Selasa, 17 Februari 2026

Peran Input Orang Tua (Motherese): Pengaruh Cara Bicara Orang Dewasa pada Bayi

Peran Input Orang Tua (Motherese)

Pendahuluan

Bahasa merupakan fenomena kompleks yang berkembang melalui interaksi biologis, kognitif, dan sosial. Salah satu aspek paling menarik dalam kajian pemerolehan bahasa anak adalah bagaimana input dari lingkungan, terutama dari orang tua atau pengasuh, memengaruhi perkembangan bahasa bayi.

Dalam konteks ini, para peneliti linguistik dan psikologi merujuk pada fenomena yang dikenal sebagai motherese, parentese, atau infant-directed speech (IDS) — pola berbicara orang dewasa yang berbeda secara karakteristik ketika ditujukan kepada bayi. Pola ini tidak hanya mencakup kosakata sederhana, tetapi juga ciri fonetik, ritmis, dan pro-sodik yang unik.

Artikel ini menjelaskan secara mendalam:

·         Apa itu motherese,

·         Ciri-ciri linguistiknya,

·         Bagaimana cara motherese memengaruhi kemampuan bahasa bayi,

·         Bukti empiris dari berbagai penelitian,

·         Implikasi untuk perkembangan bahasa dan pendidikan keluarga.

 

Apa Itu Motherese?

Motherese (juga disebut parentese atau infant–directed speech) merupakan gaya berbicara orang dewasa yang secara intuitif digunakan ketika berbicara kepada bayi atau anak kecil. Gaya ini memiliki ciri khas yang berbeda dibandingkan pembicaraan orang dewasa ke orang dewasa (adult-directed speech).

Beberapa ciri utama motherese meliputi:

·         Intonasi melengking dan kontur nada yang lebih ekspresif,

·         Kalimat yang lebih pendek dan struktur sederhana,

·         Pengulangan frasa atau kata,

·         Lambatnya kecepatan bicara,

·         Penekanan pada kata-kata penting,

·         Artikulasinya lebih jelas (exaggerated phonetic articulation).

Fenomena ini bersifat lintas budaya, meskipun ekspresinya bervariasi tergantung nilai sosial dan budaya lokal (Fernald & Simon, 1984; Kuhl et al., 1997).

 

Mengapa Orang Dewasa Menggunakan Motherese?

Para orang tua atau pengasuh secara naluriah menggunakan motherese meskipun mereka tidak dilatih secara linguistik atau psikologis. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia secara biologis diprogram untuk berinteraksi secara berbeda dengan bayi dibandingkan dengan orang dewasa lainnya.

Beberapa alasan yang disarankan oleh penelitian antara lain:

1.      Menarik perhatian bayi — Kontur nada yang tinggi dan ekspresif lebih mudah menarik fokus bayi (Fernald & Kuhl, 1987).

2.      Mempermudah pemrosesan fonetik — Lambatnya ritme bicara dan artikulasi yang jelas membantu bayi membedakan bunyi bahasa.

3.      Menyediakan konteks emosional aman — Nada ekspresif memberi sinyal afeksi dan keterlibatan sosial yang penting bagi pembelajaran.

Dengan kata lain, motherese bukan sekadar gaya berbicara lucu, tetapi merupakan alat kognitif dan sosial yang mendukung akuisisi bahasa.

 

Ciri Fonetik dan Pro-sodik dalam Motherese

Perbedaan yang paling jelas antara motherese dan adult-directed speech dapat dilihat dalam aspek fonetik dan pro-sodik — yaitu aspek bunyi dan ritme bahasa.

Beberapa ciri fonetik dan pro-sodik motherese antara lain:

1. Rentang Nada Lebih Lebar

Orang dewasa yang berbicara kepada bayi cenderung menggunakan pitch yang lebih tinggi dan variasi nada yang lebih lebar. Ini memberi sinyal emosional yang kuat sekaligus membantu bayi dalam segmentasi kata — memisahkan ujaran menjadi unit yang lebih kecil (Fernald, 1992).

2. Artikulasi yang Lebih Jelas

Dalam motherese, pengucapan konsonan dan vokal sering kali lebih tegas atau lebih tertekan secara ritmis. Hal ini membantu bayi dalam mengenali kontras fonem, tahap awal perkembangan fonologi (Kuhl et al., 1997).

3. Kalimat Lebih Pendek dan Struktur Lebih Sederhana

Kalimat dalam motherese sering kali bersifat repetitif dan sederhana. Ini membantu bayi untuk lebih cepat mengenali pola tata bahasa dasar dan kosakata umum.

 

Bagaimana Motherese Memengaruhi Perkembangan Bahasa Bayi?

Penelitian empiris selama beberapa dekade terakhir telah menunjukkan bahwa motherese memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan bahasa bayi melalui beberapa mekanisme utama.

 

1. Mempercepat Perkembangan Fonetik dan Fonologis

Bayi hidup dalam lingkungan yang penuh dengan rangsangan akustik. Namun bukan semua rangsangan itu sama relevan untuk membentuk sistem bunyi bahasa. Motherese memberikan input fonetik yang lebih jelas, sehingga membantu bayi:

·         Membedakan fonem bahasa mereka lebih awal,

·         Mengelompokkan bunyi ke dalam kategori yang sesuai,

·         Membentuk sensitivitas terhadap pola bunyi tertentu.

Kuhl et al. (1997) menunjukkan bahwa bayi yang lebih sering terpapar motherese menunjukkan tingkat diskriminasi fonetik yang lebih tinggi dibandingkan bayi yang jarang terpapar gaya bicara tersebut.

 

2. Membantu Segmentasi Bahasa

Salah satu tantangan awal dalam pemerolehan bahasa adalah segmentasi — memisahkan rangkaian ujaran kontinu menjadi kata-kata terpisah. Motherese dengan pola intonasi yang jelas dan jeda yang teratur membantu bayi dalam proses ini (Thiessen, Hill, & Saffran, 2005).

 

3. Meningkatkan Interaksi Sosial

Sebelum bayi dapat berbicara, mereka sudah berpartisipasi dalam bentuk komunikasi non-verbal. Motherese memberikan konteks sosial yang aman dan menarik sehingga:

·         Bayi memperhatikan wajah dan gerak mulut pengasuh,

·         Bayi mulai responsif terhadap ekspresi emosional,

·         Interaksi dua arah menjadi lebih bermakna.

Interaksi yang konsisten dan responsif ini meningkatkan motivasi anak untuk berkomunikasi — tahap penting dalam pemerolehan bahasa (Bruner, 1983).

 

4. Meningkatkan Perhatian dan Pembelajaran Kontekstual

Kontur nada yang tinggi dan ekspresif dalam motherese menarik perhatian bayi lebih kuat daripada adult-directed speech. Perhatian yang tinggi memungkinkan bayi memproses input linguistik lebih mendalam dan efisien, yang kemudian mendorong pemerolehan kosakata awal dan pola tata bahasa sederhana.

 

Bukti Empiris tentang Peran Motherese

Para peneliti telah mempelajari pengaruh motherese melalui berbagai metode, termasuk observasi longitudinal, eksperimen diskriminasi fonetik, dan pengukuran respons elektrofisiologis pada bayi.

1. Preferensi Bayi akan Motherese

Beberapa studi menunjukkan bahwa bayi lebih responsif terhadap motherese daripada adult-directed speech. Fernald dan Kuhl (1987) menemukan bahwa bayi cenderung mengarahkan perhatian lebih lama ketika mendengar motherese, meskipun tidak memahami kosakatanya.

2. Diskriminasi Bunyi yang Lebih Cepat

Kuhl et al. (1997) menggunakan teknik high-amplitude sucking dan menemukan bahwa paparan motherese meningkatkan kemampuan bayi membedakan fonem bahasa lokal lebih cepat daripada paparan melalui pidato biasa.

3. Segmentasi Bahasa yang Diperkuat

Thiessen, Hill, dan Saffran (2005) menunjukkan dalam studi eksperimental bahwa bayi yang mendengarkan input dengan intonasi khas IDS lebih mampu mempelajari segmentasi kata dibanding kelompok yang mendengar input tanpa intonasi khas tersebut.

 

Apakah Motherese Selalu Diperlukan?

Walaupun motherese memiliki banyak manfaat, bukan berarti bahasa tidak dapat diperoleh tanpa gaya bicara tersebut.

Masih ada bayi yang tumbuh dalam lingkungan bilingual atau lingkungan dengan variasi gaya bicara yang berbeda — mereka tetap mampu belajar bahasa dengan baik. Penelitian menunjukkan bahwa yang terpenting bukan motherese itu sendiri, tetapi:

1.      Keterlibatan sosial yang responsif,

2.      Paparan bahasa yang cukup,

3.      Konteks interaksi yang konsisten.

Dengan kata lain, motherese dapat mempercepat atau mempermudah proses pemerolehan bahasa, tetapi bukan satu-satunya jalan menuju kompetensi linguistik.

Implikasi untuk Pendidikan dan Pengasuhan

Pemahaman tentang peran motherese memiliki implikasi penting bagi orang tua, pengasuh, dan pendidik:

1. Mendorong Interaksi Bahasa Dini

Berbicara dengan bayi secara sadar dan responsif sejak dini — bahkan sebelum bayi mampu berbicara — dapat memperkuat kemampuan linguistik awal.

2. Fokus pada Kualitas Komunikasi

Melibatkan bayi dalam percakapan dua arah, meskipun mereka belum bisa menjawab secara verbal, membuka peluang belajar bahasa secara natural.

3. Variasi Paparan Bahasa

Paparan terhadap berbagai bentuk bahasa yang bermakna (termasuk cerita, lagu anak, percakapan rutin) dapat memperkaya representasi bahasa bayi.

Kesimpulan

Motherese merupakan fenomena universal dalam interaksi manusia yang mencerminkan bagaimana input linguistik dari orang dewasa memengaruhi perkembangan bahasa bayi. Dengan ciri khasnya yang meliputi intonasi tinggi, artikulasi jelas, ritme yang lambat, dan struktur sederhana, motherese tidak hanya menarik perhatian bayi tetapi juga memperkuat kemampuan fonetik, fonologis, dan sosial-emosional yang diperlukan bagi perkembangan bahasa.

Kendati bukan satu-satunya faktor yang menentukan, motherese merupakan bentuk input bahasa yang sangat efektif dalam membantu bayi memahami struktur bunyi dan pola linguistik di lingkungan bahasanya.

 

Referensi

Bruner, J. (1983). Child’s talk: Learning to use language. Oxford University Press.

Fernald, A. (1992). Human maternal vocalizations to infants as biologically relevant signals: An evolutionary perspective. Annals of the New York Academy of Sciences, 708(1), 273–288.

Fernald, A., & Kuhl, P. (1987). Acoustic determinants of infant preference for motherese speech. Infant Behavior and Development, 10(3), 279–293.

Fernald, A., & Simon, T. (1984). Expanded intonation contours in mothers’ speech to newborns. Developmental Psychology, 20(1), 104–113.

Kuhl, P. K., Andruski, J. E., Chistovich, I. A., Chistovich, L. A., Kozhevnikova, E. V., Ryskina, V. L., ... & Lacerda, F. (1997). Cross-language analysis of phonetic units in language addressed to infants. Science, 277(5326), 684–686.

Thiessen, E. D., Hill, E. A., & Saffran, J. R. (2005). Infant-directed speech facilitates word segmentation. Infancy, 7(1), 53–71.


 

Senin, 16 Februari 2026

Overregularization: Mengapa Anak Kecil Bilang “makaned” atau “pergi-ed”?

Overregularization: Mengapa Anak Kecil Bilang “makaned” atau “pergi-ed”?

Pendahuluan

Overregularization:


Saat anak belajar berbicara, orang dewasa sering mendengar kalimat lucu seperti “makaned” atau “pergi-ed”. Di satu sisi, bentuk-bentuk ini salah menurut tata bahasa standar; namun di sisi lain, fenomena ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting tentang bagaimana bahasa dipelajari. Fenomena linguistik ini dikenal sebagai overregularization — ketika anak menerapkan aturan tata bahasa secara berlebihan ke bentuk-bentuk yang tidak seharusnya. Misalnya, menambahkan –ed pada semua verba untuk membentuk bentuk lampau atau menerapkan aturan jamak biasa pada kata-kata yang tidak biasa.

Artikel ini akan membahas secara mendalam:

·         apa itu overregularization,

·         dasar psikologisnya,

·         contoh-contoh nyata,

·         mengapa hal ini terjadi dalam pemerolehan bahasa anak,

·         dan implikasinya dalam teori linguistik serta pendidikan bahasa.

 

Apa Itu Overregularization?

Overregularization adalah fenomena ketika pembelajar bahasa, terutama anak kecil, menerapkan aturan tata bahasa secara luas atau berlebihan, bahkan ketika aturan itu tidak berlaku pada semua kasus. Contohnya:

·         “goed” alih-alih “went”

·         “mouses” alih-alih “mice”

·         “tooths” alih-alih “teeth”

·         “makaned” / “pergi-ed” alih-alih “makan” / “pergi”

Kesalahan semacam ini bukan sekadar kesalahan acak — tetapi menunjukkan bahwa anak telah menyadari adanya aturan linguistik dan mencoba menerapkannya secara sistematis (Brown, 1973; Marcus, 1995).

 

Asal-usul Istilah dan Sejarah Studi

Istilah overregularization pertama kali diperkenalkan dalam studi klasik tentang pemerolehan bahasa oleh Roger Brown dan rekan-rekannya pada tahun 1970-an. Mereka memperhatikan bahwa anak-anak kecil bukan hanya meniru kosakata, tetapi mengembangkan aturan internal tentang bagaimana bahasa bekerja (Brown, 1973).

Kemudian, Steven Pinker dan Mark Aronoff menjelaskan fenomena ini sebagai bukti bahwa bahasa bukan sederhana sekadar perilaku yang ditiru, tetapi produk dari sistem kognitif internal yang mampu menangkap pola dan membuat generalisasi aturan secara aktif (Pinker & Ullman, 2002).

Contoh-Contoh Overregularization

Mari kita telaah contoh-contoh nyata dalam bahasa Inggris:

Bentuk Anak

Bentuk Dewasa

Jenis Kesalahan

goed

went

Lampau verba tidak beraturan

foots

feet

Jamak tidak beraturan

holded

held

Lampau verba tidak beraturan

sheeps

sheep

Jamak tidak berubah

Dalam bahasa Indonesia, meskipun struktur verba tidak berubah dengan sufiks, eksplisitnya anak bisa menunjukkan pola yang mirip ketika menerapkan asumsi aturan yang belum tepat:

Contoh Anak

Bentuk Standar

pergi-ed

pergi

makaned

makan

ambiling

mengambil

Kesalahan ini mencerminkan internalisasi pola tata bahasa yang sedang berkembang — anak tidak hanya meniru, tetapi menggeneralisasi aturan dari contoh yang mereka dengar.

 

Mengapa Fenomena Ini Terjadi?

1. Anak Memahami dan Generalisasi Pola

Anak bukan mesin peniru. Mereka mencoba memahami pola-pola dalam bahasa yang mereka dengar. Ketika anak sering mendengar bentuk lampau beraturan dengan –ed, mereka membentuk aturan internal:

Jika verba dalam bahasa menggunakan –ed untuk lampau, maka semua verba untuk lampau juga harus menggunakan –ed.

Ini adalah bentuk generalization — kemampuan kognitif dasar manusia untuk membuat aturan dari contoh.

2. Model Input yang Tidak Lengkap

Input yang diterima anak sering didominasi oleh bentuk beraturan (contoh: walked, played, jumped). Karena anak belum memiliki sistem yang lengkap tentang semua verba tidak beraturan, mereka cenderung menerapkan aturan yang paling sering mereka dengar (–ed). Hal ini mirip dengan fenomena statistik pembelajaran di mana pembelajar menghitung frekuensi pola dan membuat aturan berdasarkan pola dominan (Plunkett & Marchman, 1993).

3. Tahapan Perkembangan Bahasa

Overregularization sering muncul pada periode tertentu dalam pemerolehan bahasa — tepat ketika anak sedang memperoleh aturan-aturan tata bahasa dan kosakata dengan cepat. Hal ini menunjukkan fase perkembangan bahasa di mana anak aktif membangun model tata bahasa internal mereka.

Menurut beberapa penelitian, fenomena ini puncaknya terjadi antara usia 2,5 sampai 4 tahun (Marcus, 1998). Pada tahap ini, anak membangun representasi abstrak terhadap aturan grammar, yang pada awalnya mungkin belum sempurna.

Apa Makna Linguistik dari Overregularization?

1. Bukti Internal Grammar

Overregularization memberikan bukti kuat bahwa anak tidak sekadar mengimitasi kata demi kata — sebaliknya mereka membangun representasi internal grammar yang mengandung aturan dan generalisasi. Ini sejalan dengan pandangan generative grammar bahwa manusia memiliki kemampuan bawaan untuk memproses dan membentuk struktur bahasa (Chomsky, 1965; Pinker, 1994).

2. Peranan Generalisasi Dalam Proses Belajar

Anak menciptakan aturan internal yang generatif — mereka tidak hanya meniru tetapi juga menerapkan aturan tersebut untuk menghasilkan bentuk yang benar maupun salah. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa berbeda dengan sekadar penguatan stimulus–respon, melainkan proses kognitif aktif.

3. Integrasi Memori dan Proses Linguistik

Penelitian neurolinguistik menunjukkan bahwa overregularization terjadi karena kompetisi memoris antara bentuk lemma (kata dasar) dan bentuk aturan produktif. Verba tidak beraturan mungkin tersimpan sebagai exceptional items, tetapi aturan –ed lebih produktif sehingga cenderung diterapkan secara berlebihan pada tahap awal (Ullman, 2004).

 

Bagaimana Perkembangan Overregularization Dalam Waktu?

Seiring waktu, kemampuan anak akan meningkat dan kesalahan overregularization akan berkurang seiring:

·         meningkatnya jumlah verba tidak beraturan yang didengar anak,

·         penguatan bentuk-bentuk yang benar melalui interaksi sosial,

·         konsolidasi representasi mental antar bentuk.

Ini berarti bahwa overregularization bukanlah kekurangan dalam pemerolehan bahasa, tetapi tanda proses belajar yang sehat dan aktif.

Teori-Teori yang Menjelaskan Overregularization

1. Teori Nativis

Menurut Chomsky dan pendukung linguistik generatif, anak memiliki perangkat internal yang memandu pemerolehan grammar. Overregularization mencerminkan kerja internal dari Language Acquisition Device (LAD) yang aktif membangun dan menguji aturan tata bahasa (Chomsky, 1965).

2. Teori Connectionist

Model connectionist (neural-network) menjelaskan bahwa aturan tata bahasa muncul melalui transfer statistik dalam jaringan saraf internal. Kesalahan overregularization terjadi karena jaringan mencoba menyesuaikan pola dari sejumlah besar contoh beraturan (Plunkett & Marchman, 1993).

3. Pendekatan Interaksionis

Pendekatan ini menekankan bahwa overregularization muncul dalam konteks interaksi sosial — anak mendapatkan masukan dari lingkungan, kemudian menerapkan generalisasi berdasarkan pola linguistik yang didengar (Vygotsky, 1978).

 

Perbedaan Antara Anak dan Pembelajar Dewasa

Menariknya, overregularization lebih umum dijumpai pada anak dibandingkan pembelajar dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa anak lebih cepat membangun aturan internal sedangkan pembelajar dewasa cenderung mengandalkan memori frasa atau borrowing dari bahasa pertama mereka.

Dalam pembelajaran bahasa kedua, overregularization bisa muncul dalam bentuk lain, seperti menerapkan aturan kata jamak bahasa pertama ke dalam bahasa kedua yang tidak sesuai. Namun, fenomena ini biasanya lebih jarang dan lebih dipengaruhi oleh transfer antarbahasa (Ellis, 2008).

 

Implikasi dalam Pendidikan dan Pengajaran Bahasa

1. Menjadi Bagian Normal dari Perkembangan

Guru dan orang tua seharusnya menyadari bahwa kesalahan overregularization bukanlah kegagalan, tetapi tanda bahwa anak sedang membangun representasi aturan bahasa. Oleh karena itu, respons yang positif dan penguatan bentuk yang benar jauh lebih efektif daripada koreksi yang bersifat menghukum.

2. Fokus pada Pola, Bukan Hanya Kata

Dalam mengajarkan bahasa, penting untuk menekankan pola tata bahasa (misalnya aturan lampau atau jamak), sambil memberikan jumlah input yang cukup dari bentuk tak beraturan juga diperlukan agar anak dapat mengkonsolidasinya dalam memorinya.

3. Mengintegrasikan Interaksi Sosial

Interaksi bahasa yang bermakna, percakapan dua arah, dan kesempatan untuk menggunakan bahasa secara kontekstual dapat membantu menyeimbangkan antara aturan dan pengecualian.

 

Kesimpulan

Fenomena overregularization — seperti ketika anak mengatakan “makaned” atau “pergi-ed” — bukanlah kesalahan yang memalukan, melainkan cermin dari proses kognitif aktif dalam pemerolehan bahasa. Ketika anak belajar bahasa, mereka tidak sekadar meniru; mereka membangun aturan internal, mengevaluasi pola berdasarkan input yang mereka dengar, dan kemudian menerapkan aturan tersebut secara konsisten.

Fenomena ini memperlihatkan betapa rumitnya perkembangan sistem linguistik internal pada anak dan memberikan bukti bahwa pemerolehan bahasa merupakan proses kognitif yang dinamis, kreatif, dan produktif.

 

Referensi

Brown, R. (1973). A first language: The early stages. Harvard University Press.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Ellis, R. (2008). The study of second language acquisition (2nd ed.). Oxford University Press.

Marcus, G. F. (1995). Grammaticality and learning. University of Chicago Press.

Plunkett, K., & Marchman, V. A. (1993). From rote learning to system building: A connectionist account of early vocabulary development. Cognitive Psychology, 25(1), 1–48.

Pinker, S., & Ullman, M. T. (2002). The past and future of the past tense. Trends in Cognitive Sciences, 6(11), 456–463.

Ullman, M. T. (2004). Contributions of memory circuits to language: The declarative/procedural model. Cognition, 92(1–2), 231–270.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.


 

 

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya

Afasia Broca: Ketika Anda Tahu Apa yang Ingin Dikatakan Tapi Tidak Bisa Mengucapkannya Afasia Broca Afasia Broca adalah salah satu gangg...