Kata dan Bentuk Kata
3.1 Pengertian Kata dalam Morfologi
Pendahuluan
Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi, konsep kata merupakan salah satu fondasi utama yang menentukan arah analisis kebahasaan. Kata menjadi titik temu antara bunyi (fonologi), makna (semantik), dan struktur (sintaksis). Meskipun terdengar sederhana dan intuitif bagi penutur bahasa, istilah kata justru menjadi salah satu konsep yang paling problematis dalam linguistik teoretis. Hal ini disebabkan oleh keragaman bentuk bahasa, perbedaan sistem gramatikal antarbahasa, serta kompleksitas hubungan antara bentuk dan makna.
Dalam konteks bahasa Indonesia, pembahasan kata sering kali dipahami secara normatif melalui tata bahasa sekolah. Namun, dalam linguistik modern—terutama morfologi—kata tidak sekadar dipahami sebagai “satuan bahasa yang berdiri sendiri”, melainkan sebagai satuan gramatikal yang memiliki struktur internal, pola pembentukan, serta fungsi tertentu dalam sistem bahasa. Oleh karena itu, pembahasan mengenai pengertian kata dalam morfologi menjadi sangat penting, baik untuk kepentingan teoretis maupun pedagogis.
Bab ini secara khusus membahas pengertian kata dalam perspektif morfologi, mencakup definisi kata, karakteristik kata sebagai satuan morfologis, perbedaan kata dengan satuan bahasa lain, serta tantangan konseptual dalam mendefinisikan kata.
| Kata dan Bentuk Kata |
3.1.1 Morfologi sebagai Cabang Linguistik
Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari struktur internal kata dan proses pembentukan kata. Menurut Katamba (1993), morfologi berfokus pada bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil serta bagaimana bentuk kata tersebut berinteraksi dengan makna dan fungsi gramatikal. Dengan kata lain, morfologi menjadikan kata sebagai objek kajian utamanya.
Aronoff dan Fudeman (2011) menegaskan bahwa morfologi berada di antara fonologi dan sintaksis. Dari fonologi, morfologi mewarisi bentuk bunyi; dari sintaksis, morfologi berkontribusi pada pembentukan satuan gramatikal yang dapat mengisi posisi tertentu dalam struktur kalimat. Oleh sebab itu, pemahaman tentang kata dalam morfologi tidak dapat dilepaskan dari hubungan antarcabang linguistik lainnya.
3.1.2 Definisi Kata dalam Morfologi
Secara umum, kata dalam morfologi didefinisikan sebagai satuan gramatikal terkecil yang dapat berdiri sendiri dan memiliki makna atau fungsi gramatikal. Namun, definisi ini sering kali dianggap terlalu sederhana dan tidak selalu memadai untuk menjelaskan fenomena kebahasaan lintas bahasa.
Bloomfield (1933) mendefinisikan kata sebagai “bentuk bebas terkecil” (the smallest free form). Istilah bentuk bebas merujuk pada satuan bahasa yang dapat muncul secara mandiri tanpa harus melekat pada bentuk lain. Definisi ini cukup berpengaruh, tetapi memiliki keterbatasan, terutama ketika diterapkan pada bahasa-bahasa yang memiliki sistem afiksasi kompleks.
Dalam perspektif morfologi modern, kata sering dipahami sebagai:
1. Satuan morfologis yang dapat terdiri atas satu atau lebih morfem.
2. Satuan leksikal yang tersimpan dalam leksikon mental penutur.
3. Satuan gramatikal yang dapat mengisi posisi tertentu dalam struktur sintaksis.
Bauer (2003) menyatakan bahwa kata adalah hasil dari proses morfologis yang melibatkan penggabungan morfem dengan aturan tertentu. Dengan demikian, kata bukan hanya hasil akhir, tetapi juga bagian dari proses sistemik dalam bahasa.
3.1.3 Kata dan Morfem: Hubungan Konseptual
Untuk memahami pengertian kata dalam morfologi, penting untuk membedakannya dari morfem. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang memiliki makna atau fungsi gramatikal, sedangkan kata dapat terdiri atas satu atau lebih morfem.
Contoh dalam bahasa Indonesia:
· rumah → satu morfem, satu kata
· berlari → dua morfem (ber- + lari), satu kata
· ketidakadilan → empat morfem (ke-, tidak, adil, -an), satu kata
Dari contoh tersebut, terlihat bahwa kata memiliki struktur internal yang menjadi objek kajian morfologi. Kata tidak selalu identik dengan morfem, tetapi selalu dibangun dari morfem.
Menurut Haspelmath dan Sims (2010), hubungan antara morfem dan kata bersifat hierarkis: morfem membentuk kata, dan kata membentuk konstruksi sintaksis yang lebih besar. Oleh karena itu, morfologi berperan sebagai penghubung antara leksikon dan sintaksis.
3.1.4 Ciri-Ciri Kata dalam Perspektif Morfologi
Dalam kajian morfologi, kata memiliki sejumlah ciri utama, antara lain:
1. Memiliki Stabilitas Internal
Unsur-unsur dalam kata tidak dapat dipisahkan atau disisipi oleh unsur lain.
Misalnya, kata memakan
tidak dapat disisipi kata lain di antara me-
dan makan.
2. Menjadi Sasaran Proses Morfologis
Kata dapat mengalami proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan pemendekan.
Proses-proses ini menjadi fokus utama kajian morfologi.
3. Memiliki Kategori Gramatikal
Kata dapat diklasifikasikan ke dalam kategori seperti nomina, verba, adjektiva,
dan adverbia. Kategori ini berpengaruh pada perilaku morfologis dan sintaksis
kata tersebut.
4. Berfungsi dalam Struktur Kalimat
Kata dapat mengisi fungsi sintaktis seperti subjek, predikat, objek, atau
keterangan.
Ciri-ciri ini menunjukkan bahwa kata bukan sekadar satuan leksikal, tetapi juga satuan struktural yang tunduk pada aturan gramatikal.
3.1.5 Tantangan dalam Mendefinisikan Kata
Meskipun kata merupakan konsep sentral dalam morfologi, para ahli linguistik sepakat bahwa mendefinisikan kata secara universal bukanlah tugas yang mudah. Salah satu tantangan utama adalah variasi tipologis bahasa.
Dalam bahasa aglutinatif seperti bahasa Indonesia dan Turki, batas kata relatif jelas. Namun, dalam bahasa polisintetik, satu kata dapat mewakili satu kalimat penuh. Sebaliknya, dalam bahasa isolatif, perbedaan antara kata dan frasa bisa menjadi kabur.
Dixon dan Aikhenvald (2002) menekankan bahwa konsep kata harus dipahami secara bahasa-spesifik (language-specific), bukan universal. Artinya, kriteria kata dalam satu bahasa belum tentu berlaku pada bahasa lain.
Selain itu, fenomena seperti klitik, kata majemuk, dan bentuk idiomatik semakin memperumit batasan kata. Apakah ke rumah merupakan dua kata atau satu unit leksikal? Pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa konsep kata bersifat teoretis sekaligus empiris.
3.1.6 Implikasi Konsep Kata bagi Kajian Linguistik dan Pembelajaran Bahasa
Pemahaman yang tepat tentang pengertian kata dalam morfologi memiliki implikasi luas, terutama dalam:
· Analisis linguistik: menentukan satuan analisis yang tepat.
· Penyusunan kamus: menentukan entri leksikal.
· Pengajaran bahasa: membantu pembelajar memahami pembentukan kata dan makna.
Dalam konteks pembelajaran bahasa, terutama bahasa Indonesia dan bahasa asing, pemahaman kata sebagai satuan morfologis membantu peserta didik memahami pola pembentukan kata, memperkaya kosakata, dan meningkatkan kesadaran gramatikal.
Penutup
Kata dalam morfologi bukanlah konsep sederhana yang dapat didefinisikan secara tunggal dan universal. Ia merupakan satuan gramatikal yang kompleks, memiliki struktur internal, dan berperan penting dalam sistem bahasa. Melalui kajian morfologi, kata dipahami sebagai hasil interaksi antara morfem, aturan gramatikal, dan makna.
Pembahasan mengenai pengertian kata dalam morfologi menjadi dasar penting untuk memahami proses pembentukan kata, variasi bentuk kata, serta hubungan antara bentuk dan fungsi bahasa. Oleh karena itu, pemahaman konsep ini sangat esensial bagi mahasiswa linguistik, guru bahasa, dan siapa pun yang tertarik pada studi bahasa secara ilmiah.
Daftar Pustaka
Aronoff, M., & Fudeman, K. (2011). What is morphology? (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Bauer, L. (2003). Introducing linguistic morphology (2nd ed.). Edinburgh University Press.
Bloomfield, L. (1933). Language. Holt, Rinehart and Winston.
Dixon, R. M. W., & Aikhenvald, A. Y. (2002). Word: A cross-linguistic typology. Cambridge University Press.
Haspelmath, M., & Sims, A. D. (2010). Understanding morphology (2nd ed.). Hodder Education.
Katamba, F. (1993). Morphology. Macmillan Press.
