Halaman

Senin, 30 Maret 2026

IMPLIKATUR PERCAKAPAN

 

BAB 5: IMPLIKATUR PERCAKAPAN

(Ngobrol Biasa, Makna Luar Biasa)

Kalau kamu pernah merasa bahwa orang mengatakan sesuatu tapi maksudnya “lebih dari itu”, nah… selamat! Kamu sudah bersentuhan dengan dunia pragmatik, khususnya yang disebut implikatur percakapan. Yuk kita bahas dengan cara yang santai tapi tetap berbobot.

 

Buku  PRAGMATIK


5.1 Pengertian Implikatur

Secara sederhana, implikatur adalah makna tersembunyi di balik apa yang diucapkan seseorang. Jadi, bukan cuma kata-katanya saja yang penting, tapi juga apa yang dimaksudkan.

Misalnya:

A: “Kamu datang ke pesta?”
B: “Saya harus bangun pagi besok.”

Secara literal, B tidak bilang “tidak datang”. Tapi kita langsung paham maksudnya: dia tidak akan datang.

👉 Nah, itulah implikatur — makna yang tidak diucapkan secara langsung, tapi bisa dipahami dari konteks.

Dalam kehidupan sehari-hari, implikatur ini sering banget muncul, terutama dalam:

  • Sindiran 😏
  • Humor 😂
  • Basa-basi 🤝
  • Bahkan dalam percakapan formal

 

5.2 Implikatur Konvensional dan Percakapan

Dalam pragmatik, implikatur itu ada dua jenis utama:

1. Implikatur Konvensional

Ini adalah makna tambahan yang sudah “nempel” pada kata tertentu.

Contoh:

“Dia pintar, tetapi malas.”

Kata “tetapi” memberi implikasi adanya kontras antara dua hal.
Jadi, tanpa konteks pun, kita sudah tahu ada pertentangan.

👉 Ciri-ciri:

  • Melekat pada kata tertentu
  • Tidak terlalu bergantung pada konteks
  • Lebih stabil maknanya

 

2. Implikatur Percakapan

Nah, ini yang paling menarik! 😄

Implikatur percakapan muncul karena:

  • konteks
  • situasi
  • hubungan antar penutur

Contoh:

“Wah, rumahmu rapi sekali…”
(dikatakan saat rumah sebenarnya berantakan)

Makna sebenarnya?
👉 Bisa jadi sindiran!

👉 Ciri-ciri:

  • Sangat bergantung pada konteks
  • Bisa berubah-ubah
  • Butuh pemahaman situasi

 

5.3 Teori Grice

Kalau bicara implikatur, kita tidak bisa lepas dari tokoh penting:
👉 Paul Grice

Grice adalah orang yang menjelaskan bagaimana manusia bisa saling memahami makna tersembunyi dalam percakapan.

Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle)

Menurut Grice, dalam percakapan, kita secara tidak sadar mengikuti prinsip:

“Berkontribusilah dalam percakapan sesuai kebutuhan.”

Artinya: kita berbicara dengan tujuan agar bisa dipahami.

 

4 Maksim Percakapan Grice

Grice membagi prinsip ini menjadi 4 aturan (maksim):

1. Maksim Kuantitas

👉 Berikan informasi secukupnya (tidak kurang, tidak berlebihan)

Contoh:

  • Terlalu sedikit: “Ada orang.”
  • Terlalu banyak: cerita panjang lebar tanpa diminta

 

2. Maksim Kualitas

👉 Katakan yang benar (jangan bohong)

Contoh:

  • Jangan bilang “Saya sudah makan” kalau belum 😅

 

3. Maksim Relevansi

👉 Harus nyambung dengan topik

Contoh:

A: “Jam berapa sekarang?”
B: “Saya lapar.” ❌ (tidak relevan)

 

4. Maksim Cara (Manner)

👉 Sampaikan dengan jelas dan tidak berbelit-belit

Contoh:

  • Hindari kalimat yang ambigu atau membingungkan

 

Pelanggaran Maksim = Implikatur

Menariknya, implikatur sering muncul justru saat maksim ini dilanggar.

Contoh:

“Dia cukup pintar untuk ukuran mahasiswa baru.”

Implikasinya?
👉 Mungkin sebenarnya tidak terlalu pintar.

 

Penutup

Implikatur percakapan menunjukkan bahwa komunikasi manusia itu tidak sesederhana kata-kata. Kita:

  • membaca konteks
  • memahami situasi
  • bahkan “menebak” maksud orang lain

Itulah yang membuat bahasa jadi hidup dan dinamis.

Jadi, lain kali kalau ada yang bilang:

“Terserah kamu…”

Hati-hati 😄
Karena dalam pragmatik…
👉 makna sebenarnya sering tidak ada di permukaan.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar