Halaman

Rabu, 01 April 2026

PRINSIP KESOPANAN

 

BAB 7: PRINSIP KESOPANAN

(Ngomong Biasa, Tapi Tetap Berkelas)

Pernah nggak kamu merasa ada orang yang cara bicaranya “halus banget”, sementara yang lain terdengar kasar padahal maksudnya sama? Nah, di situlah prinsip kesopanan dalam pragmatik memainkan peran penting.

Dalam komunikasi sehari-hari, kita tidak hanya memikirkan apa yang kita katakan, tapi juga bagaimana cara mengatakannya. Karena salah sedikit saja, makna bisa berubah… bahkan bisa menyinggung perasaan orang lain 😅

Di bab ini, kita akan bahas bagaimana kesopanan bekerja dalam bahasa, mulai dari teori hingga praktiknya dalam budaya Indonesia.

 

Buku  PRAGMATIK


7.1 Teori Kesopanan (Leech)

Salah satu tokoh penting dalam kajian kesopanan adalah:
👉 Geoffrey Leech

Leech mengembangkan konsep Prinsip Kesopanan (Politeness Principle) sebagai pelengkap dari teori kerja sama Paul Grice.

Kalau Grice fokus pada efektivitas komunikasi, Leech lebih fokus pada etika dalam komunikasi.

Apa itu Prinsip Kesopanan?

Secara sederhana, prinsip ini bertujuan untuk:
👉 meminimalkan ketidaksenangan bagi orang lain
👉 memaksimalkan rasa hormat dan kenyamanan dalam komunikasi

Artinya, kita berusaha agar lawan bicara:

  • tidak tersinggung
  • tidak merasa direndahkan
  • tetap nyaman dalam percakapan

 

Enam Maksim Kesopanan Leech

Leech membagi kesopanan menjadi beberapa maksim. Kita bahas dengan contoh santai biar mudah dipahami 👇

 

1. Maksim Kebijaksanaan (Tact Maxim)

👉 Kurangi kerugian orang lain, tingkatkan keuntungan orang lain

Contoh:

  • “Pinjamkan saya uang sekarang!”
  • “Kalau tidak keberatan, boleh saya pinjam uang?”

👉 Versi kedua terasa lebih sopan karena tidak memaksa.

 

2. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

👉 Kurangi keuntungan diri sendiri, tingkatkan pengorbanan diri

Contoh:

  • “Biar saya saja yang mengerjakan.”

👉 Ini menunjukkan sikap menghargai orang lain.

 

3. Maksim Pujian (Approbation Maxim)

👉 Kurangi kritik, perbanyak pujian

Contoh:

  • “Tulisanmu jelek.”
  • “Idenya bagus, mungkin bisa diperbaiki sedikit di bagian ini.”

👉 Kritik tetap ada, tapi dibungkus dengan cara yang lebih halus.

 

4. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)

👉 Kurangi pujian terhadap diri sendiri

Contoh:

  • “Saya paling pintar di kelas.”
  • “Saya masih banyak belajar.”

👉 Ini penting untuk menjaga kesan tidak sombong.

 

5. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)

👉 Perbanyak kesepakatan, kurangi pertentangan

Contoh:

  • “Saya setuju dengan pendapatmu, tapi mungkin bisa ditambahkan sedikit…”

👉 Tidak langsung menolak, tapi tetap menyampaikan pendapat.

 

6. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)

👉 Tunjukkan empati dan kepedulian

Contoh:

  • “Turut berduka cita atas kehilanganmu.”

👉 Bahasa menjadi alat untuk menunjukkan rasa kemanusiaan.

 

7.2 Strategi Kesopanan

Selain teori Leech, dalam pragmatik juga dikenal berbagai strategi kesopanan yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Strategi ini sering dikaitkan dengan konsep face (citra diri), yaitu bagaimana seseorang ingin dipandang oleh orang lain.

 

1. Kesopanan Positif

👉 Bertujuan untuk mendekatkan hubungan sosial

Ciri-ciri:

  • akrab
  • hangat
  • menunjukkan solidaritas

Contoh:

  • “Kita kerjakan bareng saja, biar cepat selesai!”

👉 Terasa lebih bersahabat dan tidak berjarak.

 

2. Kesopanan Negatif

👉 Bertujuan untuk menghormati ruang pribadi orang lain

Ciri-ciri:

  • formal
  • hati-hati
  • tidak memaksa

Contoh:

  • “Maaf mengganggu, apakah Anda bersedia membantu saya?”

👉 Digunakan saat berbicara dengan orang yang belum dekat atau lebih tinggi statusnya.

 

3. Strategi Tidak Langsung

👉 Menyampaikan maksud secara tidak langsung

Contoh:

  • “Wah, ruangan ini panas ya…”

👉 Bisa berarti: tolong nyalakan kipas atau AC 😄

Strategi ini sangat umum dalam budaya yang menjunjung tinggi kesopanan, termasuk Indonesia.

 

4. Menggunakan Eufemisme

👉 Menghaluskan kata-kata agar tidak terdengar kasar

Contoh:

  • “Meninggal dunia” (lebih halus daripada “mati”)
  • “Kurang mampu” (lebih halus daripada “miskin”)

 

7.3 Kesopanan dalam Budaya Indonesia

Nah, ini bagian yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari 🇮🇩

Budaya Indonesia dikenal sebagai budaya yang:

  • menjunjung tinggi sopan santun
  • menghormati orang yang lebih tua
  • menghindari konflik langsung

 

1. Penggunaan Bahasa Halus

Dalam banyak daerah di Indonesia, ada tingkatan bahasa:

  • bahasa santai
  • bahasa sopan
  • bahasa sangat halus

Contohnya bisa kita lihat dalam bahasa Jawa, Sunda, dan lainnya.

👉 Ini menunjukkan bahwa kesopanan bukan hanya pilihan, tapi bagian dari sistem bahasa.

 

2. Menghindari Penolakan Langsung

Orang Indonesia cenderung tidak mengatakan “tidak” secara langsung.

Contoh:

  • “Nanti saya pikirkan dulu ya…”
  • “Sepertinya agak sulit…”

👉 Padahal maksudnya bisa jadi: tidak setuju.

 

3. Pentingnya Sapaan

Sapaan seperti:

  • “Pak”
  • “Bu”
  • “Kak”
  • “Mas/Mbak”

👉 bukan sekadar panggilan, tapi bentuk penghormatan.

 

4. Budaya Tidak Enakan

Fenomena “tidak enakan” sangat kuat dalam masyarakat Indonesia.

Contoh:

  • tetap menerima tawaran meskipun tidak ingin
  • sulit menolak permintaan orang lain

👉 Ini berkaitan erat dengan prinsip kesopanan dan menjaga hubungan sosial.

 

5. Kesopanan dalam Dunia Digital

Di era media sosial, kesopanan juga mengalami perubahan.

Contoh:

  • komentar kasar lebih mudah muncul
  • anonimitas membuat orang lebih berani

Namun, prinsip kesopanan tetap penting:

  • gunakan bahasa yang santun
  • hindari ujaran kebencian
  • tetap menghargai pendapat orang lain

 

Penutup

Prinsip kesopanan dalam pragmatik mengajarkan kita bahwa komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga menjaga hubungan sosial.

Dengan memahami teori dari Geoffrey Leech dan strategi kesopanan, kita bisa:

  • berbicara lebih bijak
  • menghindari konflik
  • membangun hubungan yang lebih baik

Dalam konteks Indonesia, kesopanan bahkan menjadi bagian dari identitas budaya. Kita diajarkan sejak kecil untuk:

  • menghormati orang lain
  • berbicara dengan halus
  • menjaga perasaan lawan bicara

Jadi, lain kali saat kamu berbicara…
ingat bahwa:
👉 kata-kata bukan hanya membawa makna, tapi juga perasaan.

Dan dalam banyak situasi,
👉 cara kita berbicara jauh lebih penting daripada apa yang kita katakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar