BAB 6: PRINSIP KERJA SAMA
(Rahasia di
Balik Percakapan yang Nyambung)
Pernah nggak sih kamu ngobrol sama
seseorang, tapi rasanya “nggak nyambung”? Atau sebaliknya, ngobrol ngalir
banget tanpa hambatan?
Nah, dalam pragmatik,
kelancaran komunikasi itu ternyata bukan kebetulan. Ada yang namanya Prinsip
Kerja Sama (Cooperative Principle) yang bikin percakapan jadi
efektif dan saling dipahami.
![]() |
Buku PRAGMATIK |
Konsep ini diperkenalkan oleh tokoh
terkenal:
👉 Paul Grice
Menurut
Grice, saat kita berbicara, kita secara tidak sadar bekerja sama agar
percakapan berjalan lancar dan bermakna.
6.1 Maksim Grice
(Kuantitas, Kualitas, Relevansi, Cara)
Untuk
menjaga kerja sama dalam percakapan, Grice membagi aturan komunikasi menjadi 4
maksim. Tenang, kita bahas dengan contoh santai 😄
1. Maksim Kuantitas (Quantity)
👉 Berikan informasi
secukupnya, jangan kurang atau berlebihan.
Contoh:
A: “Kamu tinggal di mana?”
B: “Di Makassar.” ✅ (cukup jelas)
Kalau jawabannya:
“Di sebuah rumah berwarna putih
dengan pagar besi dekat warung...” 😅
👉 Itu sudah terlalu banyak
informasi.
2.
Maksim Kualitas (Quality)
👉 Katakan yang benar,
jangan bohong atau asal-asalan.
Contoh:
“Hari ini
hujan deras.” (padahal panas terik) ❌
Dalam
komunikasi, kejujuran itu penting supaya makna tidak salah dipahami.
3.
Maksim Relevansi (Relation)
👉 Harus nyambung dengan
topik.
Contoh:
A: “Kamu sudah makan?”
B: “Sudah.” ✅
Kalau jawab:
“Saya suka nasi goreng.” ❌
👉 Ini jelas tidak relevan.
4. Maksim Cara (Manner)
👉 Sampaikan dengan jelas, tidak
berbelit, dan tidak ambigu.
Contoh:
- ❌ “Itu
benda yang kamu tahu yang biasa dipakai itu…”
- ✅ “Ambilkan saya pulpen.”
👉 Intinya: jelas dan mudah dipahami.
6.2
Pelanggaran Maksim
Nah, ini bagian yang paling menarik 😏
Dalam kehidupan nyata, orang tidak
selalu patuh pada maksim. Tapi justru dari “pelanggaran” ini sering muncul
makna tersembunyi (implikatur).
1. Pelanggaran Maksim Kuantitas
Contoh:
A:
“Bagaimana dosennya?”
B: “Ya… lumayan.”
👉 Terlalu sedikit informasi → bisa
berarti sebenarnya kurang bagus.
2. Pelanggaran Maksim Kualitas
Contoh
(sindiran):
“Wah, kamu rajin sekali datang
terlambat!”
👉 Secara literal positif,
tapi maknanya justru negatif.
3.
Pelanggaran Maksim Relevansi
Contoh:
A: “Nilai ujianmu bagaimana?”
B: “Soalnya susah sekali…”
👉 Tidak menjawab langsung →
bisa berarti nilainya kurang baik.
4.
Pelanggaran Maksim Cara
Contoh:
“Ada seseorang yang mungkin memiliki
kecenderungan kurang disiplin waktu…”
👉 Kenapa tidak langsung
bilang: “Dia sering terlambat”? 😄
👉 Kalimat berbelit sering
dipakai untuk:
- menjaga perasaan
- menyindir halus
- atau menghindari konflik
Kenapa Pelanggaran Itu
Penting?
Menariknya,
pelanggaran maksim bukan berarti komunikasi gagal. Justru:
- menciptakan humor 😂
- menyampaikan sindiran 😏
- menjaga kesopanan 🤝
- atau menyembunyikan maksud
tertentu
Dalam dunia nyata, kita sering lebih
paham “yang tidak dikatakan” daripada yang diucapkan langsung.
Penutup
Prinsip Kerja Sama menunjukkan bahwa
komunikasi manusia itu penuh strategi. Kita tidak hanya:
- berbicara,
- tapi juga mengelola makna.
Dengan memahami maksim Grice, kita
jadi:
- lebih peka dalam memahami orang
lain
- lebih efektif dalam
berkomunikasi
- dan
tentu saja… lebih jago membaca “kode-kode tersembunyi” 😄
Jadi, lain
kali kalau ada yang jawab aneh saat diajak ngobrol…
👉 Jangan langsung bingung.
👉 Bisa jadi, dia sedang “bermain”
dengan maksim!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar