rumah sakit.

Selain itu, media daring dan media sosial memperlihatkan penggunaan akronim, singkatan, dan deviasi morfologis, seperti viral, netizen, bansos, dan hoaks. Menurut Chaer (2010), bahasa media mencerminkan interaksi antara kaidah bahasa baku dan kebutuhan komunikasi praktis.

Analisis morfologi dalam teks media membantu pembaca memahami bagaimana pilihan bentuk kata memengaruhi makna, ideologi, dan sikap penulis atau institusi media.

 

2. Morfologi dalam Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia

Indonesia merupakan negara multibahasa dengan ratusan bahasa daerah. Setiap bahasa daerah memiliki sistem morfologi yang khas, baik dalam pembentukan kata maupun dalam penggunaan afiks.

Interaksi antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia sering melahirkan fenomena interferensi morfologis. Contohnya, penggunaan prefiks atau pola pembentukan kata dari bahasa daerah yang terbawa ke dalam bahasa Indonesia, seperti penggunaan bentuk ke- pada verba tertentu dalam ragam lisan.

Di sisi lain, bahasa Indonesia juga memengaruhi bahasa daerah melalui proses peminjaman kosakata dan adaptasi morfologis. Kridalaksana (2008) menyebutkan bahwa kontak bahasa merupakan faktor utama dalam perubahan dan perkembangan sistem morfologi.

Analisis morfologi dalam konteks ini penting untuk memahami dinamika bilingualisme dan multibahasa, terutama dalam dunia pendidikan dan pelestarian bahasa daerah.

 

3. Teknik Identifikasi Proses Morfologis

Untuk melakukan analisis morfologi secara sistematis, diperlukan teknik identifikasi yang tepat. Beberapa langkah dasar dalam mengidentifikasi proses morfologis adalah sebagai berikut.

Pertama, mengidentifikasi kata dasar. Peneliti harus menentukan bentuk dasar dari suatu kata, misalnya ajar dari pengajaran.

Kedua, mengidentifikasi afiks atau proses lain yang melekat pada kata dasar, seperti prefiks, sufiks, reduplikasi, atau komposisi.

Ketiga, menentukan jenis proses morfologis yang terjadi, apakah afiksasi, reduplikasi, pemajemukan, abreviasi, atau deviasi.

Keempat, menganalisis makna gramatikal yang dihasilkan dari proses tersebut.

Menurut Arifin dan Junaiyah (2009), analisis morfologi yang baik harus memperhatikan hubungan antara bentuk, makna, dan fungsi kata dalam konteks kalimat.

 

4. Penyusunan Laporan Analisis Morfologi

Hasil analisis morfologi perlu disajikan dalam bentuk laporan ilmiah yang sistematis. Laporan analisis morfologi umumnya terdiri atas beberapa bagian utama.

Pertama, pendahuluan, yang berisi latar belakang, tujuan analisis, dan sumber data.

Kedua, landasan teori, yang memuat konsep-konsep morfologi yang relevan, seperti definisi morfem, afiksasi, dan reduplikasi.

Ketiga, metode analisis, yang menjelaskan teknik pengumpulan data dan langkah-langkah analisis.

Keempat, hasil dan pembahasan, yang menyajikan data morfologis dan analisisnya secara rinci.

Kelima, simpulan, yang merangkum temuan utama dan implikasinya.

Penyusunan laporan analisis morfologi melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, sistematis, dan ilmiah dalam mengkaji bahasa.

 

5. Contoh Laporan Ilmiah Sederhana

Berikut ini contoh ringkas laporan analisis morfologi sederhana.

Judul

Analisis Proses Morfologis dalam Teks Berita Daring

Pendahuluan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses morfologis yang terdapat dalam teks berita daring.

Data dan Metode

Data diambil dari satu artikel berita daring nasional. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif.

Hasil dan Pembahasan

Ditemukan beberapa proses morfologis, antara lain afiksasi (pemerintah, penyaluran), reduplikasi (nilai-nilai), dan komposisi (rumah sakit). Afiksasi merupakan proses yang paling dominan.

Simpulan

Teks berita daring memanfaatkan berbagai proses morfologis untuk menyampaikan informasi secara efektif dan formal.

Contoh ini menunjukkan bahwa analisis morfologi dapat dilakukan secara sederhana namun tetap ilmiah.

 

6. Ringkasan Bab

Analisis morfologi dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa proses pembentukan kata tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis dan kontekstual. Morfologi hadir dalam teks media, interaksi antarbahasa, dan komunikasi sehari-hari. Dengan teknik identifikasi yang tepat dan penyusunan laporan yang sistematis, analisis morfologi dapat menjadi alat penting untuk memahami dinamika bahasa Indonesia dan bahasa daerah.

 

7. Tugas Akhir Mata Kuliah

Tugas Akhir (Proyek Mini Riset)

Mahasiswa diminta untuk:

1.      Memilih satu sumber data bahasa (teks berita, media sosial, percakapan lisan, atau teks bahasa daerah).

2.      Mengumpulkan minimal 30 data kata yang mengandung proses morfologis.

3.      Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan proses morfologis pada data tersebut.

4.      Menyusun laporan analisis morfologi sederhana (10–15 halaman) sesuai kaidah penulisan ilmiah.

5.      Mempresentasikan hasil analisis di kelas.

Tugas ini bertujuan untuk mengintegrasikan seluruh kompetensi morfologi yang telah dipelajari selama perkuliahan.

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...