Senin, 30 Maret 2026

TINDAK TUTUR

 

BAB 4: TINDAK TUTUR

Pernah nggak kamu sadar kalau saat kita berbicara, sebenarnya kita nggak cuma “mengucapkan kata”, tapi juga melakukan sesuatu?

Misalnya:

“Saya janji akan datang.”

Kalimat ini bukan sekadar informasi, tapi juga tindakan—yaitu berjanji. Nah, dalam pragmatik, fenomena ini dikenal dengan istilah tindak tutur (speech acts).

Di bab ini, kita akan kupas konsep tindak tutur dengan cara santai, supaya kamu bisa memahami bagaimana bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga alat aksi.

 

Buku  PRAGMATIK


4.1 Teori Tindak Tutur

Konsep tindak tutur pertama kali diperkenalkan oleh J. L. Austin dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh John Searle.

Menurut Austin, ketika seseorang berbicara, ia sebenarnya melakukan tiga hal sekaligus. Bahasa bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi juga untuk melakukan tindakan sosial.

Contoh sederhana:

“Tolong tutup pintunya.”

Kalimat ini bukan hanya rangkaian kata, tapi juga tindakan meminta. Artinya, setiap ujaran memiliki “fungsi” tertentu dalam komunikasi.

Teori ini kemudian menjadi dasar penting dalam kajian pragmatik, terutama dalam memahami bagaimana maksud penutur bisa berbeda dari sekadar makna literal kalimat.

 

4.2 Jenis Tindak Tutur (Lokusi, Ilokusi, Perlokusi)

Menurut teori Austin, tindak tutur dibagi menjadi tiga jenis utama. Yuk kita bahas satu per satu.

 

1. Tindak Lokusi (Locutionary Act)

Tindak lokusi adalah tindakan mengucapkan sesuatu secara literal—apa yang benar-benar dikatakan.

Contoh:

“Hari ini hujan.”

Ini hanya pernyataan biasa tentang kondisi cuaca. Fokusnya ada pada struktur dan makna literal kalimat.

 

2. Tindak Ilokusi (Illocutionary Act)

Tindak ilokusi adalah maksud atau tujuan di balik ujaran tersebut.

Contoh:

“Hari ini hujan.”

Dalam konteks tertentu, kalimat ini bisa bermakna:

  • Mengingatkan agar membawa payung
  • Mengajak untuk tidak keluar rumah
  • Bahkan sebagai alasan untuk membatalkan rencana

Di sinilah inti pragmatik bekerja—memahami maksud di balik kata.

 

3. Tindak Perlokusi (Perlocutionary Act)

Tindak perlokusi adalah efek atau dampak yang ditimbulkan pada pendengar.

Contoh:

“Hari ini hujan.”

Efeknya bisa:

  • Pendengar mengambil payung
  • Pendengar membatalkan perjalanan
  • Pendengar merasa kecewa

Jadi, perlokusi berkaitan dengan apa yang terjadi setelah ujaran itu didengar.

 

Ringkasan Sederhana

Jenis Tindak Tutur

Fokus Utama

Contoh

Lokusi

Apa yang dikatakan

“Pintunya terbuka.”

Ilokusi

Maksud penutur

Meminta menutup pintu

Perlokusi

Dampak pada pendengar

Pendengar menutup pintu

 

4.3 Klasifikasi Tindak Tutur (Searle)

Kalau Austin membagi tindak tutur berdasarkan prosesnya, maka John Searle mengelompokkan tindak tutur berdasarkan fungsi komunikatifnya.

Berikut klasifikasi utama menurut Searle:

 

1. Asertif (Assertives)

Digunakan untuk menyatakan sesuatu yang dianggap benar oleh penutur.

Contoh:

  • “Hari ini panas sekali.”
  • “Dia sudah datang.”

Fungsinya: menyampaikan informasi atau keyakinan.

 

2. Direktif (Directives)

Digunakan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu.

Contoh:

  • “Tolong tutup pintunya.”
  • “Ambilkan buku itu.”

Fungsinya: memerintah, meminta, menyarankan.

 

3. Komisif (Commissives)

Digunakan untuk menyatakan komitmen penutur terhadap tindakan di masa depan.

Contoh:

  • “Saya janji akan datang.”
  • “Saya akan membantu kamu.”

Fungsinya: berjanji, bersumpah, menawarkan.

 

4. Ekspresif (Expressives)

Digunakan untuk mengekspresikan perasaan atau sikap penutur.

Contoh:

  • “Terima kasih banyak.”
  • “Maaf ya.”

Fungsinya: menunjukkan emosi seperti senang, sedih, marah, atau bersyukur.

 

5. Deklaratif (Declarations)

Digunakan untuk mengubah status atau keadaan secara langsung.

Contoh:

  • “Saya nyatakan Anda lulus.”
  • “Dengan ini saya menikahkan kalian.”

Fungsinya: menciptakan perubahan nyata melalui ujaran (biasanya dalam konteks formal).

 

Penutup

Tindak tutur mengajarkan kita bahwa berbicara itu bukan sekadar mengeluarkan kata-kata. Setiap ujaran punya tujuan, fungsi, dan dampak.

Dengan memahami tindak tutur, kita jadi lebih:

  • Peka terhadap maksud orang lain
  • Tepat dalam menyampaikan pesan
  • Bijak dalam berkomunikasi

Jadi, lain kali kamu berbicara, ingat ya—kamu bukan cuma “ngomong”, tapi juga sedang melakukan sesuatu lewat bahasa 😉

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tindak Tutur (Speech Acts)

  BAGIAN II: CABANG-CABANG LINGUISTIK Bab 7: Pragmatik Tindak Tutur (Speech Acts)   Dalam komunikasi sehari-hari, manusia tidak hanya m...