BAB 9: ANALISIS
WACANA PRAGMATIK
Kalau kita bicara tentang pragmatik, kita sebenarnya sedang membahas
bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan nyata—bukan sekadar apa arti kata
atau struktur kalimatnya, tetapi bagaimana makna itu “hidup” dalam konteks.
Nah, di bab ini, kita akan masuk ke wilayah yang lebih luas lagi, yaitu analisis
wacana pragmatik. Di sini, bahasa tidak lagi dilihat sebagai unit kecil
seperti kata atau kalimat, tetapi sebagai bagian dari interaksi sosial yang
kompleks.
Analisis wacana pragmatik membantu kita memahami bagaimana orang
berkomunikasi dalam percakapan sehari-hari, media, bahkan dalam teks-teks
formal. Jadi, bukan cuma “apa yang dikatakan”, tetapi juga “mengapa dikatakan
seperti itu” dan “apa maksud sebenarnya di baliknya”.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
9.1 Pendekatan
Analisis Pragmatik
Pendekatan analisis pragmatik berfokus pada hubungan antara bahasa dan
konteks penggunaannya. Artinya, kita tidak bisa memahami makna sebuah ujaran
hanya dari kata-katanya saja, tetapi juga dari situasi, siapa yang berbicara,
kepada siapa, dan untuk tujuan apa.
Dalam praktiknya, ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam
analisis pragmatik:
1. Pendekatan Konteks Situasional
Pendekatan ini menekankan bahwa makna sangat bergantung pada situasi.
Misalnya, kalimat “Panas sekali di sini” bisa berarti:
- Sekadar
komentar tentang suhu
- Permintaan
halus untuk menyalakan kipas atau AC
Semua tergantung pada konteksnya. Dalam ruang kelas, mungkin itu hanya
keluhan. Tapi dalam ruangan ber-AC yang mati, itu bisa menjadi sindiran.
2. Pendekatan Tindak Tutur
Pendekatan ini melihat bahasa sebagai tindakan. Ketika seseorang berbicara,
sebenarnya dia sedang “melakukan sesuatu”. Misalnya:
- “Saya
janji akan datang” → tindakan berjanji
- “Tolong
tutup pintunya” → tindakan meminta
Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa bahasa bukan hanya alat
komunikasi, tapi juga alat untuk bertindak dalam interaksi sosial.
3. Pendekatan Prinsip Kerja Sama
Dalam komunikasi, biasanya orang berusaha bekerja sama agar pesan bisa
dipahami. Prinsip ini menjelaskan mengapa kita sering bisa “menangkap maksud”
meskipun tidak diucapkan secara langsung.
Contohnya:
- A: “Kamu
datang ke rapat?”
- B: “Saya
ada kelas jam itu.”
B tidak menjawab “tidak” secara langsung, tapi kita tetap memahami
maksudnya.
4. Pendekatan Implikatur
Implikatur adalah makna tersirat. Ini sangat penting dalam pragmatik karena
banyak komunikasi tidak dilakukan secara eksplisit.
Contoh:
- “Wah,
rajin sekali kamu datang jam 10.”
Secara literal memuji, tapi bisa jadi sindiran karena sebenarnya terlambat.
Pendekatan-pendekatan ini sering digunakan secara bersamaan dalam analisis
wacana pragmatik. Tujuannya adalah memahami makna secara lebih utuh, bukan
sekadar permukaan.
9.2 Analisis
Percakapan
Analisis percakapan adalah salah satu cabang penting dalam pragmatik.
Fokusnya adalah bagaimana percakapan berlangsung secara alami dalam kehidupan
sehari-hari.
Kalau kita perhatikan, percakapan ternyata punya pola yang cukup teratur,
meskipun terlihat spontan.
1. Struktur Giliran Bicara
Dalam percakapan, orang biasanya bergantian berbicara. Ini disebut turn-taking.
Menariknya, kita jarang berbicara bersamaan (meskipun kadang terjadi), karena
ada aturan tidak tertulis yang kita pahami bersama.
Contoh:
- A: “Kamu
sudah makan?”
- B: “Sudah,
tadi siang.”
Pergantian ini terlihat sederhana, tapi sebenarnya menunjukkan koordinasi
sosial yang kompleks.
2. Pasangan Ujaran (Adjacency
Pairs)
Dalam percakapan, ada pasangan ujaran yang saling berhubungan, misalnya:
- Salam →
Balasan salam
- Pertanyaan
→ Jawaban
- Tawaran →
Penerimaan atau penolakan
Contoh:
- A: “Mau
kopi?”
- B:
“Boleh.”
Kalau B tidak menjawab, percakapan terasa “aneh” atau tidak lengkap.
3. Perbaikan (Repair)
Kadang dalam percakapan, terjadi kesalahan atau ketidakpahaman. Maka
dilakukan perbaikan.
Contoh:
- A: “Saya
ke Makassar minggu lalu—eh, maksudnya bulan lalu.”
Ini menunjukkan bahwa percakapan bersifat dinamis dan fleksibel.
4. Strategi Kesantunan
Dalam percakapan, orang tidak hanya menyampaikan informasi, tapi juga
menjaga hubungan sosial. Karena itu, muncul berbagai strategi kesantunan.
Misalnya:
- “Bisa
tolong bantu saya?” (lebih sopan)
dibanding - “Bantu
saya.” (lebih langsung)
Kesantunan ini penting dalam menjaga keharmonisan komunikasi, terutama
dalam budaya yang menjunjung tinggi sopan santun seperti di Indonesia.
5. Konteks Sosial dalam
Percakapan
Cara orang berbicara berbeda tergantung siapa lawan bicaranya:
- Dengan
teman → lebih santai
- Dengan
atasan → lebih formal
Analisis percakapan membantu kita memahami bagaimana faktor sosial
memengaruhi bahasa yang digunakan.
9.3 Analisis
Teks Media
Selain percakapan langsung, pragmatik juga digunakan untuk menganalisis teks
media seperti berita, iklan, media sosial, dan lain-lain. Ini penting karena
media sering menyampaikan pesan yang tidak selalu netral.
1. Bahasa dalam Media Tidak
Pernah Netral
Dalam teks media, pilihan kata sangat menentukan makna.
Contoh:
- “Demonstran”
vs “Perusuh”
Kedua kata ini bisa merujuk pada kelompok yang sama, tapi memberikan kesan
yang sangat berbeda.
2. Implikatur dalam Media
Media sering menggunakan implikatur untuk menyampaikan pesan secara tidak
langsung.
Contoh judul berita:
- “Pejabat
itu kembali diperiksa KPK”
Kata “kembali” memberi implikasi bahwa sebelumnya sudah pernah bermasalah.
3. Framing
Framing adalah cara media “membingkai” suatu peristiwa.
Contoh:
- Berita A
menekankan kerugian
- Berita B
menekankan manfaat
Padahal peristiwanya sama. Ini menunjukkan bahwa media membentuk persepsi
pembaca.
4. Analisis Iklan
Dalam iklan, bahasa digunakan secara sangat strategis untuk memengaruhi
konsumen.
Contoh:
- “Kulit
cerah dalam 7 hari!”
Kalimat ini tidak selalu menjelaskan bagaimana caranya, tapi memancing
harapan.
Dari sudut pragmatik, kita bisa melihat:
- Apa yang
dikatakan
- Apa yang
tidak dikatakan
- Apa yang
diharapkan pembaca simpulkan
5. Media Sosial sebagai Wacana
Baru
Media sosial menghadirkan bentuk komunikasi yang unik:
- Singkat
- Cepat
- Penuh
implikatur
- Sering
menggunakan humor atau sindiran
Contoh:
- “Wah,
mantap sekali pelayanan hari ini 😌”
Emoji bisa mengubah makna secara drastis—bisa jadi pujian, bisa juga
sindiran.
Analisis pragmatik membantu kita memahami makna di balik teks-teks seperti
ini, yang sering kali ambigu.
Penutup
Analisis wacana pragmatik membuka mata kita bahwa bahasa bukan sekadar alat
komunikasi yang sederhana. Di balik setiap kata, ada konteks, niat, strategi,
dan bahkan kekuasaan.
Melalui pendekatan pragmatik, kita belajar bahwa:
- Makna
tidak selalu eksplisit
- Percakapan
memiliki pola dan aturan
- Media
membentuk realitas melalui bahasa
Dengan memahami ini, kita tidak hanya menjadi pengguna bahasa yang lebih
baik, tetapi juga menjadi pembaca dan pendengar yang lebih kritis.
Di era informasi seperti sekarang, kemampuan memahami makna tersirat
menjadi sangat penting. Karena sering kali, yang paling penting bukan apa yang
dikatakan, tetapi apa yang dimaksudkan.
Dan di situlah pragmatik memainkan perannya.
