Bab 9. Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
9.3 Strategi Pembelajaran Morfologi
| Strategi Pembelajaran Morfologi |
Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur internal kata serta proses pembentukannya. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, morfologi memegang peranan penting karena menjadi dasar bagi penguasaan kosakata, ketepatan penggunaan bentuk kata, dan pemahaman makna dalam berbagai konteks komunikasi. Tanpa pemahaman morfologi yang memadai, peserta didik akan mengalami kesulitan dalam memahami teks akademik, menyusun tulisan yang efektif, serta menggunakan bahasa secara tepat dan sistematis.
Bahasa Indonesia dikenal memiliki sistem morfologi yang produktif, terutama
melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Proses-proses tersebut
memungkinkan pembentukan kata turunan yang sangat beragam dari satu bentuk dasar
(Kridalaksana, 2008). Oleh karena itu, strategi pembelajaran morfologi perlu
dirancang secara sistematis agar tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga
aplikatif dan kontekstual.
Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis (morphological awareness)
berkontribusi signifikan terhadap perkembangan kosakata dan kemampuan membaca
(Carlisle, 2000; Nation, 2013). Kesadaran morfologis merujuk pada kemampuan
peserta didik untuk mengenali, menganalisis, dan memanipulasi morfem dalam
suatu kata. Dengan demikian, strategi pembelajaran morfologi harus diarahkan
untuk membangun kesadaran tersebut.
Urgensi Strategi Pembelajaran Morfologi
Pembelajaran morfologi sering kali masih dilakukan melalui pendekatan
mekanis, seperti menghafal jenis-jenis imbuhan dan fungsinya. Meskipun
pendekatan ini penting sebagai dasar, pembelajaran yang terlalu berfokus pada
klasifikasi dapat membuat siswa kurang memahami hubungan antara bentuk dan
makna.
Menurut Booij (2005), morfologi bukan sekadar daftar afiks, melainkan sistem
aturan produktif yang memungkinkan penutur membentuk dan memahami kata baru.
Oleh karena itu, strategi pembelajaran harus membantu siswa memahami pola dan
prinsip yang mendasari pembentukan kata.
Selain itu, dalam teks akademik dan literatur ilmiah, banyak ditemukan kata
kompleks seperti pengembangan,
ketidaksesuaian,
pertanggungjawaban,
dan keberlanjutan.
Tanpa strategi pembelajaran yang efektif, kata-kata tersebut dapat menjadi
hambatan dalam memahami isi teks.
9.3 Strategi Pembelajaran Morfologi
Berikut adalah beberapa strategi pembelajaran morfologi yang dapat
diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.
1. Pendekatan Berbasis Kesadaran Morfologis
Strategi ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitis siswa dalam
mengenali dan memahami struktur kata. Guru dapat melatih siswa untuk:
·
Mengidentifikasi morfem
dalam kata kompleks
·
Menentukan fungsi setiap
morfem
·
Menjelaskan perubahan makna
akibat proses morfologis
Misalnya, kata ketidakberhasilan
dapat diuraikan menjadi:
ke- + tidak + berhasil + -an
Melalui analisis ini, siswa memahami bahwa konfiks ke- -an membentuk nomina
abstrak, sedangkan kata tidak
berfungsi sebagai penanda negasi.
Carlisle (2000) menyatakan bahwa latihan analisis morfologis secara
eksplisit meningkatkan pemahaman bacaan siswa, terutama dalam menghadapi
kata-kata kompleks.
2. Pembelajaran Kontekstual Berbasis Teks
Strategi pembelajaran morfologi akan lebih efektif jika dilakukan melalui
analisis teks autentik, seperti artikel berita, cerpen, atau teks ilmiah. Dalam
pendekatan ini, siswa tidak hanya mengidentifikasi imbuhan, tetapi juga
menganalisis fungsi makna dalam konteks kalimat.
Contoh kegiatan:
·
Siswa diminta mencari lima
kata berimbuhan dalam sebuah artikel.
·
Siswa menjelaskan perubahan
makna dari bentuk dasarnya.
·
Siswa mendiskusikan alasan
penggunaan bentuk tersebut dalam teks.
Pendekatan ini membantu siswa memahami bahwa morfologi berfungsi dalam
wacana nyata, bukan sekadar konsep abstrak.
3. Strategi “Pohon Kata” (Word Tree Strategy)
Strategi pohon kata bertujuan untuk menunjukkan produktivitas morfologi.
Guru dapat meminta siswa memilih satu kata dasar, misalnya ajar, kemudian
mengembangkan berbagai bentuk turunannya:
·
mengajar
·
pelajar
·
pelajaran
·
pengajaran
·
terpelajar
·
pembelajaran
Dari kegiatan ini, siswa memahami bahwa satu bentuk dasar dapat menghasilkan
berbagai leksem dengan fungsi dan makna berbeda.
Lieber (2010) menekankan bahwa pemahaman relasi derivatif membantu siswa
melihat keteraturan dalam sistem leksikal bahasa.
4. Strategi Analisis Kesalahan (Error Analysis)
Kesalahan morfologis siswa dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran
reflektif. Guru dapat menyediakan teks yang mengandung kesalahan, seperti:
·
di kerjakan
·
menbaca
·
anak anak
Siswa diminta mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan tersebut serta
menjelaskan alasannya.
Menurut Ellis (1997), analisis kesalahan membantu guru memahami tahap
perkembangan linguistik siswa dan merancang intervensi yang tepat.
5. Pendekatan Kontrastif
Strategi ini membandingkan bentuk baku dan tidak baku atau membandingkan
struktur Bahasa Indonesia dengan bahasa lain (misalnya bahasa daerah atau
bahasa Inggris). Pendekatan ini efektif untuk mengatasi interferensi bahasa.
Contoh:
·
mengupload → bentuk baku yang dianjurkan: mengunggah
·
di sekolah (preposisi) vs. disekolahkan (prefiks)
Pendekatan kontrastif membantu siswa memahami perbedaan fungsi morfologis
secara lebih jelas.
6. Integrasi dengan Literasi Digital
Pemanfaatan teknologi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran morfologi.
Guru dapat mengarahkan siswa menggunakan:
·
Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) daring
·
Korpus bahasa untuk melihat
frekuensi penggunaan kata
·
Aplikasi pembelajaran
interaktif
Nation (2013) menegaskan bahwa pembelajaran kosakata yang efektif harus
memberikan kesempatan eksplorasi dan penggunaan kata dalam berbagai konteks.
7. Pembelajaran Berbasis Proyek
Strategi ini melibatkan siswa dalam proyek kebahasaan, seperti:
·
Menyusun glosarium kata
turunan dari teks tertentu
·
Membuat poster morfologi
·
Meneliti pembentukan
istilah baru dalam media sosial
Melalui proyek ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menerapkan
pengetahuan morfologi dalam kehidupan nyata.
8. Strategi Scaffolding dalam Morfologi
Guru perlu memberikan dukungan bertahap (scaffolding) dalam pembelajaran
morfologi. Pada tahap awal, guru memberikan contoh dan panduan analisis. Secara
bertahap, siswa diberi tanggung jawab untuk melakukan analisis secara mandiri.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivis yang
menekankan keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan.
Implikasi bagi Guru dan Kurikulum
Strategi pembelajaran morfologi harus selaras dengan tujuan kurikulum Bahasa
Indonesia, yaitu membentuk peserta didik yang kompeten dalam berbahasa secara
lisan dan tulis. Oleh karena itu, pembelajaran morfologi sebaiknya:
1. Tidak berdiri sendiri sebagai materi terpisah
2. Diintegrasikan dalam pembelajaran membaca dan menulis
3. Menekankan hubungan bentuk dan makna
4. Mengembangkan kemampuan berpikir analitis
Dengan strategi yang tepat, morfologi tidak lagi dipandang sebagai materi
hafalan, melainkan sebagai alat untuk memahami dan membangun makna dalam
bahasa.
Kesimpulan
Morfologi memiliki peran strategis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia
karena berkaitan langsung dengan pembentukan kata, pemahaman makna, serta
pengembangan literasi. Strategi pembelajaran morfologi harus diarahkan pada
pengembangan kesadaran morfologis, bukan sekadar penguasaan istilah teknis.
Berbagai strategi seperti pendekatan berbasis teks, pohon kata, analisis
kesalahan, pendekatan kontrastif, integrasi teknologi, dan pembelajaran
berbasis proyek dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Dengan pendekatan
yang kontekstual dan reflektif, peserta didik akan lebih mampu memahami sistem
bahasa secara mendalam dan menggunakannya secara tepat.
Pada akhirnya, pembelajaran morfologi yang efektif akan mendukung penguatan
literasi nasional serta membentuk generasi yang mampu menggunakan Bahasa
Indonesia secara baik dan benar dalam berbagai situasi komunikasi.
Daftar Pustaka
Booij, G. (2005). The
grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford
University Press.
Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of
morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing: An Interdisciplinary Journal, 12(3–4),
169–190.
Ellis, R. (1997). Second
language acquisition. Oxford University Press.
Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan
kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
Lieber, R. (2010). Introducing
morphology. Cambridge University Press.
Nation, I. S. P. (2013). Learning
vocabulary in another language (2nd ed.). Cambridge University
Press.
