BAB 7: PRINSIP KESOPANAN
(Ngomong Biasa, Tapi Tetap Berkelas)
Pernah nggak kamu merasa
ada orang yang cara bicaranya “halus banget”, sementara yang lain terdengar
kasar padahal maksudnya sama? Nah, di situlah prinsip kesopanan dalam pragmatik memainkan peran penting.
Dalam komunikasi
sehari-hari, kita tidak hanya memikirkan apa yang kita katakan, tapi
juga bagaimana cara mengatakannya. Karena salah sedikit saja, makna
bisa berubah… bahkan bisa menyinggung perasaan orang lain 😅
Di bab ini, kita akan
bahas bagaimana kesopanan bekerja dalam bahasa, mulai dari teori hingga
praktiknya dalam budaya Indonesia.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
7.1 Teori Kesopanan
(Leech)
Salah satu tokoh penting
dalam kajian kesopanan adalah:
👉 Geoffrey Leech
Leech mengembangkan konsep
Prinsip Kesopanan
(Politeness Principle) sebagai pelengkap dari teori kerja sama Paul
Grice.
Kalau Grice fokus pada efektivitas
komunikasi, Leech lebih fokus pada etika dalam komunikasi.
Apa itu Prinsip
Kesopanan?
Secara sederhana, prinsip
ini bertujuan untuk:
👉 meminimalkan
ketidaksenangan bagi orang lain
👉 memaksimalkan
rasa hormat dan kenyamanan dalam komunikasi
Artinya, kita berusaha agar
lawan bicara:
- tidak tersinggung
- tidak merasa direndahkan
- tetap nyaman dalam percakapan
Enam Maksim Kesopanan Leech
Leech membagi kesopanan
menjadi beberapa maksim. Kita bahas dengan contoh santai biar mudah dipahami 👇
1. Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)
👉 Kurangi kerugian orang lain, tingkatkan
keuntungan orang lain
Contoh:
- ❌ “Pinjamkan
saya uang sekarang!”
- ✅ “Kalau tidak keberatan, boleh
saya pinjam uang?”
👉 Versi kedua terasa lebih sopan karena tidak memaksa.
2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
👉 Kurangi keuntungan diri sendiri, tingkatkan
pengorbanan diri
Contoh:
- “Biar saya saja yang
mengerjakan.”
👉 Ini menunjukkan sikap menghargai orang lain.
3. Maksim Pujian (Approbation Maxim)
👉 Kurangi kritik, perbanyak pujian
Contoh:
- ❌ “Tulisanmu
jelek.”
- ✅ “Idenya
bagus, mungkin bisa diperbaiki sedikit di bagian ini.”
👉 Kritik tetap ada, tapi dibungkus dengan cara yang lebih halus.
4. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
👉 Kurangi pujian terhadap diri sendiri
Contoh:
- ❌ “Saya paling pintar di
kelas.”
- ✅ “Saya
masih banyak belajar.”
👉 Ini penting untuk menjaga kesan tidak sombong.
5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)
👉 Perbanyak kesepakatan, kurangi pertentangan
Contoh:
- “Saya setuju dengan
pendapatmu, tapi mungkin bisa ditambahkan sedikit…”
👉 Tidak langsung menolak, tapi tetap menyampaikan
pendapat.
6. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)
👉 Tunjukkan empati dan kepedulian
Contoh:
- “Turut berduka cita atas
kehilanganmu.”
👉 Bahasa menjadi alat untuk menunjukkan rasa kemanusiaan.
7.2 Strategi Kesopanan
Selain teori Leech, dalam
pragmatik juga dikenal berbagai strategi kesopanan yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Strategi ini sering dikaitkan dengan konsep face
(citra diri), yaitu bagaimana seseorang ingin dipandang oleh orang lain.
1. Kesopanan Positif
👉 Bertujuan untuk mendekatkan hubungan sosial
Ciri-ciri:
- akrab
- hangat
- menunjukkan solidaritas
Contoh:
- “Kita kerjakan bareng saja, biar cepat selesai!”
👉 Terasa lebih bersahabat dan tidak berjarak.
2. Kesopanan Negatif
👉 Bertujuan untuk menghormati ruang pribadi orang
lain
Ciri-ciri:
- formal
- hati-hati
- tidak memaksa
Contoh:
- “Maaf mengganggu, apakah Anda bersedia membantu saya?”
👉 Digunakan saat berbicara dengan orang yang belum
dekat atau lebih tinggi statusnya.
3. Strategi Tidak Langsung
👉 Menyampaikan maksud secara tidak langsung
Contoh:
- “Wah, ruangan ini panas ya…”
👉 Bisa berarti: tolong nyalakan kipas atau AC 😄
Strategi ini sangat umum
dalam budaya yang menjunjung tinggi kesopanan, termasuk Indonesia.
4. Menggunakan Eufemisme
👉 Menghaluskan kata-kata agar tidak terdengar kasar
Contoh:
- “Meninggal dunia” (lebih halus
daripada “mati”)
- “Kurang mampu” (lebih halus daripada “miskin”)
7.3 Kesopanan dalam Budaya Indonesia
Nah, ini bagian yang paling dekat dengan kehidupan kita
sehari-hari 🇮🇩
Budaya Indonesia dikenal sebagai budaya yang:
- menjunjung tinggi sopan santun
- menghormati orang yang lebih tua
- menghindari konflik langsung
1. Penggunaan Bahasa Halus
Dalam banyak daerah di
Indonesia, ada tingkatan bahasa:
- bahasa santai
- bahasa sopan
- bahasa sangat halus
Contohnya bisa kita lihat
dalam bahasa Jawa, Sunda, dan lainnya.
👉 Ini menunjukkan bahwa kesopanan bukan hanya pilihan, tapi bagian dari sistem
bahasa.
2. Menghindari Penolakan Langsung
Orang Indonesia cenderung tidak mengatakan “tidak” secara
langsung.
Contoh:
- “Nanti saya pikirkan dulu ya…”
- “Sepertinya agak sulit…”
👉 Padahal maksudnya bisa jadi: tidak setuju.
3. Pentingnya Sapaan
Sapaan seperti:
- “Pak”
- “Bu”
- “Kak”
- “Mas/Mbak”
👉 bukan sekadar panggilan, tapi bentuk
penghormatan.
4. Budaya Tidak Enakan
Fenomena “tidak enakan” sangat kuat dalam masyarakat
Indonesia.
Contoh:
- tetap menerima tawaran
meskipun tidak ingin
- sulit menolak permintaan orang lain
👉 Ini berkaitan erat dengan prinsip kesopanan dan menjaga hubungan
sosial.
5. Kesopanan dalam Dunia
Digital
Di era media sosial,
kesopanan juga mengalami perubahan.
Contoh:
- komentar kasar lebih mudah muncul
- anonimitas membuat orang lebih berani
Namun, prinsip kesopanan tetap penting:
- gunakan bahasa yang santun
- hindari ujaran kebencian
- tetap menghargai pendapat orang lain
Penutup
Prinsip kesopanan dalam pragmatik mengajarkan kita bahwa
komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga hubungan
sosial.
Dengan memahami teori dari
Geoffrey Leech dan strategi kesopanan,
kita bisa:
- berbicara lebih bijak
- menghindari konflik
- membangun hubungan yang lebih baik
Dalam konteks Indonesia, kesopanan bahkan menjadi bagian
dari identitas budaya. Kita diajarkan sejak kecil untuk:
- menghormati orang lain
- berbicara dengan halus
- menjaga perasaan lawan bicara
Jadi, lain kali saat kamu berbicara…
ingat bahwa:
👉 kata-kata bukan hanya membawa makna, tapi juga perasaan.
Dan dalam banyak situasi,
👉 cara kita
berbicara jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan.
