Rabu, 28 Januari 2026

Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Bab 9. Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia 

9.2 Kesalahan Morfologi Peserta Didik


Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Morfologi merupakan cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, morfologi memiliki peran fundamental karena menjadi dasar bagi penguasaan kosakata, ketepatan penggunaan bentuk kata, serta kejelasan makna dalam komunikasi lisan dan tulis. Penguasaan morfologi membantu peserta didik memahami bagaimana kata dibentuk, bagaimana imbuhan memengaruhi makna, serta bagaimana perubahan bentuk berimplikasi terhadap fungsi gramatikal.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang kaya akan proses morfologis, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Proses-proses tersebut bersifat produktif dan memungkinkan pembentukan berbagai kata turunan dari satu bentuk dasar (Kridalaksana, 2008). Dalam konteks pendidikan, pemahaman terhadap sistem ini sangat penting agar peserta didik tidak hanya mampu mengenali bentuk kata, tetapi juga memahami maknanya secara sistematis.

Pembelajaran morfologi juga berkaitan erat dengan kesadaran morfologis (morphological awareness), yaitu kemampuan untuk merefleksikan dan memanipulasi struktur morfem dalam kata. Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran morfologis berkontribusi signifikan terhadap perkembangan kosakata dan kemampuan membaca (Carlisle, 2000; Nation, 2013). Oleh karena itu, morfologi tidak boleh dipandang sebagai materi tata bahasa yang bersifat teknis semata, melainkan sebagai bagian integral dari pengembangan literasi.

Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Dalam kurikulum Bahasa Indonesia, materi morfologi umumnya diajarkan melalui pembahasan imbuhan (prefiks, sufiks, infiks, konfiks), kata ulang, dan kata majemuk. Materi tersebut terintegrasi dalam pembelajaran membaca, menulis, dan menyunting teks.

1. Afiksasi sebagai Materi Inti

Afiksasi merupakan proses morfologis yang paling produktif dalam Bahasa Indonesia. Prefiks seperti me-, di-, ber-, ter-, serta sufiks seperti -kan, -i, dan -an memiliki fungsi semantis dan gramatikal yang berbeda-beda.

Contoh:

·         tulismenulis (verba aktif)

·         tulisditulis (verba pasif)

·         tulistulisan (nomina hasil)

Pemahaman terhadap fungsi ini membantu peserta didik memahami relasi antara bentuk dan makna. Booij (2005) menyatakan bahwa morfologi merupakan sistem aturan yang memungkinkan penutur membentuk dan memahami kata baru secara produktif.

2. Reduplikasi dan Komposisi

Reduplikasi dalam Bahasa Indonesia dapat menyatakan makna jamak, intensitas, atau variasi. Sementara itu, komposisi membentuk kata majemuk seperti rumah sakit atau tanggung jawab.

Pemahaman terhadap kedua proses ini penting dalam membaca teks akademik maupun nonakademik, karena banyak kosakata dalam wacana formal dibentuk melalui proses tersebut.

3. Morfologi dan Literasi Akademik

Dalam teks ilmiah, banyak ditemukan kata kompleks seperti pengembangan, ketidaksesuaian, pertanggungjawaban, dan keberlanjutan. Tanpa pemahaman morfologi, peserta didik akan mengalami kesulitan dalam memahami makna kata-kata tersebut.

Menurut Lieber (2010), proses derivasi memungkinkan pembentukan leksem baru yang memperluas sistem leksikal suatu bahasa. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman derivasi membantu siswa memahami hubungan sistematis antar kata.

9.2 Kesalahan Morfologi Peserta Didik

Meskipun morfologi diajarkan secara formal di sekolah, kesalahan morfologis masih sering ditemukan dalam tulisan maupun tuturan peserta didik. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan penggunaan afiks, kesalahan pembentukan kata, maupun kesalahan ejaan yang berkaitan dengan morfologi.

Menurut teori analisis kesalahan (error analysis), kesalahan berbahasa merupakan bagian alami dari proses pembelajaran dan dapat menjadi indikator perkembangan kompetensi linguistik (Ellis, 1997). Dengan menganalisis kesalahan morfologis, guru dapat memahami area yang memerlukan penguatan.

1. Kesalahan Penggunaan Prefiks

Salah satu kesalahan yang paling umum adalah penggunaan prefiks di- yang tertukar dengan preposisi di.

Contoh kesalahan:

·         di tulis (seharusnya: ditulis)

·         di kerjakan (seharusnya: dikerjakan)

Kesalahan ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman tentang perbedaan fungsi gramatikal. Prefiks di- membentuk verba pasif, sedangkan preposisi di menunjukkan keterangan tempat.

Selain itu, kesalahan juga terjadi pada penggunaan prefiks me- yang tidak sesuai dengan kaidah peluluhan fonem.

Contoh:

·         menbaca (seharusnya: membaca)

·         menpakai (seharusnya: memakai)

Kesalahan ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap aturan morfofonemik dalam Bahasa Indonesia.

2. Kesalahan Penggunaan Sufiks

Kesalahan juga sering ditemukan pada penggunaan sufiks -kan dan -i.

Contoh:

·         menghadiahi kepada (redundan, karena -i sudah menyatakan objek tidak langsung)

·         memberikan kepada (sering digunakan berlebihan dalam konteks tertentu)

Perbedaan fungsi semantis antara -kan dan -i sering kali belum dipahami secara mendalam oleh peserta didik.

3. Kesalahan dalam Reduplikasi

Beberapa peserta didik keliru menggunakan reduplikasi, misalnya dalam penulisan yang tidak sesuai kaidah.

Contoh:

·         anak anak (seharusnya: anak-anak)

Selain itu, terdapat kesalahan dalam memahami makna reduplikasi, misalnya menganggap semua bentuk ulang bermakna jamak, padahal ada reduplikasi yang bermakna intensif atau kolektif.

4. Kesalahan Pembentukan Kata

Kesalahan pembentukan kata sering terjadi akibat analogi yang berlebihan.

Contoh:

·         ketidaknyamanan (benar dalam konteks tertentu, tetapi sering digunakan tanpa mempertimbangkan konteks makna)

·         penguploadan (pengaruh bahasa asing dan pembentukan yang tidak sesuai kaidah baku)

Fenomena ini menunjukkan adanya interferensi bahasa asing dan kurangnya pemahaman terhadap kaidah morfologi baku.

5. Faktor Penyebab Kesalahan

Beberapa faktor yang menyebabkan kesalahan morfologis peserta didik antara lain:

1.      Kurangnya kesadaran morfologis
Peserta didik belum mampu menganalisis struktur kata secara sistematis.

2.      Pengaruh bahasa daerah atau bahasa asing
Interferensi dapat memengaruhi pola pembentukan kata.

3.      Pendekatan pembelajaran yang kurang kontekstual
Pembelajaran yang hanya berfokus pada hafalan jenis imbuhan tanpa latihan aplikatif.

4.      Minimnya latihan menyunting teks
Kurangnya praktik identifikasi dan perbaikan kesalahan morfologis.

Nation (2013) menekankan bahwa pembelajaran kosakata yang efektif harus mencakup strategi analisis morfologis agar siswa mampu memahami dan membentuk kata secara mandiri.

 

Strategi Mengatasi Kesalahan Morfologi

Untuk meminimalkan kesalahan morfologis, beberapa strategi dapat diterapkan:

1.      Latihan Analisis Kata Kompleks
Siswa diminta memecah kata menjadi morfem dan menjelaskan maknanya.

2.      Pembelajaran Berbasis Teks Autentik
Menggunakan artikel berita atau teks ilmiah untuk menganalisis penggunaan imbuhan.

3.      Kegiatan Penyuntingan (Editing Task)
Memberikan teks yang mengandung kesalahan morfologis untuk diperbaiki.

4.      Pendekatan Kontrastif
Membandingkan bentuk baku dan tidak baku untuk meningkatkan kesadaran bahasa.

5.      Pemanfaatan Teknologi Digital
Menggunakan kamus daring dan korpus bahasa untuk melihat penggunaan kata dalam konteks nyata.

Dengan pendekatan ini, kesalahan morfologis dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran reflektif, bukan sekadar sebagai bentuk kegagalan.

Kesimpulan

Morfologi memiliki peran penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena berkaitan langsung dengan pembentukan kata, penguasaan makna, dan ketepatan berbahasa. Kesadaran morfologis mendukung pengembangan kosakata, kemampuan membaca, dan keterampilan menulis peserta didik.

Namun, kesalahan morfologis masih sering ditemukan, terutama dalam penggunaan afiks, reduplikasi, dan pembentukan kata. Kesalahan tersebut dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman sistem morfologi, interferensi bahasa lain, serta pendekatan pembelajaran yang kurang aplikatif.

Oleh karena itu, pembelajaran morfologi perlu diarahkan pada pengembangan kesadaran struktur kata secara kontekstual dan reflektif. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami aturan, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat dalam praktik berbahasa.

 

Daftar Pustaka

Booij, G. (2005). The grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing: An Interdisciplinary Journal, 12(3–4), 169–190.

Chaer, A. (2014). Linguistik umum. Rineka Cipta.

Ellis, R. (1997). Second language acquisition. Oxford University Press.

Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Lieber, R. (2010). Introducing morphology. Cambridge University Press.

Nation, I. S. P. (2013). Learning vocabulary in another language (2nd ed.). Cambridge University Press.

 

 

 

Morfologi


  

Selasa, 27 Januari 2026

Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Bab 9. Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Morfologi dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia


Morfologi merupakan salah satu cabang utama linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukannya. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, morfologi memiliki peran yang sangat strategis karena menjadi fondasi bagi keterampilan berbahasa, baik dalam aspek membaca, menulis, berbicara, maupun menyimak. Pemahaman terhadap proses pembentukan kata membantu peserta didik memahami makna kata secara lebih mendalam, memperkaya kosakata, serta meningkatkan ketepatan berbahasa.

Bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang kaya akan proses morfologis, terutama afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Proses-proses tersebut sangat produktif dan berfungsi membentuk makna gramatikal maupun makna leksikal baru (Kridalaksana, 2008). Oleh karena itu, penguasaan morfologi bukan sekadar kemampuan mengenali imbuhan, tetapi juga memahami hubungan sistematis antara bentuk dan makna.

Dalam pembelajaran bahasa, morfologi berkaitan erat dengan pengembangan kompetensi literasi. Nation (2013) menegaskan bahwa kesadaran morfologis (morphological awareness) berkontribusi signifikan terhadap perkembangan kosakata dan pemahaman bacaan. Peserta didik yang memahami struktur kata cenderung lebih mudah menafsirkan kata-kata baru berdasarkan unsur pembentuknya. Dengan demikian, morfologi tidak hanya menjadi materi teoretis, tetapi juga memiliki implikasi praktis dalam pengajaran Bahasa Indonesia.

 

Peran Morfologi dalam Pengembangan Kompetensi Berbahasa

1. Pengayaan Kosakata

Salah satu manfaat utama pembelajaran morfologi adalah memperluas kosakata siswa. Dengan memahami pola afiksasi, siswa dapat menurunkan berbagai bentuk kata dari satu bentuk dasar. Misalnya, dari kata dasar ajar, siswa dapat mengenali bentuk mengajar, pelajar, pelajaran, pengajaran, dan terpelajar. Setiap bentuk memiliki fungsi dan makna berbeda, tetapi tetap berakar pada konsep dasar yang sama.

Menurut Lieber (2010), proses derivasi memungkinkan pembentukan leksem baru yang memperkaya sistem leksikal suatu bahasa. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman ini membantu siswa memahami relasi makna antar kata secara sistematis, bukan sekadar menghafal bentuk-bentuk lepas.

2. Peningkatan Kemampuan Membaca

Kesadaran morfologis berkontribusi terhadap kemampuan membaca pemahaman. Siswa yang mampu memecah kata kompleks menjadi morfem-morfem penyusunnya akan lebih mudah memahami teks akademik yang sering menggunakan kata turunan. Carlisle (2000) menyatakan bahwa kemampuan menganalisis struktur morfologis berkorelasi positif dengan pemahaman bacaan pada siswa sekolah.

Dalam Bahasa Indonesia, teks ilmiah dan buku pelajaran sering memuat kata-kata seperti pengembangan, ketidaksesuaian, pertanggungjawaban, atau keberlanjutan. Tanpa pemahaman morfologi, kata-kata tersebut dapat menjadi hambatan dalam proses membaca.

3. Ketepatan Berbahasa dalam Menulis

Kesalahan penggunaan imbuhan merupakan salah satu bentuk kesalahan berbahasa yang sering ditemukan dalam tulisan siswa. Misalnya, penggunaan prefiks di- yang sering tertukar dengan preposisi di. Pemahaman morfologi membantu siswa membedakan fungsi gramatikal dan ejaan secara tepat.

Chaer (2014) menekankan bahwa kesalahan morfologis dapat memengaruhi kejelasan makna dan ketepatan struktur kalimat. Oleh sebab itu, pembelajaran morfologi harus diintegrasikan dalam latihan menulis agar siswa terbiasa menggunakan bentuk kata secara benar dan kontekstual.

4. Pembentukan Kesadaran Struktur Bahasa

Pembelajaran morfologi juga menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa memiliki sistem dan pola yang teratur. Booij (2005) menjelaskan bahwa morfologi merupakan bagian dari sistem tata bahasa yang produktif. Ketika siswa memahami pola pembentukan kata, mereka akan lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa secara kreatif.

 

9.1 Morfologi dalam Kurikulum Sekolah

Dalam kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah, materi morfologi biasanya terintegrasi dalam kompetensi kebahasaan. Kurikulum menekankan penguasaan struktur kata melalui pembelajaran imbuhan, kata ulang, dan kata majemuk. Namun, pendekatan pembelajarannya sering kali masih bersifat mekanis dan berfokus pada penghafalan jenis-jenis afiks.

1. Integrasi dalam Kompetensi Dasar

Materi morfologi biasanya tercantum dalam kompetensi dasar yang berkaitan dengan:

·         Mengidentifikasi penggunaan imbuhan dalam teks.

·         Menyunting kesalahan penggunaan kata berimbuhan.

·         Menghasilkan teks dengan memperhatikan kaidah kebahasaan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa morfologi diajarkan tidak secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari keterampilan berbahasa terpadu.

2. Tantangan dalam Implementasi

Meskipun morfologi telah menjadi bagian dari kurikulum, terdapat beberapa tantangan dalam pelaksanaannya:

a. Pendekatan Teoretis yang Dominan
Pembelajaran sering menekankan klasifikasi afiks (prefiks, sufiks, konfiks) tanpa mengaitkannya dengan fungsi makna dalam konteks nyata.

b. Kurangnya Latihan Kontekstual
Siswa lebih banyak mengerjakan soal identifikasi bentuk daripada menganalisis makna dalam teks autentik.

c. Minimnya Pengembangan Kesadaran Morfologis
Pembelajaran belum sepenuhnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan analitis siswa dalam membedah struktur kata kompleks.

Menurut Nation (2013), pembelajaran kosakata yang efektif harus mencakup strategi analisis morfologis, bukan sekadar pemberian daftar kata.

3. Strategi Pembelajaran Morfologi yang Efektif

Untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran morfologi dalam kurikulum sekolah, beberapa strategi dapat diterapkan:

a. Pendekatan Kontekstual
Guru dapat menggunakan teks nyata sebagai sumber analisis morfologis. Misalnya, siswa diminta mengidentifikasi kata turunan dalam artikel berita dan menjelaskan fungsi maknanya.

b. Pembelajaran Berbasis Proyek
Siswa dapat diminta membuat “pohon kata” dari satu bentuk dasar untuk melihat produktivitas morfologisnya.

c. Integrasi dengan Literasi Digital
Pemanfaatan korpus daring atau kamus digital dapat membantu siswa memahami variasi penggunaan kata dalam berbagai konteks.

d. Analisis Kesalahan Berbahasa
Guru dapat menggunakan contoh kesalahan nyata sebagai bahan diskusi untuk meningkatkan kesadaran morfologis.

Pendekatan-pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis kompetensi yang menekankan pemahaman mendalam dan keterampilan aplikatif.

 

Morfologi dan Penguatan Literasi Nasional

Dalam konteks pendidikan nasional, penguasaan morfologi mendukung penguatan literasi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan memerlukan penguasaan kosakata akademik yang sebagian besar dibentuk melalui proses morfologis.

Bybee (2010) menyatakan bahwa struktur morfologis berkembang melalui penggunaan yang berulang dalam konteks sosial. Oleh karena itu, pembelajaran morfologi harus memberi ruang bagi praktik berbahasa yang autentik dan bermakna.

Selain itu, pemahaman morfologi juga penting dalam menghadapi perkembangan istilah baru, terutama dalam bidang teknologi dan sains. Proses pembentukan istilah dalam Bahasa Indonesia banyak memanfaatkan afiksasi dan komposisi. Siswa yang memiliki kesadaran morfologis akan lebih mudah memahami dan membentuk istilah baru secara tepat.

 

Kesimpulan

Morfologi memiliki peran sentral dalam pembelajaran Bahasa Indonesia karena berkaitan langsung dengan pengembangan kosakata, kemampuan membaca, ketepatan menulis, dan kesadaran struktur bahasa. Proses morfologis seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi tidak hanya membentuk kata, tetapi juga membentuk pemahaman makna yang sistematis.

Dalam kurikulum sekolah, morfologi telah menjadi bagian integral dari kompetensi kebahasaan. Namun, tantangan masih terdapat pada pendekatan pembelajaran yang cenderung mekanis dan kurang kontekstual. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang menekankan analisis makna, penggunaan teks autentik, serta pengembangan kesadaran morfologis.

Dengan pendekatan yang tepat, pembelajaran morfologi tidak hanya membantu siswa memahami struktur kata, tetapi juga meningkatkan literasi dan kemampuan berpikir analitis. Pada akhirnya, penguasaan morfologi menjadi fondasi penting dalam membangun kompetensi berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Daftar Pustaka

Booij, G. (2005). The grammar of words: An introduction to linguistic morphology. Oxford University Press.

Bybee, J. (2010). Language, usage and cognition. Cambridge University Press.

Carlisle, J. F. (2000). Awareness of the structure and meaning of morphologically complex words: Impact on reading. Reading and Writing: An Interdisciplinary Journal, 12(3–4), 169–190.

Chaer, A. (2014). Linguistik umum. Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Lieber, R. (2010). Introducing morphology. Cambridge University Press.

Nation, I. S. P. (2013). Learning vocabulary in another language (2nd ed.). Cambridge University Press.

 

 

 

 

 

Morfologi


  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Afasia Wernicke: Bicara Lancar tapi Tanpa Makna (Salad Kata)

  Afasia Wernicke: Bicara Lancar tapi Tanpa Makna (Salad Kata) Afasia Wernicke: Bicara Lancar tapi Tanpa Makna Bahasa adalah jantung k...