Halaman

Kamis, 05 Maret 2026

Onomatope: Mengapa suara “guk guk” terdengar masuk akal bagi otak kita?

 

Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik  Volume 2, Nomor 3,  Maret  2026

Mengapa suara “guk guk” terdengar masuk akal bagi otak kita?


Onomatope: Mengapa suara “guk guk” terdengar masuk akal bagi otak kita?

Bayangkan Anda mendengar kata “guk guk”. Seketika di benak Anda muncul sosok seekor anjing kecil yang sedang menggonggong. Apa yang membuat serangkaian bunyi seperti itu begitu intuitif dimengerti? Mengapa suara representasi ini terdengar “masuk akal” bagi otak kita — bahkan sebelum kita belajar bahasa tertentu?

Fenomena ini berkaitan dengan onomatope, suatu bentuk kata yang dirancang meniru suara objek atau peristiwa di dunia nyata (Yule, 2017). Dalam artikel ini kita akan mengeksplorasi:

1.      Apa itu onomatope?

2.      Asal-usul dan fungsi kognitifnya dalam bahasa.

3.      Bagaimana otak memproses onomatope.

4.      Studi kasus suara binatang, khususnya “guk guk”.

5.      Implikasi linguistik, budaya, dan neurosains.

 

1. Apa itu Onomatope?

Onomatope adalah sebuah bentuk kata atau ekspresi yang mencoba meniru suara dunia nyata. Contohnya termasuk:

·         guk guk (suara anjing)

·         meong (suara kucing)

·         bzz (suara lebah)

Dalam bahasa Inggris, bentuknya mirip dengan woof woof, meow, atau buzz. Meskipun variasi antar bahasa sangat luas, tujuan utamanya sama: merepresentasikan suara ambien melalui bentuk linguistik (Crystal, 2003).

Secara formal, onomatope sering disebut sebagai mimetik atau bentuk sound symbolic dalam kajian linguistik karena hubungan langsung antara suara yang diamati dan bentuk kata yang digunakan (Dingemanse, 2012).

2. Asal-Usul dan Fungsi Linguistik

Bahasa manusia secara umum bersifat arbitrer — artinya tidak ada hubungan inheren antara kata dan maknanya (Saussure, 1916/1983). Misalnya kata “rumah” tidak menyerupai secara langsung objek rumah dalam dunia nyata. Namun, onomatope adalah salah satu pengecualian paling jelas dari prinsip arbitrer ini.

Fungsi Komunikatif

Onomatope memiliki beberapa fungsi penting:

·         Meningkatkan pemahaman cepat
Suara yang meniru dunia nyata mempermudah pemahaman tanpa perlu mempelajari struktur formal.

·         Menyampaikan ekspresi emosional atau sensorik
Bunyi tertentu sering membawa nuansa emosional (mis. aaaah untuk kesakitan).

·         Bersifat universal namun bervariasi antar budaya
Budaya yang berbeda bisa menggambarkan suara yang sama dengan cara yang berbeda (mis. guk guk vs woof woof).

 

3. Otak dan Pengolahan Onomatope

Mengapa otak kita bisa langsung “menangkap” suara representatif seperti guk guk? Ada beberapa penjelasan ilmiah:

3.1. Sensorik dan Persepsi Bunyi

Dalam memproses suara, otak kita tidak hanya mengenali frekuensi gelombang, tetapi juga membandingkannya dengan pengalaman sebelumnya. Suara hewan, lingkungan, dan vokalisasi yang kita dengar berulang kali dipetakan dalam memori auditori kita.

Penelitian neurolinguistik menunjukkan bahwa onomatope secara langsung memicu area sensorimotor dan auditori di otak — berbeda dari kata biasa yang lebih diproses di area leksikal/semantik (Aryani, Maess, & Pulvermüller, 2018).

Dalam kata lain, ketika kita mendengar atau membaca guk guk, otak tidak sekadar mengartikan kata — ia mensimulasikan suara itu sendiri.

3.2. Akses Ekspresif dan Simulasi Auditori

Beberapa studi EEG dan fMRI mengindikasikan bahwa onomatope mengaktifkan jalur saraf yang sama dengan mendengar suara sebenarnya:

“Onomatopoeic words activate both linguistic and auditory cortices… suggesting an embodied representation of sound symbolic words in the human brain.” (Lockwood & Dingemanse, 2015, hlm. 21)

Artinya, otak memproses onomatope tidak hanya sebagai bentuk kata, tetapi juga sebagai representasi suara aktual — semacam “simulasi auditori internal”.

3.3. Peran Bahasa dan Pengalaman Akumulatif

Meski suara dunia nyata itu universal, cara kita merepresentasikannya dipengaruhi budaya dan bahasa ibu. Seorang penutur bahasa Jepang mungkin menyimak suara anjing sebagai wan wan, sementara penutur bahasa Inggris lebih akrab dengan woof woof. Meski berbeda, keduanya secara semantik menunjuk pada suara yang sama.

Ini berarti ada dua aspek yang berinteraksi:

1.      Pengalaman sensorik universal
Suara anjing memiliki frekuensi dan karakteristik tertentu.

2.      Representasi linguistik spesifik budaya
Bentuk kata dipengaruhi pola fonetik bahasa.

 

4. Studi Kasus: Kenapa “Guk Guk”?

Mari kita analisis suara “guk guk” dalam konteks linguistik dan kognitif.

4.1. Struktur Fonetik

Dalam onomatope, bunyi konsonan dan vokal tidak dipilih secara acak:

·         Konsonan seperti /g/ dan /k/ sering diasosiasikan dengan suara berat, pendek, dan staccato — cocok untuk gonggongan anjing (Hamann, 2010).

·         Vokal /u/ merepresentasikan suara yang relatif rendah dan berdurasi pendek.

Jadi, guk guk bukan hanya penggambaran visual; itu adalah representasi suara yang fonetiknya konsisten dengan karakter suara yang ditiru.

4.2. Keterkaitan dengan Persepsi Auditori

Suara gonggongan anjing memiliki frekuensi tertentu — biasanya berkisar di area low-mid yang kasar dan terputus-putus. Bunyi “guk guk” merefleksikan pola tersebut secara cukup akurat melalui bentuk suku kata berulang yang keras dan bernada rendah.

Otak kita, yang telah berkembang untuk mengenali pola suara biologis (mis. vokalisasi hewan), mengasosiasikan suara linguistik ini dengan sumber suara aslinya.

4.3. Efek Pembelajaran Awal

Anak-anak yang belajar bahasa sering kali pertama kali memahami dunia lewat suara — bukan bentuk ikonik atau abstrak.

Bernstein (2016) menjelaskan bahwa:

“Children show sensitivities to sound symbolic forms earlier than conventional lexical forms, indicating an early sensorimotor grounding in representation of language” (hlm. 112)

Ini berarti onomatope seperti guk guk tidak hanya mudah dimengerti — ia sering menjadi pintu masuk awal bagi otak untuk memetakan suara ke makna.

 

5. Perbedaan Antar Bahasa: Suara Sama, Representasi Berbeda

Salah satu fenomena menarik tentang onomatope adalah perbedaan representasi bunyi antar bahasa. Contoh:

Bahasa

Gonggongan Anjing

Indonesia

guk guk

Inggris

woof woof

Jepun

wan wan

Jerman

wau wau

Meskipun suara anjing itu sama secara akustik, cara tiap bahasa menuliskannya berbeda. Mengapa?

5.1. Inventaris Fonetik Bahasa

Setiap bahasa memiliki kumpulan bunyi yang khas (inventaris fonem). Suara yang ditiru harus disesuaikan dengan fonem yang dimiliki bahasa tersebut.

Misalnya:

·         Bahasa Jepang memiliki sejumlah kecil konsonan akhir sehingga wan wan lebih natural daripada bentuk yang berakhir dengan konsonan kuat seperti /f/ atau /k/ (Itō & Mester, 2009).

5.2. Preferensi Fonologis Budaya

Beberapa budaya memperkuat representasi suara lewat ritme, pengulangan, atau variasi vokal yang berbeda untuk menyesuaikan dengan aturan fonologis bahasa.

Ini menjelaskan mengapa anak-anak di berbagai negara belajar bentuk onomatope yang sangat berbeda — tetapi semua berhasil mengkomunikasikan makna suara tersebut.

 

6. Implikasi Linguistik dan Budaya

Onomatope bukan hanya fenomena linguistik yang menarik; ia membuka wawasan tentang:

6.1. Bahasa dan Sensorium Manusia

Bahasa kita tidak selalu sepenuhnya arbitrer. Onomatope memberikan bukti kuat bahwa dalam beberapa kasus, bahasa terkait langsung dengan pengalaman sensorik (sound symbolism).

6.2. Bahasa sebagai “Simulasi Dunia Nyata”

Alih-alih hanya sistem simbol, bahasa kadang berfungsi sebagai jembatan langsung antara persepsi dan representasi — terutama pada tahap awal perkembangan kognitif.

6.3. Interaksi Bahasa, Budaya, dan Neurologi

Studi neurolinguistik menunjukkan bahwa proses pemahaman onomatope melibatkan lebih dari sekadar area bahasa — termasuk sistem auditori dan sensorimotor otak.

Ini membuka peluang riset lanjutan tentang bagaimana bahasa terbentuk berdasarkan pengalaman dunia nyata, bukan hanya aturan abstrak.

 

7. Kesimpulan

Suara seperti “guk guk” terdengar masuk akal bagi otak kita karena:

1.      Ia meniru pola suara yang kita kenali dari dunia nyata.

2.      Bentuk fonetiknya konsisten dengan karakter suara yang ditiru.

3.      Otak memproses onomatope dengan cara yang mirip dengan suara auditori sungguhan.

4.      Pengalaman sensorik awal mempermudah keterkaitan bunyi — makna.

5.      Walaupun berbeda secara linguistik antar bahasa, hubungan simbolik antara suara dan representasinya tetap kuat.

Dengan memahami fenomena onomatope, kita membuka wawasan tentang bagaimana bahasa manusia bukan hanya sistem simbol abstrak, tetapi juga cermin yang terhubung langsung dengan dunia sensorik kita.

 

 

Daftar Pustaka

Aryani, A., Maess, B., & Pulvermüller, F. (2018). The auditory-motor mapping across the sound symbolic–arbitrary continuum: ERP evidence. Brain and Language, 175, 24–36. https://doi.org/10.1016/j.bandl.2017.08.002

Bernstein, L. E. (2016). Sound symbolism and early language acquisition: A review. Journal of Child Language, 43(1), 99–124. https://doi.org/10.1017/S0305000914000702

Crystal, D. (2003). A dictionary of linguistics and phonetics (5th ed.). Blackwell.

Dingemanse, M. (2012). Advances in the crosslinguistic study of ideophones. Language and Linguistics Compass, 6(10), 654–672. https://doi.org/10.1002/lnc3.361

Hamann, S. (2010). The phonology of sound symbolism. The Oxford Handbook of Linguistic Typology (hlm. 399–422). Oxford University Press.

Itō, J., & Mester, A. (2009). The extended prosodic word. Phonological Exploration (hlm. 131–154). Mouton de Gruyter.

Lockwood, G., & Dingemanse, M. (2015). The imitative structure of animal vocalizations and the evolution of language: Evidence from Japanese and English. Cognitive Linguistics, 26(1), 1–31. https://doi.org/10.1515/cog-2014-0068

Saussure, F. de. (1983). Course in general linguistics (R. Harris, Trans.). Duckworth. (Karya asli diterbitkan 1916)

Yule, G. (2017). The study of language (6th ed.). Cambridge University Press.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar