Vol 2, No 3 (2026): Pusat Referensi Linguistik Volume 2, Nomor 3, Maret 2026

Bahasa Hewan vs Manusia
Bahasa Hewan vs Manusia:
Mengapa Simpanse Tidak Bisa Belajar Tata Bahasa?
Bahasa Hewan vs Manusia
Manusia sering kali terpesona oleh kemampuan komunikasi hewan.
Dalam eksperimen dan kehidupan sehari-hari, beberapa spesies menunjukkan
kapasitas untuk mengenali suara atau simbol tertentu, bahkan meniru suara
manusia. Namun sejauh ini, tidak ada hewan non-manusia, termasuk simpanse —
kerabat evolusioner terdekat manusia — yang mampu menguasai tata bahasa seperti
yang dimiliki oleh manusia. Artikel ini menjelaskan secara mendalam perbedaan sistem komunikasi hewan
dan bahasa manusia, serta mengapa simpanse tidak bisa belajar
atau menggunakan tata bahasa dengan cara manusia melakukannya.
1. Komunikasi Hewan vs
Bahasa Manusia: Definisi dan Perbedaan Dasar
Sebelum membahas simpanse secara khusus, penting memahami apa
yang dimaksud dengan istilah “bahasa” dalam konteks linguistik.
1.1 Bahasa Manusia
Bahasa manusia adalah sistem komunikasi kompleks yang
menggunakan simbol abstrak (kata) dan aturan tata bahasa (sintaks) untuk
menyusun frase dan kalimat yang bermakna. Ciri khas bahasa manusia mencakup:
·
Productivity — kemampuan untuk menghasilkan jumlah tak terbatas kalimat baru
menggunakan aturan terbatas.
·
Displacement — kemampuan untuk berbicara tentang hal yang tidak hadir secara
langsung (mis. masa depan atau masa lalu).
·
Arbitrariness — hubungan yang konvensional antara tanda (kata) dan maknanya.
·
Duality
of patterning — struktur di tingkat bunyi dan
makna.
Bahasa manusia juga bersifat rekursif,
yakni satu struktur bisa mengandung struktur lain (mis. kalimat dalam kalimat)
— sebuah fitur yang jarang atau tidak ada pada sistem komunikasi hewan.
1.2 Komunikasi Hewan
Komunikasi hewan adalah sistem sinyal yang digunakan untuk
menyampaikan informasi penting bagi bertahan hidup atau interaksi sosial.
Misalnya:
·
Alarm
calls pada monyet vervet memberi tahu tentang
predator tertentu.
·
Seruan
atau gerakan antar anggota kelompok primata.
Walaupun sistem ini bisa cukup kompleks, ia biasanya bersifat terbatas, kontekstual, dan tidak
produktif dalam arti membuat kombinasi baru secara bebas
seperti pada bahasa manusia.
2. Studi Empiris:
Eksperimen Bahasa dengan Simpanse
Beberapa eksperimen paling terkenal mencoba mengajarkan bahasa
manusia (atau sistem serupa) kepada simpanse dan primata besar lainnya.
2.1 Project Nim
Pada tahun 1970-an, psikolog Herbert S. Terrace menjalankan Project Nim — sebuah
eksperimen ambisius untuk mengajarkan bahasa isyarat Amerika (ASL) kepada
simpanse bernama Nim
Chimpsky (nama ini sengaja mengacu pada Noam Chomsky). Awalnya
peneliti berharap Nim bisa membuat kalimat, tetapi kemudian diketahui bahwa apa
yang Nim produksi merupakan respons terhadap pelatihnya yang tak sengaja
memberi isyarat dan motivasi — bukan pemahaman tata bahasa yang sebenarnya.
Akhirnya, proyek tersebut dianggap gagal dalam menunjukkan kemampuan bahasa
yang sejati pada simpanse.
2.2 Washoe dan Koko
Eksperimen populer lain termasuk simpanse Washoe, yang dilatih
ASL, dan gorila Koko,
yang belajar banyak tanda dari sistem isyarat modifikasi manusia. Mereka mampu
menghubungkan tanda tertentu dengan makna spesifik dan bahkan bisa
menggabungkan beberapa tanda untuk membuat ungkapan sederhana, namun tetap
tidak menunjukkan penguasaan aturan
tata bahasa yang kompleks dan produktif seperti yang dimiliki
anak manusia.
2.3 Kanzi dan Lexigram
Beberapa bonobo seperti Kanzi
telah belajar menggunakan lexigram—simbol
grafis yang mewakili kata-kata—dan mampu memahami beberapa kalimat sederhana
dalam bahasa Inggris. Namun para peneliti tetap bersikap hati-hati dalam
menafsirkan ini sebagai “bahasa” sejati karena kewajaran struktur dan
penggunaan aturan masih rendah dibanding kemampuan bahasa manusia sejati.
3. Mengapa Simpanse Tidak
Bisa Belajar Tata Bahasa?
Mengapa simpanse meskipun cerdas tetap gagal mempelajari tata
bahasa kompleks seperti manusia? Ada beberapa faktor utama:
3.1 Perbedaan dalam
Kapasitas Kognitif
Penelitian menunjukkan bahwa simpanse mampu memahami dan
menggunakan konsep dasar dan murid prediksi, namun mereka tidak menunjukkan
penguasaan aturan tata
bahasa abstrak yang memampukan manusia menghasilkan kalimat
baru yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Sebuah studi yang dibandingkan
antara anak manusia berusia dua tahun dengan tanda yang diproduksi oleh
simpanse menunjukkan bahwa simpanse tidak mencapai pola yang mirip dengan tata
bahasa yang melekat pada kemampuan anak manusia yang sama umur.
Bahasa manusia memerlukan kemampuan kognitif abstrak yang
melibatkan kategori seperti sintaks, semantik, dan aturan struktur berlapis —
kemampuan yang kemungkinan besar hanya berkembang pada manusia melalui evolusi
otak kompleks.
3.2 Batasan dalam Struktur
Otak dan Genetik
Walaupun simpanse dan manusia memiliki struktur otak yang
homolog, spesialisasi
neurologis untuk bahasa — termasuk area Broca dan Wernicke yang
sangat berkembang pada manusia — tidak setingkat pada simpanse. Perbedaan
ekspresi gen tertentu juga memengaruhi bagaimana otak kita berkembang untuk
kemampuan bahasa yang kompleks, termasuk pola pembelajaran spesifik yang tidak
ditemukan pada simpanse.
3.3 Perbedaan dalam Sinyal
dan Komunikasi
Komunikasi simpanse sering bersifat langsung, kontekstual, dan
terbatas pada situasi tertentu: misalnya tanda yang diberi arti untuk makanan
atau objek tertentu. Mereka tidak menunjukkan kemampuan displacement (bicara
tentang masa depan atau masa lalu secara bebas), serta produktivity
(menghasilkan kombinasi baru struktur berdasarkan aturan tata bahasa).
4. Peran Tata Bahasa dalam
Bahasa Manusia
Untuk memahami kenapa simpanse tidak bisa belajar tata bahasa,
perlu juga memahami apa
itu tata bahasa dan kenapa itu penting:
4.1 Tata Bahasa sebagai
Sistem Aturan
Tata bahasa bukan sekadar aturan formal; ini mekanisme
internal yang memungkinkan kita menggabungkan kata-kata menjadi frase dan
kalimat kompleks, memahami konteks, mengatur makna, dan menghasilkan ekspresi
baru yang adhoc. Fitur utama tata bahasa manusia meliputi:
·
Hierarki
Struktur — frase dan klausa dapat diurutkan dan
dimasukkan satu sama lain.
·
Productivity — melalui aturan yang sedikit bisa dibuat kalimat sebanyak mungkin.
– Recursion/Rekursivitas
— kemampuan untuk menanamkan unit linguistik dalam unit yang sama.
4.2 Produktivitas sebagai
Pembeda Utama
Productivity adalah pilar tata bahasa manusia. Misalnya,
seorang anak yang baru belajar bahasa dapat mengubah kata baru seperti “wug” menjadi “wugs” tanpa pernah
mendengar bentuk ini sebelumnya — sesuatu yang tidak pernah terlihat pada
kecakapan simpanse menggunakan sistem tanda atau lexigram.
5. Komunikasi Hewan:
Apakah Ada Jejak Tata Bahasa?
Beberapa peneliti modern menyarankan bahwa sistem komunikasi
primata mungkin memiliki fitur yang lebih kompleks daripada yang kita duga,
seperti kemampuan untuk menggabungkan
suara atau sinyal dalam urutan tertentu. Namun ini masih jauh
dari sistem tata bahasa yang memungkinkan generasi frasa tak terbatas yang
dimiliki manusia.
Sebuah penelitian dengan bonobo menunjukkan bahwa suara bisa
dikombinasikan dan dipelajari, tapi tetap tidak mencapai keproduktifan kreatif
yang ada pada tata bahasa manusia.
6. Implikasi Linguistik
dan Evolusi
Perbedaan kapasitas linguistik antara manusia dan simpanse
menunjukkan bahwa bahasa manusia bukan hanya hasil dari sekadar belajar atau
meniru suara, tapi merupakan adaptasi
kognitif yang sangat khusus yang muncul selama evolusi manusia.
Kapasitas manusia untuk produktif
secara abstrak, merepresentasikan simbol, dan menghasilkan struktur rekursif
menjadikan sistem bahasa manusia unik di antara komunikasi makhluk hidup.
7. Kesimpulan
Meskipun simpanse dan beberapa hewan lain bisa belajar
sejumlah kata, simbol, atau tanda, mereka tidak mampu menguasai tata bahasa manusia
karena keterbatasan dalam:
1. Kognisi abstrak — kemampuan untuk memahami aturan sintaksis yang kompleks.
2. Struktur neurologis — spesialisasi otak yang hanya ditemukan pada manusia.
3. Sistem produktif bahasa — kemampuan menghasilkan kalimat baru secara kreatif.
Perbedaan ini bukan sekadar “kurang latihan”, tetapi merupakan
bukti bahwa bahasa
manusia merupakan sistem komunikasi yang unik secara evolusioner dan kognitif
yang tidak dimiliki oleh hewan, termasuk simpanse.
Daftar Pustaka
·
University of Pennsylvania. (2013,
April 10). Young
children have grammar and chimpanzees don’t. ScienceDaily.
·
Terrace, H. S. (2019). Why chimpanzees can’t learn language
and only humans can. Columbia University Press.
·
Rahman, F., Jannah, H., Maharani,
A., Nazurty, N., & Noviyanti, S. (2023). Analisis
perbedaan bahasa manusia dan sistem komunikasi pada binatang: Kajian teori dan
sejarah. Innovative: Journal Of Social Science Research, 3(5),
3155–3166.
·
Hockett, C.F. (1960). Hockett's design features of
language. Scientific American.
·
Fitch, W.T. (2019). Animal cognition and the evolution
of human language: why we cannot focus solely on communication. Philosophical Transactions of the
Royal Society.
·
KnowAnimals. (n.d.). Can a chimp learn human language?
Exploring animal communication.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar