Minggu, 11 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 

 Vol 2, No 1 (2026): Pusat Referensi Linguistik  Volume 2, Nomor 1, Januari  2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia


4.4 Infiks

Pendahuluan

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
Infiks


Dalam kajian morfologi bahasa Indonesia, infiks menempati posisi yang unik dan menarik. Berbeda dengan prefiks dan sufiks yang secara produktif digunakan dalam pembentukan kata sehari-hari, infiks cenderung memiliki keterbatasan dalam jumlah dan produktivitas. Meskipun demikian, infiks tetap merupakan bagian penting dari sistem afiksasi bahasa Indonesia karena merepresentasikan jejak historis, kekhasan tipologis bahasa, serta dinamika perubahan bahasa dari masa ke masa.

Kata-kata seperti gemetar, telunjuk, gerigi, dan leluhur sering dikutip sebagai contoh penggunaan infiks dalam bahasa Indonesia. Walaupun tidak selalu disadari oleh penutur modern, bentuk-bentuk tersebut menunjukkan bahwa infiks pernah memiliki peran morfologis yang lebih signifikan dalam sejarah bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Nusantara lainnya.

Bagian ini membahas infiks secara mendalam, meliputi pengertian infiks, ciri-ciri morfologisnya, jenis-jenis infiks dalam bahasa Indonesia, fungsi dan maknanya, tingkat produktivitasnya, serta relevansinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

4.4.1 Pengertian Infiks

Infiks adalah afiks yang disisipkan di dalam bentuk dasar, bukan di awal (prefiks) maupun di akhir (sufiks). Dengan kata lain, infiks berada di tengah-tengah morfem dasar dan membentuk kata turunan melalui proses penyisipan.

Katamba (1993) mendefinisikan infiks sebagai morfem terikat yang secara struktural diselipkan ke dalam morfem dasar dan berfungsi membentuk kata baru atau memberi nuansa makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia, infiks bersifat terbatas dan tidak lagi produktif secara sinkronis.

Menurut Alwi et al. (2014), infiks dalam bahasa Indonesia umumnya ditemukan pada kata-kata yang telah membeku secara leksikal, sehingga penutur modern sering kali tidak lagi menyadari proses afiksasi yang terjadi.

 

4.4.2 Posisi dan Karakteristik Infiks

Infiks memiliki karakteristik morfologis yang membedakannya dari jenis afiks lain, antara lain:

1.      Posisi internal
Infiks disisipkan setelah konsonan awal bentuk dasar.

2.      Terikat secara morfologis
Infiks tidak dapat berdiri sendiri dan selalu bergantung pada bentuk dasar.

3.      Produktivitas rendah
Infiks jarang digunakan untuk membentuk kata baru dalam bahasa Indonesia modern.

4.      Bersifat historis
Banyak bentuk berinfiks berasal dari bahasa Melayu Kuno atau bahasa daerah.

Sneddon et al. (2010) menyatakan bahwa secara sinkronis, infiks dalam bahasa Indonesia lebih tepat dipahami sebagai bagian dari bentuk leksikal daripada sebagai proses morfologis yang aktif.

 

4.4.3 Jenis-Jenis Infiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mengenal beberapa jenis infiks utama, yaitu -el-, -em-, -er-, dan -in-. Masing-masing infiks memiliki ciri dan contoh penggunaan tertentu.

 

1. Infiks -el-

Infiks -el- merupakan salah satu infiks yang paling dikenal dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

·         tunjuktelunjuk

·         patukpelatuk

Infiks -el- umumnya disisipkan setelah konsonan awal dan sering menghasilkan kata benda. Secara semantis, infiks ini tidak selalu membawa makna yang jelas dan sering dianggap sebagai pembentuk leksikal semata.

 

2. Infiks -em-

Infiks -em- juga ditemukan pada sejumlah kata yang cukup umum.

Contoh:

·         getargemetar

·         guruhgemuruh

Kata-kata yang mengandung infiks -em- sering berhubungan dengan makna intensitas, pengulangan, atau keadaan yang berkelanjutan. Namun, makna ini tidak selalu konsisten dan bergantung pada konteks leksikal.

 

3. Infiks -er-

Infiks -er- sering muncul dalam pembentukan kata benda.

Contoh:

·         gigigerigi

·         sabutserabut

Infiks ini cenderung membentuk kata dengan makna kolektif atau berhubungan dengan bentuk fisik tertentu.

 

4. Infiks -in-

Infiks -in- relatif jarang dan banyak ditemukan dalam kata serapan atau bentuk tidak produktif.

Contoh:

·         kerjakinerja (secara historis sering dikaitkan, meskipun analisis ini diperdebatkan)

Beberapa ahli berpendapat bahwa infiks -in- dalam bahasa Indonesia modern lebih bersifat etimologis daripada morfologis aktif (Aronoff & Fudeman, 2011).

 

4.4.4 Infiks dan Produktivitas Morfologis

Salah satu ciri paling menonjol dari infiks dalam bahasa Indonesia adalah rendahnya produktivitas. Berbeda dengan prefiks me- atau sufiks -an, infiks hampir tidak pernah digunakan untuk membentuk kata baru secara spontan dalam bahasa modern.

Bauer (2003) menjelaskan bahwa suatu afiks dikatakan produktif apabila dapat digunakan penutur untuk membentuk kata baru tanpa hambatan leksikal. Berdasarkan kriteria ini, infiks bahasa Indonesia tergolong tidak produktif.

Akibatnya, kata-kata berinfiks lebih sering dipelajari sebagai entri kosakata daripada sebagai hasil proses morfologis aktif.

 

4.4.5 Infiks dalam Perspektif Historis dan Tipologis

Dalam bahasa Melayu Kuno dan sejumlah bahasa daerah di Indonesia, infiks memiliki peran yang lebih aktif. Bahasa Jawa, Sunda, dan Tagalog (di Filipina) menunjukkan produktivitas infiks yang lebih tinggi dibandingkan bahasa Indonesia modern.

Hal ini menunjukkan bahwa berkurangnya penggunaan infiks dalam bahasa Indonesia merupakan hasil dari proses penyederhanaan morfologis dan standarisasi bahasa (Sneddon et al., 2010).

 

4.4.6 Infiks dalam Bahasa Pendidikan

Dalam konteks pendidikan, infiks sering menjadi materi yang menantang bagi peserta didik karena:

1.      Jumlah contoh terbatas

2.      Sulit dibedakan dari bentuk dasar

3.      Tidak produktif secara aktif

Namun, pembelajaran infiks tetap penting untuk:

·         Memahami sejarah bahasa

·         Mengembangkan kesadaran morfologis

·         Menganalisis struktur kata secara ilmiah

Guru bahasa Indonesia perlu menekankan bahwa infiks lebih bersifat leksikal daripada generatif.

 

4.4.7 Implikasi Linguistik dan Pedagogis

Kajian infiks memiliki implikasi penting dalam:

·         Analisis morfologi sinkronis dan diakronis

·         Penyusunan kamus dan deskripsi bahasa

·         Pembelajaran linguistik di perguruan tinggi

Kesadaran akan keterbatasan infiks membantu mahasiswa linguistik memahami perbedaan antara proses morfologis aktif dan bentuk yang telah membeku secara leksikal.

 

Penutup

Infiks merupakan salah satu jenis afiks dalam bahasa Indonesia yang memiliki karakteristik khas, terutama dari segi posisi dan produktivitas. Meskipun tidak lagi produktif dalam pembentukan kata baru, infiks tetap memiliki nilai penting dalam kajian linguistik, baik sebagai bukti historis perkembangan bahasa maupun sebagai objek analisis morfologis.

Pemahaman infiks membantu memperkaya wawasan tentang struktur kata bahasa Indonesia dan mempertegas bahwa sistem morfologi bahasa bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.

 

Sabtu, 10 Januari 2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia

 

 Vol 2, No 1 (2026): Pusat Referensi Linguistik  Volume 2, Nomor 1, Januari  2026

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia


 

4.3 Sufiks

Pendahuluan

Afiksasi dalam Bahasa Indonesia
Sufiks

Dalam sistem morfologi bahasa Indonesia, sufiks atau akhiran merupakan salah satu jenis afiks yang memiliki peran penting dalam pembentukan kata. Jika prefiks dilekatkan di awal bentuk dasar, sufiks justru dibubuhkan di bagian akhir. Meskipun secara jumlah tidak sebanyak prefiks, sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi yang sangat strategis, terutama dalam pembentukan nomina, verba, dan adjektiva, serta dalam pengembangan makna dan fungsi gramatikal kata.

Kata-kata seperti tulisan, bacaan, harapkan, besarnya, dan manusiawi menunjukkan bagaimana sufiks bekerja secara sistematis untuk mengubah kelas kata, memperluas makna, atau menandai relasi sintaktis tertentu. Dalam bahasa akademik dan pendidikan, penggunaan sufiks bahkan sangat dominan, terutama dalam pembentukan istilah abstrak dan nominalisasi.

Bagian ini membahas secara komprehensif konsep sufiks dalam bahasa Indonesia, mencakup pengertian sufiks, karakteristik morfologisnya, jenis-jenis sufiks utama, fungsi dan makna sufiks, serta implikasinya dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa.

 

4.3.1 Pengertian Sufiks

Sufiks adalah afiks yang dilekatkan pada bagian akhir bentuk dasar. Dalam linguistik, sufiks termasuk morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan hanya memiliki makna atau fungsi apabila bergabung dengan bentuk dasar tertentu.

Menurut Katamba (1993), sufiks merupakan afiks yang secara struktural berada di posisi kanan bentuk dasar dan berfungsi membentuk kata baru atau menandai fungsi gramatikal tertentu. Dalam bahasa Indonesia, sufiks umumnya bersifat derivatif, meskipun dalam konteks tertentu juga memiliki fungsi inflektif.

Alwi et al. (2014) mendefinisikan sufiks sebagai imbuhan akhir yang dibubuhkan pada kata dasar untuk membentuk kata turunan dengan makna atau kelas kata tertentu. Dengan demikian, sufiks dapat dipahami sebagai:

afiks yang dibubuhkan di belakang bentuk dasar untuk membentuk kata baru atau menandai hubungan gramatikal tertentu.

 

4.3.2 Karakteristik Sufiks dalam Bahasa Indonesia

Sufiks dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa karakteristik utama, antara lain:

1.      Melekat pada akhir bentuk dasar
Posisi sufiks selalu berada di sisi kanan bentuk dasar.

2.      Produktif dalam pembentukan nomina
Banyak sufiks digunakan untuk membentuk nomina abstrak atau konkret.

3.      Sering berfungsi derivatif
Sufiks umumnya mengubah makna leksikal dan/atau kelas kata.

4.      Berperan dalam nominalisasi
Bahasa Indonesia sangat bergantung pada sufiks untuk membentuk istilah akademik dan ilmiah.

Menurut Bauer (2003), karakteristik ini menjadikan sufiks sebagai elemen penting dalam pengembangan kosakata dan wacana ilmiah.

 

4.3.3 Jenis-Jenis Sufiks dalam Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sejumlah sufiks yang produktif dan sering digunakan. Berikut pembahasan sufiks-sufiks utama.

 

1. Sufiks -an

Sufiks -an merupakan salah satu sufiks paling produktif dalam bahasa Indonesia. Sufiks ini umumnya membentuk nomina dari verba atau adjektiva.

Contoh:

·         tulistulisan

·         bacabacaan

·         bangunbangunan

Secara semantis, sufiks -an dapat menyatakan:

·         Hasil perbuatan

·         Alat

·         Tempat

Sneddon et al. (2010) menyebut -an sebagai sufiks multifungsi karena variasi makna yang dihasilkannya.

 

2. Sufiks -kan

Sufiks -kan berfungsi membentuk verba transitif kausatif atau aplikatif.

Contoh:

·         besarbesarkan

·         ingatingatkan

Sufiks ini sering digunakan untuk menandai bahwa subjek menyebabkan terjadinya suatu peristiwa terhadap objek. Dalam analisis sintaksis, sufiks -kan berkaitan erat dengan peningkatan valensi verba.

 

3. Sufiks -i

Sufiks -i membentuk verba transitif yang menyatakan tindakan berulang, lokasi, atau sasaran tertentu.

Contoh:

·         isiisimengisimengisi-i

·         hiasi

·         lengkapi

Sufiks -i sering dibandingkan dengan -kan, dan perbedaan penggunaannya menjadi salah satu topik penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia (Alwi et al., 2014).

 

4. Sufiks -nya

Sufiks -nya memiliki fungsi yang lebih beragam dibandingkan sufiks lain. Sufiks ini dapat berfungsi sebagai:

·         Penanda posesif

·         Penanda penegasan

·         Pembentuk nomina tertentu

Contoh:

·         bukunya

·         indahnya pemandangan

Secara morfologis, -nya sering dianggap berada di batas antara morfologi dan sintaksis.

 

5. Sufiks -wan / -wati

Sufiks -wan dan -wati digunakan untuk membentuk nomina yang merujuk pada pelaku atau profesi.

Contoh:

·         seniseniman

·         olahragaolahragawan

Sufiks ini memiliki nuansa formal dan sering digunakan dalam bahasa tulis dan bahasa resmi.

 

6. Sufiks -isme / -isasi

Sufiks -isme dan -isasi banyak digunakan dalam pembentukan istilah ilmiah dan akademik.

Contoh:

·         nasionalisme

·         modernisasi

Menurut Halliday (2004), penggunaan sufiks ini mencerminkan kecenderungan nominalisasi dalam bahasa ilmiah.

 

4.3.4 Sufiks dan Perubahan Kelas Kata

Sufiks berperan besar dalam mengubah kelas kata, terutama:

·         Verba → Nomina

·         Adjektiva → Nomina

·         Nomina → Verba

Contoh:

·         ajarajaran

·         bersihkebersihan

Aronoff dan Fudeman (2011) menyebut proses ini sebagai derivasi leksikal yang memperkaya sistem kosakata bahasa.

 

4.3.5 Sufiks dalam Bahasa Media dan Pendidikan

Dalam bahasa media, sufiks sering digunakan untuk menciptakan kata yang ringkas dan komunikatif, seperti tayangan, laporan, dan penayangan. Dalam bahasa pendidikan, sufiks mendominasi pembentukan istilah abstrak seperti pemahaman, penguasaan, dan penilaian.

Fenomena ini menunjukkan bahwa sufiks berperan penting dalam membentuk gaya bahasa dan tingkat formalitas suatu teks.

 

4.3.6 Implikasi Pembelajaran Sufiks

Pemahaman sufiks membantu peserta didik:

1.      Memahami struktur kata kompleks

2.      Mengembangkan kosakata akademik

3.      Meningkatkan kemampuan menulis

Kesadaran morfologis terhadap sufiks terbukti berkontribusi terhadap kemampuan literasi, terutama dalam konteks pendidikan formal (Carlisle, 2000).

 

Penutup

Sufiks merupakan komponen penting dalam sistem afiksasi bahasa Indonesia. Melalui sufiks, bahasa Indonesia mampu membentuk kata turunan yang kaya makna dan fungsi gramatikal, terutama dalam ranah akademik dan pendidikan. Pemahaman yang mendalam mengenai sufiks menjadi fondasi penting untuk kajian morfologi lanjutan serta pengajaran bahasa yang efektif dan berbasis linguistik.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Balai Pustaka.

Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing, 12(3), 169–190. https://doi.org/10.1023/A:1008131926604

Halliday, M. A. K. (2004). The language of science. Continuum.

Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.

Sneddon, J. N., Adelaar, A., D. N. Djenar, & M. C. Ewing. (2010). Indonesian: A comprehensive grammar (2nd ed.). Routledge.


 

Sosiolinguistik – Bahasa dan Masyarakat

  BAGIAN III LINGUISTIK TERAPAN DAN INTERDISIPLINER Bab 8: Sosiolinguistik – Bahasa dan Masyarakat Pendahuluan Bahasa dan masyarakat...