BAB 1: PENGANTAR PRAGMATIK
Kalau kita bicara tentang bahasa,
kebanyakan orang langsung membayangkan kata, kalimat, atau aturan tata bahasa.
Padahal, bahasa itu jauh lebih hidup dari sekadar struktur. Bahasa digunakan
oleh manusia—dalam situasi nyata, dengan tujuan tertentu, dan sering kali dengan
makna yang tidak selalu tersurat. Nah, di sinilah pragmatik mengambil
peran penting.
Pragmatik membantu kita memahami
bagaimana bahasa benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, bukan
hanya apa yang dikatakan, tapi juga apa yang dimaksud.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
1.1 Pengertian Pragmatik
Secara sederhana, pragmatik adalah
cabang linguistik yang mempelajari makna bahasa berdasarkan konteks
penggunaannya. Artinya, pragmatik tidak hanya melihat kata atau kalimat secara
literal, tetapi juga mempertimbangkan siapa yang berbicara, kepada siapa, di
mana, dan dalam situasi apa.
Beberapa ahli memberikan definisi
yang cukup menarik. Misalnya, George Yule menyebut pragmatik sebagai studi
tentang makna yang dikomunikasikan oleh penutur dan ditafsirkan oleh pendengar.
Sementara itu, Leech melihat pragmatik sebagai studi tentang makna dalam
hubungannya dengan situasi tutur.
Biar lebih mudah dipahami, coba
perhatikan contoh berikut:
A: “Udara di sini panas sekali ya…”
B: (langsung menyalakan kipas angin)
Secara literal, A hanya menyatakan
kondisi udara. Tapi secara pragmatik, A sebenarnya meminta sesuatu—yaitu
agar kipas dinyalakan. Dan B memahami maksud itu tanpa perlu penjelasan
tambahan.
Di sinilah letak keunikan pragmatik:
makna sering kali tersembunyi di balik kata-kata.
1.2 Ruang Lingkup Pragmatik
Pragmatik memiliki cakupan yang
cukup luas. Beberapa aspek penting yang biasanya dibahas dalam pragmatik antara
lain:
1. Tindak tutur (speech acts)
Ini berkaitan dengan apa yang
dilakukan seseorang melalui ujarannya. Ketika seseorang berkata, “Saya janji
akan datang,” dia tidak hanya berbicara, tapi juga melakukan tindakan berjanji.
2. Implikatur
Implikatur adalah makna tersirat
yang tidak diucapkan secara langsung. Misalnya:
“Wah, rumahmu rapi sekali…”
Bisa jadi itu pujian, tapi dalam konteks tertentu bisa juga sindiran.
3. Deiksis
Deiksis berkaitan dengan kata-kata
yang maknanya tergantung pada konteks, seperti “saya”, “kamu”, “di sini”,
“sekarang”.
4. Presuposisi
Ini adalah asumsi yang sudah
dianggap benar sebelum suatu ujaran diucapkan.
Contoh:
“Dia berhenti merokok.”
Kalimat ini mengandung presuposisi bahwa sebelumnya dia adalah seorang perokok.
5. Prinsip kerja sama (cooperative principle)
Konsep ini diperkenalkan oleh Paul
Grice, yang menjelaskan bagaimana orang berkomunikasi secara efektif melalui
empat maksim: kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara.
Semua aspek ini membantu kita
memahami bahwa komunikasi bukan hanya soal kata, tapi juga soal maksud dan
interpretasi.
1.3 Perbedaan Pragmatik, Semantik, dan Sintaksis
Banyak orang masih bingung
membedakan antara pragmatik, semantik, dan sintaksis. Padahal, ketiganya punya
fokus yang berbeda, meskipun saling berkaitan.
Mari kita lihat perbedaannya secara
sederhana:
|
Aspek |
Fokus
Kajian |
Contoh
Kajian |
|
Sintaksis |
Struktur kalimat |
Susunan kata dalam kalimat |
|
Semantik |
Makna literal |
Arti kata atau kalimat secara umum |
|
Pragmatik |
Makna dalam konteks |
Maksud penutur dalam situasi tertentu |
Contoh sederhana:
Kalimat:
“Kamu bisa tutup pintu?”
- Sintaksis:
Kalimat ini berbentuk pertanyaan.
- Semantik:
Menanyakan kemampuan seseorang menutup pintu.
- Pragmatik:
Sebenarnya itu adalah permintaan agar pintu ditutup.
Jadi, pragmatik melangkah lebih jauh
dibanding semantik. Ia mencoba membaca “niat tersembunyi” di balik ujaran.
1.4 Peran Konteks dalam Komunikasi
Kalau pragmatik adalah “jiwa” dari
komunikasi, maka konteks adalah “nafasnya”. Tanpa konteks, banyak ujaran bisa
disalahpahami.
Konteks dalam pragmatik bisa
mencakup beberapa hal:
1.
Konteks situasional
Meliputi tempat, waktu, dan kondisi
saat komunikasi berlangsung.
2.
Konteks sosial
Melibatkan hubungan antara penutur
dan lawan tutur, seperti status sosial, usia, atau tingkat keakraban.
3.
Konteks budaya
Nilai dan norma budaya juga sangat
memengaruhi cara orang berbicara dan menafsirkan ujaran.
Contoh sederhana:
Seorang dosen berkata kepada
mahasiswa:
“Sepertinya tugasnya bisa diperbaiki
sedikit.”
Secara literal terdengar ringan,
tapi dalam konteks akademik, itu bisa berarti:
“Tugas ini belum memenuhi standar,
silakan revisi.”
Mahasiswa yang paham konteks akan
langsung mengerti maksud tersebut. Tapi tanpa pemahaman konteks, bisa saja
dianggap hanya saran biasa.
Penutup
Pragmatik mengajarkan kita bahwa
bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat interaksi sosial yang
kompleks. Makna tidak selalu terletak pada kata-kata, melainkan pada bagaimana
kata-kata itu digunakan dalam situasi tertentu.
Dengan memahami pragmatik, kita
bisa:
- Menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi
- Lebih peka terhadap maksud orang lain
- Menggunakan bahasa secara lebih efektif dan sopan
Jadi, kalau selama ini kita berpikir
bahwa memahami bahasa cukup dengan mengetahui arti kata dan struktur kalimat,
sekarang saatnya naik level. Karena dalam dunia nyata, memahami maksud
jauh lebih penting daripada sekadar memahami kata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar