Minggu, 22 Maret 2026

Mengenal Alat Ucap Manusia: Mesin Luar Biasa di Balik Bunyi Bahasa

 

Mengenal Alat Ucap Manusia: Mesin Luar Biasa di Balik Bunyi Bahasa

Oleh: Pusat Referensi Linguistik

Salam hangat bagi para pembaca setia Pusat Referensi Linguistik! Kita kembali lagi dalam seri artikel "Linguistik Umum" yang membahas cabang-cabang ilmu bahasa. Pada kesempatan sebelumnya, kita telah mengupas tuntas tentang hakikat bunyi bahasa sebagai fondasi utama dalam kajian Fonetik dan Fonologi. Kini, kita akan melangkah lebih dalam dengan membahas elemen krusial yang menjadi "pabrik" penghasil bunyi itu sendiri: Alat Ucap Manusia.

Bayangkan sebuah orkestra simfoni yang mampu menghasilkan ribuan variasi suara yang indah. Alat ucap manusia adalah orkestra itu. Ia terdiri dari berbagai organ yang bekerja secara simultan, terkoordinasi dengan presisi luar biasa, hanya dalam hitungan sepersekian detik. Memahami anatomi dan fisiologi alat ucap bukan hanya penting bagi ahli linguistik, tetapi juga bagi guru bahasa, terapis wicara, penyanyi, aktor, hingga siapa pun yang ingin memahami bagaimana bunyi bahasa hadir di dunia ini.

Dalam artikel ini, kita akan membedah "mesin biologi" tersebut secara sistematis, mulai dari sumber energi hingga organ artikulasi paling ujung.

 

Linguistik

Dapatkan buku LINGUISTIK UMUM untuk materi lebih dalam

Klasifikasi Alat Ucap: Tiga Sistem Utama

Secara fungsional, alat ucap manusia dapat dibagi menjadi tiga sistem utama yang bekerja secara berantai:

Sistem Penghasil Energi: Terutama paru-paru dan diafragma.

Sistem Penghasil Suara (Fonator): Laring (pangkal tenggorokan) dan pita suara (vocal folds).

Sistem Pengubah Suara (Artikulator): Rongga di atas laring, termasuk faring, rongga mulut (dengan lidah, bibir, langit-langit), dan rongga hidung.

Ketiga sistem ini bekerja dalam harmoni yang sempurna. Mari kita telusuri satu per satu.

 

A. Sistem Penghasil Energi: Paru-Paru dan Aliran Udara

Sumber utama energi untuk menghasilkan bunyi bahasa adalah aliran udara (airstream mechanism). Dalam sebagian besar bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia, mekanisme yang digunakan adalah pulmonic egressive, yaitu udara yang dikeluarkan (egressive) dari paru-paru (pulmonic).

Paru-paru berfungsi sebagai bellows (alat peniup) alami. Ketika kita berbicara, diafragma dan otot-otot interkostal (otot antar tulang rusuk) berkontraksi untuk mendorong udara dari paru-paru ke atas melalui trakea (batang tenggorokan). Kuat lemahnya aliran udara ini memengaruhi volume suara (loudness) dan juga berkontribusi pada fitur-fitur prosodi seperti tekanan (stress) dan intonasi.

Tanpa aliran udara yang memadai, tidak akan ada getaran dan tidak akan ada bunyi. Inilah sebabnya mengapa bernapas dengan teknik yang tepat sangat penting dalam berbicara di depan umum atau bernyanyi.

 

B. Sistem Penghasil Suara (Fonator): Laring dan Pita Suara

Setelah aliran udara dari paru-paru melewati trakea, ia akan tiba pada laring atau yang sering kita kenal sebagai jakun. Laring adalah struktur tulang rawan yang terletak di pangkal tenggorokan. Di dalam laring inilah terletak organ paling vital untuk fonasi (penghasilan suara): pita suara (vocal folds).

Pita suara sebenarnya bukanlah "pita" seperti yang sering dibayangkan, melainkan dua lipatan jaringan otot dan membran yang membentang dari depan ke belakang. Di antara kedua lipatan ini terdapat celah yang disebut glotis.

Keadaan glotis dan pita suara menentukan jenis bunyi yang dihasilkan:

Pita Suara Terbuka (Glotis Terbuka): Ketika pita suara terpisah, aliran udara dari paru-paru keluar dengan bebas. Dalam kondisi ini, tidak terjadi getaran, sehingga dihasilkan bunyi tak bersuara (voiceless). Contohnya bunyi /p/, /t/, /k/, /s/, /f/.

Pita Suara Menutup dan Bergetar: Ketika pita suara mendekat dan aliran udara mendorongnya hingga bergetar puluhan hingga ratusan kali per detik, dihasilkan bunyi bersuara (voiced). Semua vokal (/a/, /i/, /u/, /e/, /o/) dan konsonan seperti /b/, /d/, /g/, /m/, /n/, /l/, /r/ termasuk dalam kategori ini. Frekuensi getaran pita suara inilah yang menentukan tinggi rendahnya nada (pitch) suara seseorang.

Pita Suara Tertekan (Glotis Tertutup Rapat): Jika glotis tertutup rapat sehingga aliran udara terhenti, dihasilkan bunyi glotal stop (hamzah). Dalam bahasa Indonesia, bunyi ini sering tidak dilambangkan secara khusus dalam tulisan, tetapi hadir pada kata-kata seperti maaf (diucapkan ma-af dengan jeda berhenti di tenggorokan) atau pakai (diucapkan pa-kai tanpa jeda, berbeda dengan pa'akai yang bermakna lain dalam dialek tertentu).

Laring juga dapat bergerak naik dan turun. Pergerakan ini berperan penting dalam menghasilkan bunyi-bunyi tertentu, seperti vokal dan konsonan yang memiliki sifat faringal atau dalam produksi nada pada bahasa bernada (language tone) seperti bahasa Mandarin atau bahasa Vietnam.

 

C. Sistem Pengubah Suara (Artikulator): Rongga di Atas Laring

Setelah melalui laring, aliran udara memasuki saluran suara (vocal tract) yang terdiri dari tiga rongga utama: faring (tekak), rongga mulut (oral cavity), dan rongga hidung (nasal cavity). Di sinilah bunyi "mentah" dari getaran pita suara dibentuk menjadi bunyi-bunyi bahasa yang beragam dan khas.

Organ-organ yang terlibat dalam proses ini disebut artikulator. Mereka dibagi menjadi dua kategori:

Artikulator Aktif: Organ yang bergerak untuk melakukan artikulasi, terutama lidah dan bibir bawah.

Artikulator Pasif: Organ yang menjadi tempat bersentuhan atau mendekatnya artikulator aktif, seperti gigi, langit-langit keras, dan langit-langit lunak.

Mari kita kenali satu per satu.

1. Faring (Tekak)

Faring adalah rongga yang menghubungkan laring dengan rongga mulut dan rongga hidung. Dalam banyak bahasa, penyempitan di faring dapat menghasilkan bunyi faringal. Meskipun dalam bahasa Indonesia bunyi ini tidak berfungsi secara fonemik, peran faring sebagai ruang resonansi sangat penting untuk kualitas suara (voice quality) dan pembentukan bunyi vokal.

2. Rongga Mulut

Rongga mulut adalah ruang artikulasi paling kompleks. Di dalamnya terdapat organ-organ yang sangat fleksibel.

Lidah (Tongue): Lidah adalah artikulator terpenting. Karena kelenturannya yang luar biasa, lidah dapat bergerak ke berbagai arah dan posisi. Secara anatomis, lidah dibagi menjadi beberapa bagian:

Apex (Ujung Lidah): Digunakan untuk bunyi apikal seperti /t/, /d/, /n/.

Blade (Daun Lidah): Permukaan depan lidah, digunakan untuk bunyi laminal seperti /s/, /z/ dalam beberapa dialek.

Dorsum (Punggung Lidah): Bagian tengah dan belakang lidah, digunakan untuk bunyi velar seperti /k/, /g/, /ŋ/.

Radix (Akar Lidah): Bagian pangkal lidah, berperan dalam bunyi faringal dan juga mempengaruhi kualitas vokal.

Langit-langit (Palate): Merupakan artikulator pasif yang menjadi target gerakan lidah. Terdiri dari:

Gigi (Teeth): Untuk bunyi dental seperti bunyi th dalam bahasa Inggris (thinkthis). Dalam bahasa Indonesia, bunyi dental tidak memiliki status fonemik tersendiri.

Alveolum (Gusi): Gusi di belakang gigi atas. Tempat artikulasi untuk bunyi alveolar: /t/, /d/, /n/, /s/, /l/, /r/.

Palatum (Langit-langit Keras): Bagian keras di belakang alveolum. Tempat artikulasi untuk bunyi palatal seperti /c/, /j/, /ɲ/ (ny).

Velum (Langit-langit Lunak): Bagian lunak di belakang langit-langit keras. Tempat artikulasi untuk bunyi velar: /k/, /g/, /ŋ/ (ng).

Uvula (Anak Lidah): Tonjolan kecil di ujung velum. Dalam beberapa bahasa (seperti bahasa Perancis), uvula digunakan untuk menghasilkan bunyi uvular /R/.

Bibir (Lips): Bibir adalah artikulator yang sangat mobile. Berdasarkan posisinya, bibir dapat:

Bilabial: Kedua bibir bertemu untuk menghasilkan /p/, /b/, /m/.

Labiodental: Bibir bawah menyentuh gigi atas untuk menghasilkan /f/, /v/.

Pembulatan (Rounding): Bibir membulat untuk menghasilkan vokal belakang seperti /u/ dan /o/.

3. Rongga Hidung (Nasal Cavity)

Rongga hidung berfungsi sebagai ruang resonansi tambahan. Pada saat produksi bunyi oral (seperti kebanyakan bunyi bahasa), velum (langit-langit lunak) terangkat dan menutup jalur menuju rongga hidung, sehingga udara hanya keluar melalui mulut.

Sebaliknya, ketika velum diturunkan, udara dapat keluar melalui rongga hidung. Inilah yang menghasilkan bunyi nasal, seperti /m/, /n/, /ŋ/, dan juga vokal nasal yang dikenal dalam bahasa Perancis atau bahasa Portugis. Dalam bahasa Indonesia, konsonan nasal sangat umum, sementara vokal nasal hanya muncul sebagai variasi alofonik (misalnya, kata saya sering diucapkan dengan vokal nasal karena pengaruh konsonan nasal sebelumnya atau sesudahnya).

 

Koordinasi dan Signifikansinya dalam Linguistik

Memahami alat ucap manusia bukan sekadar urusan anatomi. Dalam kajian linguistik, khususnya Fonetik Artikulatoris, pengetahuan ini menjadi dasar untuk mengklasifikasikan setiap bunyi bahasa secara ilmiah.

Setiap bunyi dapat dideskripsikan secara presisi berdasarkan:

Tempat Artikulasi: Di mana artikulator aktif bersentuhan dengan artikulator pasif.

Cara Artikulasi: Bagaimana aliran udara dimodifikasi.

Keadaan Pita Suara: Apakah pita suara bergetar atau tidak.

Contoh: Bunyi /b/ dalam bahasa Indonesia dapat dideskripsikan sebagai bunyi bilabial (kedua bibir), plosif (aliran udara dihentikan lalu dilepaskan), dan bersuara (pita suara bergetar). Deskripsi semacam ini hanya mungkin dilakukan jika kita memahami secara detail bagaimana alat ucap bekerja.

Selain itu, pemahaman tentang alat ucap juga memiliki aplikasi praktis yang luas:

Pengajaran Bahasa: Membantu pembelajar bahasa asing memahami dan menghasilkan bunyi-bunyi yang tidak ada dalam bahasa ibu mereka. Misalnya, mengajarkan bunyi th (/θ/ dan /ð/) kepada penutur bahasa Indonesia dengan menjelaskan posisi lidah di antara gigi.

Klinis (Patologi Wicara): Membantu terapis wicara mendiagnosis dan menangani gangguan artikulasi seperti cadel (sigmatisme) atau gangguan motorik oral.

Teknologi: Dalam pengembangan speech recognition dan text-to-speech, pemodelan alat ucap (artikulator) secara akurat sangat diperlukan untuk menghasilkan suara sintetis yang natural.

 

Penutup

Alat ucap manusia adalah sebuah mahakarya evolusi yang luar biasa. Apa yang kita anggap sepele—berbicara—sebenarnya adalah hasil koordinasi rumit antara paru-paru yang menghembuskan udara, pita suara yang bergetar dengan frekuensi tepat, lidah yang bergerak lincah dalam hitungan milidetik, bibir yang membuka dan membulat, serta langit-langit lunak yang naik turun mengatur aliran udara ke hidung.

Dengan memahami organ-organ ini, kita tidak hanya menjadi pengamat bahasa yang lebih baik, tetapi juga semakin mengagumi kompleksitas ciptaan Tuhan atau keajaiban evolusi yang memungkinkan manusia—satu-satunya spesies di bumi—memiliki kemampuan berbahasa yang sistematis dan produktif.

Pada artikel berikutnya di seri Fonetik dan Fonologi, kita akan melanjutkan pembahasan tentang bagaimana bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap ini diklasifikasikan secara sistematis, mulai dari vokal, konsonan, hingga fitur suprasegmental. Tetap bersama Pusat Referensi Linguistik!

 

Daftar Pustaka Rujukan:

Ladefoged, P., & Johnson, K. (2014). A Course in Phonetics. Cengage Learning.

Marsono. (2013). Fonetik. Gadjah Mada University Press.

Kent, R. D., & Read, C. (2015). The Acoustic Analysis of Speech. Plural Publishing.

Verhaar, J. W. M. (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Gadjah Mada University Press.

Sabtu, 21 Maret 2026

Memahami Hakikat Bunyi Bahasa: Fondasi Fonetik dan Fonologi

 

Memahami Hakikat Bunyi Bahasa: Fondasi Fonetik dan Fonologi

Oleh: Pusat Referensi Linguistik

Selamat berjumpa kembali para pencinta ilmu bahasa! Pada kesempatan kali ini, kita akan melanjutkan perjalanan kita dalam memahami "Linguistik Umum", tepatnya pada Bagian II: Cabang-Cabang Linguistik. Setelah sebelumnya kita membahas tentang fondasi linguistik secara umum, kini saatnya kita menyelami salah satu cabang yang paling fundamental: Fonetik dan Fonologi. Kedua cabang ilmu ini memiliki objek material yang sama, yaitu bunyi bahasa, namun dengan pendekatan yang sangat berbeda.

Jika bahasa adalah sebuah bangunan megah yang terdiri dari kata, frasa, dan kalimat, maka fondasi paling dasarnya adalah bunyi. Sebelum manusia mampu merangkai makna yang rumit, ia terlebih dahulu menghasilkan bunyi. Oleh karena itu, memahami hakikat bunyi bahasa adalah langkah pertama yang krusial untuk memahami bagaimana bahasa bekerja. Mari kita bedah bersama.

 

Linguistik

Dapatkan buku LINGUISTIK UMUM untuk materi lebih dalam

Hakikat Bunyi Bahasa

Dalam kajian linguistik, bunyi tidak semata-mata dipahami sebagai getaran di udara yang kita dengar. Bunyi bahasa memiliki definisi yang lebih spesifik. Secara hakiki, bunyi bahasa adalah artikulasi atau ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (organ of speech) dan memiliki fungsi sebagai alat komunikasi linguistik.

Ada tiga poin penting yang perlu digarisbawahi dari definisi ini:

Dihasilkan oleh Alat Ucap Manusia: Tidak semua bunyi yang mampu dihasilkan manusia adalah bunyi bahasa. Misalnya, batuk, bersin, atau siulan adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap, tetapi secara konvensional tidak dianggap sebagai bunyi bahasa karena tidak tersistem dalam suatu kode linguistik.

Bersifat Arbitrer: Hubungan antara bunyi dan maknanya bersifat manasuka atau konvensional. Tidak ada hubungan logis atau alamiah antara urutan bunyi /k/-/u/-/r/-/s/-/i/ dengan konsep ‘hewan yang suka mengeong’. Kesepakatan inilah yang membedakan bunyi bahasa dari bunyi non-bahasa.

Berfungsi untuk Membedakan Makna: Inilah inti dari hakikat bunyi bahasa. Dalam suatu bahasa, perubahan sebuah bunyi dapat mengubah makna secara signifikan. Contoh klasik dalam bahasa Indonesia: perbedaan bunyi /p/ dan /b/ pada kata pasar dan basar (meskipun "basar" mungkin tidak baku, ia berpotensi menjadi kata yang berbeda). Kemampuan untuk membedakan makna inilah yang menjadi ranah kajian fonologi, sementara wujud fisik bunyi itu sendiri menjadi ranah fonetik.

Untuk memahami hakikat bunyi bahasa secara utuh, kita harus menelisiknya dari dua sudut pandang yang saling melengkapi: Fonetik (ilmu yang mempelajari bunyi sebagai fenomena fisik) dan Fonologi (ilmu yang mempelajari bunyi sebagai sistem abstrak dalam bahasa).

 

Bab 3.1: Fonetik – Fisika Bunyi Bahasa

Fonetik adalah cabang linguistik yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut memiliki fungsi untuk membedakan makna atau tidak. Fokusnya adalah pada produksi (artikulasi), transmisi (akustik), dan persepsi (auditif) bunyi. Para ahli fonetik bertugas untuk mendeskripsikan bagaimana lidah bergerak, bagaimana pita suara bergetar, dan bagaimana gelombang bunyi merambat.

Secara umum, fonetik dibagi menjadi tiga sub-bidang utama:

1. Fonetik Artikulatoris

Ini adalah cabang yang paling umum dikenal. Fonetik artikulatoris mempelajari bagaimana alat-alat ucap manusia (seperti bibir, gigi, lidah, langit-langit, pita suara) bekerja sama untuk menghasilkan bunyi. Dalam kajian ini, setiap bunyi dilabeli berdasarkan tiga parameter utama:

Tempat Artikulasi (Place of Articulation): Di mana penyempitan atau penutupan terjadi di saluran suara. Misalnya:

Bilabial: kedua bibir (contoh: /p/, /b/, /m/).

Alveolar: lidah menyentuh gusi (alveolum) (contoh: /t/, /d/, /n/, /s/).

Velar: pangkal lidah menyentuh langit-langit lunak (velum) (contoh: /k/, /g/, /ŋ/).

Glotal: pita suara (contoh: /h/).

Cara Artikulasi (Manner of Articulation): Bagaimana aliran udara dimodifikasi atau dihambat saat keluar dari paru-paru.

Stop/Plosif: Aliran udara dihentikan sepenuhnya lalu dilepaskan (contoh: /p/, /t/, /k/).

Frikatif: Aliran udara dipersempit sehingga menimbulkan gesekan (contoh: /f/, /s/, /z/).

Nasal: Aliran udara keluar melalui rongga hidung (contoh: /m/, /n/, /ŋ/).

Vokal: Tidak ada hambatan, aliran udara keluar bebas.

Keadaan Pita Suara (Voicing):

Bersuara (Voiced): Pita suara bergetar (contoh: /b/, /d/, /g/, semua vokal).

Tak Bersuara (Voiceless): Pita suara tidak bergetar (contoh: /p/, /t/, /k/, /f/, /s/).

2. Fonetik Akustik

Fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai gelombang fisik. Cabang ini mengandalkan alat-alat canggih seperti spektrogram untuk menganalisis frekuensi, amplitudo, dan durasi bunyi. Dalam kajian ini, vokal dikenali dari formant (pita frekuensi resonansi), sementara konsonan dikenali dari pola burst (ledakan) dan noise (derau).

3. Fonetik Auditoris

Fonetik auditoris mempelajari bagaimana bunyi diterima oleh telinga dan diproses oleh otak pendengar. Ini adalah ranah persepsi. Mengapa kita bisa membedakan bunyi /p/ yang diucapkan oleh pria dewasa, wanita, dan anak kecil sebagai fonem yang sama? Inilah yang dikaji dalam fonetik auditoris, yang menyangkut sisi psikoakustik pendengaran manusia.

 

Bab 3.2: Fonologi – Sistem Bunyi dalam Bahasa

Jika fonetik mempelajari bunyi sebagai entitas fisik universal, Fonologi mempelajari bunyi sebagai entitas fungsional yang terstruktur dalam suatu sistem bahasa tertentu. Fonologi tidak peduli seberapa lebar lidah Anda saat mengucapkan /a/; ia peduli apakah perbedaan lidah itu mengubah makna kata dalam bahasa Indonesia.

Objek kajian fonologi adalah fonem, yaitu satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan makna. Untuk menentukan apakah sebuah bunyi merupakan fonem atau bukan, ahli linguistik menggunakan uji minimal (minimal pair).

Uji Minimal: Sepasang kata yang memiliki makna berbeda, hanya berbeda dalam satu bunyi pada posisi yang sama.
Contoh:

[l]apang vs [r]apang → /l/ dan /r/ adalah dua fonem yang berbeda dalam bahasa Indonesia.

[s]aru vs [c]aru → /s/ dan /c/ adalah fonem yang berbeda.

Selain fonem, fonologi juga membahas alofon. Alofon adalah varian-varian bunyi dari sebuah fonem yang tidak membedakan makna. Perbedaan ini biasanya terjadi karena pengaruh lingkungan bunyi di sekitarnya.

Contoh dalam bahasa Indonesia:
Fonem /p/ memiliki beberapa alofon:

Aspirasi: Pada posisi awal kata seperti pulau, /p/ diucapkan sedikit berhembus (aspirated).

Tak Lepas: Pada posisi akhir kata seperti siap, /p/ diucapkan tanpa dilepaskan (unreleased).

Lepas: Pada posisi di antara dua vokal seperti apa, /p/ diucapkan dengan jelas dan tanpa hembusan.

Bagi penutur asli bahasa Indonesia, ketiga perbedaan ini tidak disadari karena tidak mengubah makna pulausiap, atau apa. Namun, bagi penutur bahasa Inggris, perbedaan ini bisa menjadi signifikan.

 

Hubungan dan Signifikansi: Antara Fisik dan Sistem

Memahami hakikat bunyi bahasa berarti memahami dualitasnya. Bunyi bahasa adalah entitas yang fisik (dikaji oleh fonetik) sekaligus abstrak (dikaji oleh fonologi).

Fonetik memberikan data mentah. Ia menjawab pertanyaan: "Bunyi apa yang dihasilkan? Bagaimana lidah bergerak? Berapa frekuensinya?"

Fonologi memberikan sistem. Ia menjawab pertanyaan: "Bunyi mana yang penting (fonemik) dan mana yang hanya variasi (alofonik)? Bagaimana bunyi-bunyi itu berinteraksi dalam satu bahasa?"

Keduanya tidak dapat dipisahkan. Seorang ahli fonetik yang baik perlu memahami sistem fonologi agar tahu bunyi apa yang relevan untuk diukur. Sebaliknya, seorang ahli fonologi yang baik perlu memahami fonetik agar dapat menjelaskan mengapa sebuah perubahan bunyi terjadi (misalnya, mengapa /n/ berubah menjadi /m/ jika diikuti /p/? Karena kedua bunyi sama-sama bilabial, memudahkan artikulasi).

Penutup

Hakikat bunyi bahasa adalah fondasi yang menopang seluruh struktur kebahasaan. Tanpa pemahaman yang kokoh tentang bagaimana bunyi diproduksi, ditransmisikan, dan disistemkan, mustahil bagi kita untuk memahami level kebahasaan yang lebih tinggi seperti morfologi (bentuk kata) atau sintaksis (struktur kalimat).

Dalam perjalanan kita di "Pusat Referensi Linguistik" ini, pembahasan mengenai Fonetik dan Fonologi baru sebatas pintu gerbang. Masih banyak topik menarik lainnya yang menanti, seperti klasifikasi vokal berdasarkan tinggi rendah lidah, kajian tentang suprasegmental (intonasi, tekanan, dan jeda), serta teori-teori fonologi generatif yang lebih kompleks.

Bagi para pembaca yang ingin mendalami lebih lanjut, cobalah untuk melatih diri dengan melihat cermin saat mengucapkan kata-kata seperti kakakmama, atau satu. Perhatikan pergerakan lidah dan bibir Anda. Itulah langkah awal untuk menghargai kompleksitas yang tersembunyi di balik setiap ujaran yang kita hasilkan setiap hari.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang keindahan struktur bahasa manusia. Sampai jumpa pada artikel berikutnya di Pusat Referensi Linguistik!

 

Daftar Pustaka Rujukan:

Kent, R. D., & Read, C. (2015). The Acoustic Analysis of Speech. Plural Publishing.

Ladefoged, P., & Johnson, K. (2014). A Course in Phonetics. Cengage Learning.

Marsono. (2013). Fonetik. Gadjah Mada University Press.

Schane, S. A. (1973). Fonologi Generatif. Terjemahan. Penerbit PT Gramedia.

 

 

Sosiolinguistik – Dialek dan Ragam Bahasa

  BAGIAN III LINGUISTIK TERAPAN DAN INTERDISIPLINER Bab 8: Sosiolinguistik – Dialek dan Ragam Bahasa Pendahuluan Bahasa sebagai alat...