Halaman

Selasa, 31 Maret 2026

PRINSIP KERJA SAMA

 

BAB 6: PRINSIP KERJA SAMA

(Rahasia di Balik Percakapan yang Nyambung)

Pernah nggak sih kamu ngobrol sama seseorang, tapi rasanya “nggak nyambung”? Atau sebaliknya, ngobrol ngalir banget tanpa hambatan?

Nah, dalam pragmatik, kelancaran komunikasi itu ternyata bukan kebetulan. Ada yang namanya Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) yang bikin percakapan jadi efektif dan saling dipahami.


Buku  PRAGMATIK

Konsep ini diperkenalkan oleh tokoh terkenal:
👉 Paul Grice

Menurut Grice, saat kita berbicara, kita secara tidak sadar bekerja sama agar percakapan berjalan lancar dan bermakna.

6.1 Maksim Grice (Kuantitas, Kualitas, Relevansi, Cara)

Untuk menjaga kerja sama dalam percakapan, Grice membagi aturan komunikasi menjadi 4 maksim. Tenang, kita bahas dengan contoh santai 😄

1. Maksim Kuantitas (Quantity)

👉 Berikan informasi secukupnya, jangan kurang atau berlebihan.

Contoh:

A: “Kamu tinggal di mana?”
B: “Di Makassar.” ✅ (cukup jelas)

Kalau jawabannya:

“Di sebuah rumah berwarna putih dengan pagar besi dekat warung...” 😅

👉 Itu sudah terlalu banyak informasi.

2. Maksim Kualitas (Quality)

👉 Katakan yang benar, jangan bohong atau asal-asalan.

Contoh:

“Hari ini hujan deras.” (padahal panas terik) ❌

Dalam komunikasi, kejujuran itu penting supaya makna tidak salah dipahami.

3. Maksim Relevansi (Relation)

👉 Harus nyambung dengan topik.

Contoh:

A: “Kamu sudah makan?”
B: “Sudah.” ✅

Kalau jawab:

“Saya suka nasi goreng.”

👉 Ini jelas tidak relevan.

4. Maksim Cara (Manner)

👉 Sampaikan dengan jelas, tidak berbelit, dan tidak ambigu.

Contoh:

  • ❌ “Itu benda yang kamu tahu yang biasa dipakai itu…”
  • ✅ “Ambilkan saya pulpen.”

👉 Intinya: jelas dan mudah dipahami.

6.2 Pelanggaran Maksim

Nah, ini bagian yang paling menarik 😏

Dalam kehidupan nyata, orang tidak selalu patuh pada maksim. Tapi justru dari “pelanggaran” ini sering muncul makna tersembunyi (implikatur).

1. Pelanggaran Maksim Kuantitas

Contoh:

A: “Bagaimana dosennya?”
B: “Ya… lumayan.”

👉 Terlalu sedikit informasi → bisa berarti sebenarnya kurang bagus.

2. Pelanggaran Maksim Kualitas

Contoh (sindiran):

“Wah, kamu rajin sekali datang terlambat!”

👉 Secara literal positif, tapi maknanya justru negatif.

3. Pelanggaran Maksim Relevansi

Contoh:

A: “Nilai ujianmu bagaimana?”
B: “Soalnya susah sekali…”

👉 Tidak menjawab langsung → bisa berarti nilainya kurang baik.

4. Pelanggaran Maksim Cara

Contoh:

“Ada seseorang yang mungkin memiliki kecenderungan kurang disiplin waktu…”

👉 Kenapa tidak langsung bilang: “Dia sering terlambat”? 😄

👉 Kalimat berbelit sering dipakai untuk:

  • menjaga perasaan
  • menyindir halus
  • atau menghindari konflik

Kenapa Pelanggaran Itu Penting?

Menariknya, pelanggaran maksim bukan berarti komunikasi gagal. Justru:

  • menciptakan humor 😂
  • menyampaikan sindiran 😏
  • menjaga kesopanan 🤝
  • atau menyembunyikan maksud tertentu

Dalam dunia nyata, kita sering lebih paham “yang tidak dikatakan” daripada yang diucapkan langsung.

Penutup

Prinsip Kerja Sama menunjukkan bahwa komunikasi manusia itu penuh strategi. Kita tidak hanya:

  • berbicara,
  • tapi juga mengelola makna.

Dengan memahami maksim Grice, kita jadi:

  • lebih peka dalam memahami orang lain
  • lebih efektif dalam berkomunikasi
  • dan tentu saja… lebih jago membaca “kode-kode tersembunyi” 😄

Jadi, lain kali kalau ada yang jawab aneh saat diajak ngobrol…
👉 Jangan langsung bingung.
👉 Bisa jadi, dia sedang “bermain” dengan maksim!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar