BAB 5: IMPLIKATUR
PERCAKAPAN
(Ngobrol Biasa, Makna
Luar Biasa)
Kalau kamu pernah merasa
bahwa orang mengatakan sesuatu tapi maksudnya “lebih dari itu”, nah… selamat!
Kamu sudah bersentuhan dengan dunia pragmatik, khususnya yang disebut implikatur
percakapan. Yuk kita bahas dengan cara yang santai tapi tetap berbobot.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
5.1 Pengertian Implikatur
Secara sederhana, implikatur adalah makna tersembunyi
di balik apa yang diucapkan seseorang. Jadi, bukan cuma kata-katanya saja yang
penting, tapi juga apa yang dimaksudkan.
Misalnya:
A: “Kamu datang ke pesta?”
B: “Saya harus bangun pagi besok.”
Secara literal, B tidak
bilang “tidak datang”. Tapi kita langsung paham maksudnya: dia tidak akan datang.
👉 Nah, itulah implikatur — makna yang tidak diucapkan secara langsung,
tapi bisa dipahami dari konteks.
Dalam kehidupan sehari-hari, implikatur ini sering banget
muncul, terutama dalam:
- Sindiran 😏
- Humor 😂
- Basa-basi 🤝
- Bahkan dalam percakapan formal
5.2 Implikatur Konvensional dan Percakapan
Dalam pragmatik,
implikatur itu ada dua jenis utama:
1. Implikatur
Konvensional
Ini adalah makna tambahan
yang sudah “nempel” pada kata tertentu.
Contoh:
“Dia pintar, tetapi malas.”
Kata “tetapi” memberi implikasi adanya kontras
antara dua hal.
Jadi, tanpa konteks pun, kita sudah tahu ada pertentangan.
👉 Ciri-ciri:
- Melekat pada kata tertentu
- Tidak terlalu bergantung pada konteks
- Lebih stabil maknanya
2. Implikatur Percakapan
Nah, ini yang paling menarik! 😄
Implikatur percakapan muncul karena:
- konteks
- situasi
- hubungan antar penutur
Contoh:
“Wah, rumahmu rapi sekali…”
(dikatakan saat rumah sebenarnya berantakan)
Makna sebenarnya?
👉 Bisa jadi sindiran!
👉 Ciri-ciri:
- Sangat bergantung pada konteks
- Bisa berubah-ubah
- Butuh pemahaman situasi
5.3 Teori Grice
Kalau bicara implikatur,
kita tidak bisa lepas dari tokoh penting:
👉 Paul Grice
Grice adalah orang yang menjelaskan bagaimana manusia bisa
saling memahami makna tersembunyi dalam percakapan.
Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)
Menurut Grice, dalam percakapan, kita secara tidak sadar
mengikuti prinsip:
“Berkontribusilah dalam percakapan sesuai kebutuhan.”
Artinya: kita berbicara
dengan tujuan agar bisa dipahami.
4 Maksim Percakapan Grice
Grice membagi prinsip ini menjadi 4 aturan (maksim):
1. Maksim Kuantitas
👉 Berikan informasi secukupnya (tidak kurang, tidak
berlebihan)
Contoh:
- ❌ Terlalu
sedikit: “Ada orang.”
- ❌ Terlalu banyak: cerita
panjang lebar tanpa diminta
2. Maksim Kualitas
👉 Katakan yang benar (jangan bohong)
Contoh:
- Jangan bilang “Saya sudah makan” kalau belum 😅
3. Maksim Relevansi
👉 Harus nyambung dengan topik
Contoh:
A: “Jam berapa sekarang?”
B: “Saya lapar.” ❌ (tidak relevan)
4. Maksim Cara (Manner)
👉 Sampaikan dengan jelas dan tidak berbelit-belit
Contoh:
- Hindari kalimat yang ambigu atau membingungkan
Pelanggaran Maksim = Implikatur
Menariknya, implikatur sering muncul justru saat maksim ini
dilanggar.
Contoh:
“Dia cukup pintar untuk ukuran mahasiswa baru.”
Implikasinya?
👉 Mungkin sebenarnya tidak terlalu pintar.
Penutup
Implikatur percakapan menunjukkan bahwa komunikasi manusia
itu tidak sesederhana kata-kata. Kita:
- membaca konteks
- memahami situasi
- bahkan “menebak” maksud orang lain
Itulah yang membuat bahasa
jadi hidup dan dinamis.
Jadi, lain kali kalau ada yang bilang:
“Terserah kamu…”
Hati-hati 😄
Karena dalam pragmatik…
👉 makna sebenarnya sering tidak ada di permukaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar